AES131 - Desentralisasi Layar
Akhir-akhir ini aku menyadari seberapa banyak hidupku dihabiskan di depan layar bercahaya. Aku bangun tidur, merentangkan tangan ke samping ranjang, meraba HP dan melihat jam dan notifikasi hari itu. Aku sarapan sambil melihat HP, menjawab pesan, menonton video. Aku pergi ke tempat magangku dan menghabiskan sepanjang hari di depan laptop mengerjakan penugasan, kemudian pergi ke tempat bimbel jam empat sore. Di sana, mengajar tidak lagi menggunakan papan tulis fisik. Yang digunakan adalah tablet yang disambungkan pada TV di tembok, sehingga hasil catatannya bisa di-upload ke drive bersama agar kita bisa mengakses catatannya secara digital, kapanpun, di manapun. Lalu aku pulang, main HP sebelum tidur. Besok pagi semuanya terulang lagi.
Seminggu mulai magang, aku mulai menyadari betapa melelahkannya terus menatap layar itu. Maka aku mulai menguranginya. Aku meminimalisir penggunaan HP, berhenti membuka HP begitu bangun tidur, berhenti menghabiskan waktu scrolling. Tapi di zaman sekarang sulit sekali menghindari layar secara total. Bagaimanapun, banyak pekerjaan yang harus dilakukan secara digital. Tugas-tugas yang diberikan bagiku di tempat magang harus dilakukan di laptop. Dan memang teknologi membuat segalanya menjadi mudah. Kita bisa membagikan file dengan cepat dan praktis, mengatur format, mencari kata kunci, menjalankan perhitungan. Tapi mataku lelah sepanjang hari, terasa berat dan kaku kalau digerakkan, terpapar sinar terus-menerus. Jadi, jika aku punya tugas berupa bacaan, aku mencetaknya pada kertas. Jika aku perlu mencatat sesuatu, aku menempelkan sticky note di tempat yang sering kulihat.
Hal lain yang kulihat sulit dihindari di keseharian adalah AI. Kalau kita mencari sesuatu di google, rangkuman AI akan otomatis muncul di paling atas. Semua iklan saat menonton YouTube adalah iklan AI. Ibuku sering menunjukkanku "film-film bagus" yang sebenarnya hasil generasi AI. Wajah-wajah orang banyak terlihat seperti AI. Tulisan-tulisan orang banyak terbaca seperti AI. Apakah itu karena tulisan itu buatan AI? Atau karena mereka terlalu banyak membaca tulisan AI sehingga tulisan mereka mencerminkannya?
Masalahnya lagi, tidak semua orang terlatih untuk membedakan mana AI mana bukan, jadi lebih banyak orang bisa menyelipkan karya yang bukan miliknya sebagai miliknya. Aku tidak sepenuhnya menolak AI: aku menggunakannya untuk mengerjakan soal matematika yang sulit. Tapi aku memastikan aku tidak membiarkannya menumpulkan pikiranku. Aku minta diajarkan langkah per langkah agar aku bisa berpikir sendiri. AI berbahaya karena kita jadi terbiasa membiarkan otak kita jadi konsumen, bukan produsen. Bahkan, kurang dari konsumen, konsumen pasif.
Perkembangan teknologi itu berguna untuk manusia. Kalau dimanfaatkan dengan baik, bisa membantu banyak hal. Tapi kita harus tetap hati-hati untuk mengingat bahwa ada dunia di luar layar, di luar rangkuman AI. Yang menjadikan kita manusia adalah kemampuan kita merasa, berpikir, berkreasi. Kita tidak bisa membiarkan kreasi kita sendiri mengambil itu dari kita.
p.s. aku sudah selesai mengerjakan tugas dari magang & sedang istirahat jadi mengisi waktu dengan menulis ini

Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES130 - MPLS 3: Mulai
Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

AES129 - MPLS Day 2: Konstan
Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB
Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…
