AtomicEssay

AES129 Menahan Diri

Sanyapenulis arsip3

Lagi, masih tentang berpuasa. Meneruskan refleksi ramadhan kemarin, pulang ke rumah jalanan sekitar penuh dengan berbagai macam penjual makanan dadakan yang muncul hanya saat bulan ramadhan. Kanan kiri jalan sudah tak terhitung berapa banyak penjual makanan yang memenuhi jalan, dari depan ruko sampai beberapa lapis pedagang berjejer berhimpitan dengan pembeli. Suasana sangat ramai, pejalan kaki memenuhi jalanan, kendaraan roda dua saja sudah kesulitan bergerak apalagi kami yang berada dalam mobil. Laju kendaraan terhenti, memaklumi suka cita sore menjelang waktu berbuka puasa. Dari dalam kami ikut menikmati suasana bahagia itu.

Fajrin kemudian ikut terbawa suasana, "Kita jajan juga yuk?". Godaan menuju akhir waktu berbuka memang sulit. Antara cukup dengan bekal makanan yang sudah kami bawa atau ikut memeriahkan pesta takjil yang meriah di luar batas dinding besi tipis ini. Jika mengikuti naluri otak kedua, sudah pasti kami akan berusaha menepi mencari parkir meskipun peluangnya kecil atau turun dari mobil dan ikut berjalan bersama para pencari takjil lainnya dan membiarkan mobil tetap pada tempatnya. Urusan perut kosong semua cara dapat dilakukan untuk memuaskan rasa itu. Tapi bukankah ujian berpuasa baru dimulai saat ini? Saat Otak kedua mulai mengambil alih keputusan otak utama?

Kami memutuskan untuk tetap duduk dibalik dinding besi ini. Menikmati keseruan jual beli diluar tanpa ikut memeriahkan sesuai kata-kata, senang melihat orang lain bahagia. Rasanya perasaan lapar mata kami sudah terpuaskan. Sadar bahwa bekal makanan yang sudah kami bawa sudah cukup untuk membuat kami bersyukur hari ini, tak perlu melebihkan.

Menurut kami berpuasa esensinya bukan menahan lapar atau memundurkan jam makan, namun menghapus satu waktu makan. Menghapus waktu makan siang lebih tepatnya. Jika berpikir seperti itu maka waktu berbuka puasa akan sama saja dengan waktu makan malam, tak kurang tak lebih. Bisa dilihat bagaimana kebalikannya, semua akan berlomba menambah jumlah porsi makan dalam waktu berbuka. Dari sisi medis tentu perilaku seperti itu berbahaya bagi tubuh yang telah beristirahat selama belasan jam ibarat membangunkan orang untuk langsung berlari cepat jarak dekat.

Lalu kemana perginya satu waktu makan yang hilang tadi? Cukup ikhlaskan berbagi porsi makan pada orang yang lebih membutuhkan. Dua kali waktu makan selama satu bulan merupakan ikhtiar berempati pada saudara kita yang lain yang sudah sebelas bulan memiliki dua bahkan satu kali waktu makan. Bulan ini biarlah mereka yang merasakan memiliki dua atau tiga waktu makan. Cukup bagi diriku, cukup bagi mereka yang membutuhkan.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES158 Santai

Bukan kebetulan. Katanya memang semua sudah terencana apik. Saking halusnya sampai terlihat seperti sebuah kebetulan. Ternyata sudah tepat 6 bulan aku terakhir menulis. Waktu itu juga sedang santai, pagi menjelang siang saat rutin pagiku sudah selesai dan entah kenapa rasanya santai. Aku mulai memb…

Sanya32
AtomicEssay

AES157 Januari

Akhir-akhir ini cuaca memang syahdu. Suhu udara menurun, angin mengencang, hujan menderas dan langit menggelap. Matahari yang sebelumnya terasa terik dan perkasa perlahan melembut bersembunyi di balik awan tebal yang siap menghadang cahayanya seakan berujar, “Seterang apapun cahayamu ada saatnya ka…

Sanya21
AtomicEssay

AES156 Hujan

Sudah beberapa hari belakangan siang menjelang sore, cahaya cerah matahari perlahan tertutup awan. Lewat tengah hari hawa menjadi lebih dingin, langit kelabu, seakan sore datang lebih cepat. Tak berapa lama hujan datang, intensitas nya tak menentu bisa gerimis kecil atau hujan lebat. Aku sudah lama…

Sanya20