AES131 Surat Cinta

Menulis surat cinta? Waduh kalau diingat-ingat sepertinya belum pernah kulakukan, menulis saja baru terbiasa baru-baru ini apalagi menulis surat? Surat elektronik saja hanya menempelkan berkas nah ini surat cinta pula. Nol, zero.
Beberapa waktu kemarin kakak menugaskan kami para orang tua untuk membuat surat cinta untuk anak-anak yang akan melaksanakan kemping di sekolah. Suratnya akan dibaca saat kemping nanti. Indah ya romantis sekali, namun untukku ini adalah suatu tantangan karena aku bukan orang yang mudah mengungkapkan cinta dalam bentuk kata-kata dan tulisan tanganku jelek. Bahkan kata Sei kakak pun kadang kesulitan membaca komentarku pada kertas tantangan hahaha
Tidak ada yang sulit, aku hanya belum terbiasa baiklah kukerjakan surat cintaku mengalahkan dua rintangan.
Menuliskan kalimat pertama aku masih baik-baik saja, malah terlalu fokus menjaga ritme tulisan tetap terbaca mengingat tulisan ini akan dibacakan pada malam hari kasihan Sei kalau harus membaca sambil menyerengitkan alis. Cintanya berganti dengan teka-teki.
Kalimat kedua aku mulai lancar, menulis rasanya mulai mengalir dalam surat. Mengalirkan kasih sayang yang dirasakan dalam bentuk tulisan. Tampak kepingan-kepingan kecil yang terlintas dalam benak pikiran saat menulisnya. Sei yang baru lahir, minum susu hangat, berlarian mengejar kucing, ah waktu cepat sekali berlalu saat ini dia sudah besar, bukan anak kecil berambut mangkok itu lagi.
Kalimat-kalimat berikutnya aku tersadar, masih banyak hal yang ingin kuutarakan dalam surat namun batas kertas mengingatkanku tentang arti cukup. Menuliskan semua perasaanku belum tentu diartikan sama oleh Sei, bisa saja dia merasa terbebani dengan panjangnya tulisanku. Cerita yang indah menurutku belum tentu diterima dengan rasa excited yang sama. Mungkin bacaan panjangnya membuatnya lelah, mungkin tulisanku yang keriting itu malah membuatnya kesulitan membaca, mungkin saat membaca dia sudah lelah sehingga maksud dan perasaanku tidak tersampaikan.
Kucukupkan surat cintaku satu halaman saja, dibubuhkan gambar-gambar kecil seperti gambaran miliknya. Dibuat semenarik mungkin berharap rasa kasih dalam tulisanku terasa hangat saat Sei membacanya.
I love you Sei, bigger than the sun.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES158 Santai
Bukan kebetulan. Katanya memang semua sudah terencana apik. Saking halusnya sampai terlihat seperti sebuah kebetulan. Ternyata sudah tepat 6 bulan aku terakhir menulis. Waktu itu juga sedang santai, pagi menjelang siang saat rutin pagiku sudah selesai dan entah kenapa rasanya santai. Aku mulai memb…
Sanya32
AES157 Januari
Akhir-akhir ini cuaca memang syahdu. Suhu udara menurun, angin mengencang, hujan menderas dan langit menggelap. Matahari yang sebelumnya terasa terik dan perkasa perlahan melembut bersembunyi di balik awan tebal yang siap menghadang cahayanya seakan berujar, “Seterang apapun cahayamu ada saatnya ka…
Sanya21
AES156 Hujan
Sudah beberapa hari belakangan siang menjelang sore, cahaya cerah matahari perlahan tertutup awan. Lewat tengah hari hawa menjadi lebih dingin, langit kelabu, seakan sore datang lebih cepat. Tak berapa lama hujan datang, intensitas nya tak menentu bisa gerimis kecil atau hujan lebat. Aku sudah lama…
Sanya20