AES126 La Haine

Aku nonton La Haine tanpa ekspektasi apa-apa. Film ini sering disebut-sebut sebagai karya luar biasa, jadi aku penasaran. Tapi setelah selesai nonton, aku merasa film ini ada di tengah-tengah. Bukan yang langsung jatuh cinta, tapi juga nggak benci.
Kalau ada satu hal yang bikin La Haine patut dibanggakan, itu adalah sinematografinya. Setiap frame terasa enak dipandang, seperti ada komposisi yang sudah dipikirkan matang-matang. Kontras hitam-putihnya bukan sekadar gaya, tapi juga memperkuat atmosfer suram yang ingin disampaikan film ini.
Tapi di balik keindahan visualnya, aku merasa ada sesuatu yang kosong.
Film ini bercerita tentang kemarahan dan ketidakadilan. Tiga karakter utama Vinz, Saïd, dan Hubert hidup di lingkungan yang keras, penuh dengan konflik, dan ketegangan sosial. Mereka bukan pahlawan, bukan penjahat hanya tiga orang yang berusaha mencari tempat di dunia yang seolah tidak peduli.
Masalahnya, buatku film ini terasa terlalu “melihat” daripada “merasakan”. Kita diajak menonton realita yang terjadi di lingkungan kelas bawah Prancis, tapi tanpa benar-benar masuk ke dalamnya. Seolah film ini lebih sibuk menampilkan citra estetis daripada menggali lebih dalam emosinya.
Ada adegan-adegan yang kuat, ada momen-momen yang bikin berpikir tapi setelah film selesai, aku merasa... hampa. Seperti sudah melihat sesuatu yang indah, tapi tidak benar-benar terhubung dengannya.
Jadi, apakah La Haine film yang bagus? Ya, dari sisi teknis dan sinematografi ini luar biasa.
Apakah film ini sempurna? Nggak juga.
Mungkin ini tipe film yang bisa bikin orang terbelah, ada yang merasa ini mahakarya dan ada yang merasa film ini terlalu dingin untuk benar-benar menyentuh hati. Aku sendiri? Aku ada di tengah-tengah.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES197 Pemilu dan Gaya Komunikasi
Halo teman-teman yang budiman,lama rasanya saya tidak bercakap-cakap di sini. Maka pada kesempatan kali ini, izinkan saya menulis sesuatu yang agak berbeda dari biasanya. Bukan soal perjalanan, bukan soal musik, bukan pula soal novel, melainkan tentang pemilu dan gaya komunikasi.Awalnya sederhana s…

AES195 Membahas Sedikit soal Transum Bandung
Tulisan di Ririungan tanggal 3 September 2026Halo teman-teman yang budiman, kali ini saya ingin membagikan sedikit pengalaman menggunakan transportasi umum di Bandung. Dalam rentang tiga hari, saya sudah mencoba dua jenis transportasi umum yang sekarang mulai cukup sering terdengar namanya, yaitu b…

AES194 Jalan-Jalan 2 Minggu Ini
Tulisan di Ririungan tanggal 23 Agustus 2026Halo teman-teman yang budiman, sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis sepatah dua patah kata di sini. Entah kenapa, gairah menulis saya sempat mengalami kekeringan. Bukan karena tidak ada kehidupan yang berjalan, bukan juga karena kepala benar-benar…

