AES126 Smipa: Sekolah Kecil, Kenapa?

Kali ini saya ingin coba menulis sedikit tentang kenapa Semi Palar sejak awal direncanakan sebagai sebuah sekolah kecil. Gagasan awalnya memang sudah begitu - sekedar karena membayangkan kelas yang lebih kecil akan lebih baik dalam proses pembelajaran di kelas. Guru akan lebih kenal muridnya. Itu saja, sederhana alasannya.
Waktu membuat hitung-hitungan awal, Semi Palar direncanakan dengan 24 murid dalam satu kelas. Kenapa 24, karena jumlah ini enak untuk membagi kelompok. Dibagi dua akan ada 2 kelompok dengan 12 anak, bisa dibagi 3, bisa dibagi 4, bisa dibagi 6 kelompok dengan masing-masing 4 anak... Ruang kelas akan diisi meja dengan 6 baris dan 4 kolom. Kira-kira begitu. Dalam itung-itungan pembiayaan, jumlah ini juga masuk dalam kalkulasi finansialnya.
Begitulah Semi Palar digulirkan - dengan bayangan skala kelas yang seperti itu. Sampai di suatu titik, kami belajar sesuatu yang lebih mendasar. Saya membaca buku The Tipping Point karya Malcolm Gladwell. Buku yang sangat menarik. Malcolm Gladwell adalah salah satu penulis yang saya sukai. Di dalam salah satu babnya dia bercerita bahwa manusia punya kapasitas terbatas dalam menjalin relasi psikologis yang intens dalam satu waktu. Orang-orang yang hebat bisa punya relasi dekat dengan 15 orang sekaligus. Tapi rata-rata, manusia pada umumnya hanya punya kapasitas untuk menjalin relasi psikologis yang dekat dengan 10-12 orang saja. Tidak banyak ya? Membaca ini saya langsung berpikir ulang terhadap apa yang direncanakan. 24 murid dalam satu kelas sepertinya terlalu ambisius. Dalam konteks Rumah Belajar, yang butuh koneksi yang kuat antara kedua kakak juga dengan semua anak di kelas, 24 murid dalam satu kelas terasa jadi jumlah yang besar. Akhirnya di sekitar tahun ke tiga, kami memutuskan bahwa jumlah murid di kelas, maksimal akan terdiri dari 20 anak. Dengan dua orang kakak, kita akan mendapatkan rasio 1 : 10. Angka yang cukup ideal bagi guliran pembelajaran di Smipa.
Lebih jauh lagi, Malcolm Gladwell juga menuliskan tentang bagaimana sebuah komunitas bisa terjaga kedekatannya. Ternyata ada jumlah maksimal juga di sana. Dia bilang jumlahnya adalah sekitar 250 - 300 orang. Dalam jumlah tersebut, sebuah komunitas bisa berinteraksi tanpa terlalu banyak ada aturan atau sanksi. Singkat kata, komunitas bisa membangun sebuah kultur dan bertumbuh dalam nilai-nilai yang dibangun bersama. Lebih banyak dari itu, ibarat gaya gravitasi, ikatan akan semakin lemah dan akhirnya komunitas tersebut akan butuh banyak aturan dan sanksi... Ga asik kan? Jadi ya kira-kira begitulah ceritanya kenapa Semi Palar memang direncanakan sebagai sebuah sekolah - komunitas yang jumlah warganya terbatas.
Photo by Adrian Curiel on Unsplash
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES429 Bis Sekolah?
Tulisan ini terinspirasi saat teman-teman K7 kembali dari Perjalanan Kecil beberapa waktu lalu. Dua buah angkot warna biru yang kita sewa masuk area parkir dan menurunkan anak-anak sekembali dari perjalanan tersebut. Saya sempat memotret salah satu angkot seusai mengantarkan anak-anak di area parki…

AES149 Aki Muhidin
"Pak Andy, apa yang bapak sampaikan tadi mendalam sekali ya. Walaupun sederhana tapi sangat dalam". Di sesi penutupan DikLat yang lalu, seorang rekan Kepala Sekolah menghampiri saya dan menyampaikan hal ini. Iya pak, saya respon. Kenapa saya sampai mengungkapkan kata-kata Aki Muhidin dalam kesempat…

AES944 The God Code : Biologi yang Sakral
Ini salah satu tulisan terkait bagaimana pengelolaan Kurikulum Holistik. Pembelajaran Holistik bukan sekedar pendekatan belajar yang berbeda - tapi ada perbedaan mendasar dari cara pandang dan tentunya juga hal-hal yang menjadi penting atau esensial difasilitasikan kepada anak-anak kita yang dalam…
