AtomicEssay

AES136 Alert

Sanyapenulis arsip2

Masalah jam tidur selama bulan Ramadhan memang memberikan dinamika tersendiri apalagi untuk anak-anak yang masih bertumbuh, sedikit kesulitan beradaptasi adalah hal wajar. Tak terkecuali dialami si sulung yang cerewet itu. Hari ini dia merasakan keindahan dari disiplin diri yang terbangun baik. Sebuah kepahitan yang berbuah manis.

Pagi ini dia masuk ke dalam kamarku sambil menangis. Dia terlambat bangun. Bukannya bersiap lebih cepat dia malah memintaku untuk meliburkan dia. Dalam keadaan intens sudah sewajarnya dia lari dari masalah namun bukan itu kan solusinya bagaimanapun aku harus meyakinkan dia untuk menghadapi masalah dan menerima konsekuensinya.

Kuhapus air matanya, kuminta dia untuk bernapas, untuk menenangkan diri. "Yang kamu butuhkan sekarang adalah tenang dan berpikir jernih, simpan emosimu biarkan otakmu berpikir bahwa kita masih punya waktu bersiap." Tangisannya berhenti sepertinya sihirku berhasil, akan kulanjutkan mantra berikutnya. Sambil mengepang rambutnya kuminta dia menyilangkan kaki dan melakukan waktu hening. Pada ikatan terakhir aku menghitung mundur dan seketika dia beranjak kembali ke kamarnya untuk bersiap.

Tidak sampai 15 menit sejak tangisan tadi sekarang kami sudah berada di mobil berkendara menuju sekolah. Selama perjalanan dia nampak tenang, malah bersantai membaca buku seakan tidak terjadi apa-apa sebelumnya hahaha dasar anak-anak. Kuminta perhatiannya, menaruh kembali buku kedalam tasnya dan mulai mengobrol.

Apa yang kakak rasakan sekarang?

Tenang. Terima kasih ya Ibu sudah buat aku tenang. Sambil tersenyum sampai matanya hilang

Berterima kasihlah pada diri kakak yang sudah mengijinkan untuk tenang, kalau tidak mungkin kita masih di rumah sambil marah-marah kan?

Iya, tapi makasih ya Bu sudah percaya sama aku.

Inilah kenapa kakak perlu disiplin. Coba kalau tadi malam belum menyiapkan tas dan pakaian. Tidur terlambat. Belum mandi setelah sahur, mengelap kacamata, menyiapkan ikat rambut dan sisir. Perlu waktu berapa lama, akhirnya tadi kita mengurangi waktu berapa lama untuk bersiap?

Sebentar banget, tiba-tiba tadi beres kita bisa langsung berangkat.

Nah itu gunanya disiplin, saat situasi tidak berjalan seperti biasa kakak sudah punya persiapan jadi ga ada tuh buang waktu. Disiplin itu membeli ketenangan. Sekarang ga akan ngeremehin lagi kan bilang siap-siapnya bisa nanti aja?

Ga akan Bu, aku maaf banget makasih udah ingetin aku terus.

Setelah sampai sekolah dia memelukku erat, tersenyum dan pergi menuju kelasnya. Terlambat? tidak. Dia masih memiliki cukup waktu untuk mengerjakan tugas piketnya. Menenangkan hatinya selama diperjalanan. Mendapat pelajaran berharga dari bangun kesiangannya. Hasil akhirnya ya win-win untuk kami berdua, sudah lama juga aku tidak mengantar dia pagi-pagi.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES158 Santai

Bukan kebetulan. Katanya memang semua sudah terencana apik. Saking halusnya sampai terlihat seperti sebuah kebetulan. Ternyata sudah tepat 6 bulan aku terakhir menulis. Waktu itu juga sedang santai, pagi menjelang siang saat rutin pagiku sudah selesai dan entah kenapa rasanya santai. Aku mulai memb…

Sanya32
AtomicEssay

AES157 Januari

Akhir-akhir ini cuaca memang syahdu. Suhu udara menurun, angin mengencang, hujan menderas dan langit menggelap. Matahari yang sebelumnya terasa terik dan perkasa perlahan melembut bersembunyi di balik awan tebal yang siap menghadang cahayanya seakan berujar, “Seterang apapun cahayamu ada saatnya ka…

Sanya21
AtomicEssay

AES156 Hujan

Sudah beberapa hari belakangan siang menjelang sore, cahaya cerah matahari perlahan tertutup awan. Lewat tengah hari hawa menjadi lebih dingin, langit kelabu, seakan sore datang lebih cepat. Tak berapa lama hujan datang, intensitas nya tak menentu bisa gerimis kecil atau hujan lebat. Aku sudah lama…

Sanya20