AtomicEssay

AES128 Berpuasa

Sanyapenulis arsip3

Bagiku berpuasa memiliki makna yang luas, tak sekedar menahan lapar dan haus saja. Menariknya saat berpuasa secara tersurat kita mencegah sesuatu masuk ke dalam tubuh lewat mulut, tersiratnya kita juga mencegah sesuatu keluar dari dalam tubuh lewat mulut. Tidak boleh makan dan minum karena membatalkan, tidak boleh mengumpat atau mengeluarkan kata-kata tidak baik lainnya karena ‘dilarang’.

Berpuasa katanya menahan nafsu, padahal nafsu sendiri berasal dari bahasa arab jika diartikan dalam bahasa indonesia artinya jiwa. Jiwa mana yang harus ditahan? Jiwa sendiri dibagi menjadi tiga bagian:

Jiwa amarah, dorongan melakukan perilaku negatif bersifat destruktif keluar diri. Jiwa yang tersesat. Dikuasai oleh amarah meluapkan lewat perkataan kurang baik, perilaku merusak sekitarnya seperti boros, tamak, dengki, egois. Menggebu-gebu menggapai puncak tak berkesudahan. Menggapai langit demi langit, merasa tinggi namun abai semua semakin nampak kecil bagi yang lain. Menjauh tak terkendali.

Jiwa lawamah, dorongan melakukan perilaku negatif bersifat kedalam diri. Jiwa yang terbelenggu. Dikuasai oleh rasa rendah diri meluapkan lewat ketidakpercayaan diri, perilaku merusak dirinya seperti cemas, takut, ragu, sedih, putus asa, menyalahkan diri sendiri secara berlebihan. Tenggelam dalam lubang tanpa dasar, makin gelap dan semakin jauh dari cahaya. Lubang yang digali semakin jauh ke dasar, pikiran yang sempit sulit menghentikan diri menggali lebih dalam.

Jiwa mutmainnah, bukanlah keduanya melainkan kebalikan dari kedua jiwa sebelumnya. Jiwa yang tenang. Jiwa yang telah menemukan kesadaran, keberadaan, dan tujuan hidupnya sendiri. Jiwa yang telah berserah menerima kehidupan yang sedang dijalaninya, sabar dalam jalan berprosesnya, selalu bersyukur atas karunia yang diberikan. Nyaman dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Menerima semua keadaan baik dan buruk, bahagia dan sedih. Mendekap erat diri dalam ketenangan.

Dari sana kita dapat menyadari bahwa sebagai manusia, yang diberikan akal sebagai penyempurna diantara makhluk lainnya, kita diberi kesadaran untuk merasa cukup. Tak berlebihan, tak kekurangan selalu menjaga jiwa pada garis nol. 

Bulan suci menjadi pengingat dari sebelas bulan lainnya. Mengembalikan grafik fluktuatif pada garis netralnya. Sebagai momen pengingat, mengkalibrasi diri kembali ke garis nolnya. Kembali kepada jiwa yang tenang.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES158 Santai

Bukan kebetulan. Katanya memang semua sudah terencana apik. Saking halusnya sampai terlihat seperti sebuah kebetulan. Ternyata sudah tepat 6 bulan aku terakhir menulis. Waktu itu juga sedang santai, pagi menjelang siang saat rutin pagiku sudah selesai dan entah kenapa rasanya santai. Aku mulai memb…

Sanya32
AtomicEssay

AES157 Januari

Akhir-akhir ini cuaca memang syahdu. Suhu udara menurun, angin mengencang, hujan menderas dan langit menggelap. Matahari yang sebelumnya terasa terik dan perkasa perlahan melembut bersembunyi di balik awan tebal yang siap menghadang cahayanya seakan berujar, “Seterang apapun cahayamu ada saatnya ka…

Sanya21
AtomicEssay

AES156 Hujan

Sudah beberapa hari belakangan siang menjelang sore, cahaya cerah matahari perlahan tertutup awan. Lewat tengah hari hawa menjadi lebih dingin, langit kelabu, seakan sore datang lebih cepat. Tak berapa lama hujan datang, intensitas nya tak menentu bisa gerimis kecil atau hujan lebat. Aku sudah lama…

Sanya20