AES128 Hujan, Apakah Kau Menangis (Puisi)

Hujan, kau tampak sedih rupanya.
Siang hingga malam, kau basahi Bandung.
seperti air mata yang tak kunjung kering di pipi langit.
Apa yang membuatmu menitikkan duka?
Apakah ibu pertiwi sudah tak peduli?
Atau manusia telah lupa caranya mendengar rintikmu?
Dulu, kau datang membawa sejuk.
menghidupkan tanah yang haus.
menjadi nyanyian bagi daun-daun yang berbisik.
Kini, kau datang dengan deras yang bising.
membawa arus yang menelan jalan.
menggenangi kota dengan nestapa.
Hujan, apakah kau menangis karena rindu?
Rindu pada bumi yang dulu memelukmu lembut.
bukan yang kini membendungmu dengan rakus?
Jika iya, menangislah sepuasmu.
hingga langit lelah meratap.
hingga manusia sadar bahwa air matamu
adalah amarah yang mereka ciptakan sendiri.
Komentar (1)
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:
AES012 - Puisi Picisan di Ngobras 18-6-26
Ini sebenarnya puisi waktu sy utlah kemarin2, tapi dipikiri2 ok juga dibagikan dibacakan ^^. Ada perubahan dari versi awalnya, semoga ternikmati ya ^^. Masuki tahun pelajaran yang entah ke berapa...Memang sedih nyatanya bertambah tuaNamun senang mengarung beramai riaMenerus belajar serasa kembali m…

AES872 What I Wish for You
Posting ini bakalan singkat. Saya hanya ingin menyimpankan satu puisi yang bagus banget di mata saya. Satu puisi yang saya temukan saat mendengarkan salah satu konten dari kanal favorit saya. Salah satu yang the best. Tema-temanya selalu mendalam, sosok-sosoknya penuh jiwa dan kontennya penuh makna…

Dua Puisi Selametan TP-21
Mekarlah, Mekar bersama-sama, kita menghadap sama rendah dengan penuh kerendahan sukma, berlindung di bawah mendung yang masih canggung. pada satu lembah, pada satu lembar hari yang berulang, kita coba menerka, apa arti pulang, jika kita tak lagi bisa memaknai hangat rumah yang membesarkan kita. se…


