AES136 Alert

Masalah jam tidur selama bulan Ramadhan memang memberikan dinamika tersendiri apalagi untuk anak-anak yang masih bertumbuh, sedikit kesulitan beradaptasi adalah hal wajar. Tak terkecuali dialami si sulung yang cerewet itu. Hari ini dia merasakan keindahan dari disiplin diri yang terbangun baik. Sebuah kepahitan yang berbuah manis.
Pagi ini dia masuk ke dalam kamarku sambil menangis. Dia terlambat bangun. Bukannya bersiap lebih cepat dia malah memintaku untuk meliburkan dia. Dalam keadaan intens sudah sewajarnya dia lari dari masalah namun bukan itu kan solusinya bagaimanapun aku harus meyakinkan dia untuk menghadapi masalah dan menerima konsekuensinya.
Kuhapus air matanya, kuminta dia untuk bernapas, untuk menenangkan diri. "Yang kamu butuhkan sekarang adalah tenang dan berpikir jernih, simpan emosimu biarkan otakmu berpikir bahwa kita masih punya waktu bersiap." Tangisannya berhenti sepertinya sihirku berhasil, akan kulanjutkan mantra berikutnya. Sambil mengepang rambutnya kuminta dia menyilangkan kaki dan melakukan waktu hening. Pada ikatan terakhir aku menghitung mundur dan seketika dia beranjak kembali ke kamarnya untuk bersiap.
Tidak sampai 15 menit sejak tangisan tadi sekarang kami sudah berada di mobil berkendara menuju sekolah. Selama perjalanan dia nampak tenang, malah bersantai membaca buku seakan tidak terjadi apa-apa sebelumnya hahaha dasar anak-anak. Kuminta perhatiannya, menaruh kembali buku kedalam tasnya dan mulai mengobrol.
Apa yang kakak rasakan sekarang?
Tenang. Terima kasih ya Ibu sudah buat aku tenang. Sambil tersenyum sampai matanya hilang
Berterima kasihlah pada diri kakak yang sudah mengijinkan untuk tenang, kalau tidak mungkin kita masih di rumah sambil marah-marah kan?
Iya, tapi makasih ya Bu sudah percaya sama aku.
Inilah kenapa kakak perlu disiplin. Coba kalau tadi malam belum menyiapkan tas dan pakaian. Tidur terlambat. Belum mandi setelah sahur, mengelap kacamata, menyiapkan ikat rambut dan sisir. Perlu waktu berapa lama, akhirnya tadi kita mengurangi waktu berapa lama untuk bersiap?
Sebentar banget, tiba-tiba tadi beres kita bisa langsung berangkat.
Nah itu gunanya disiplin, saat situasi tidak berjalan seperti biasa kakak sudah punya persiapan jadi ga ada tuh buang waktu. Disiplin itu membeli ketenangan. Sekarang ga akan ngeremehin lagi kan bilang siap-siapnya bisa nanti aja?
Ga akan Bu, aku maaf banget makasih udah ingetin aku terus.
Setelah sampai sekolah dia memelukku erat, tersenyum dan pergi menuju kelasnya. Terlambat? tidak. Dia masih memiliki cukup waktu untuk mengerjakan tugas piketnya. Menenangkan hatinya selama diperjalanan. Mendapat pelajaran berharga dari bangun kesiangannya. Hasil akhirnya ya win-win untuk kami berdua, sudah lama juga aku tidak mengantar dia pagi-pagi.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES162 Homonim
Menurutku belajar bahasa indonesia cukup sulit. Tingkat kesulitannya lebih tinggi dibanding bahasa inggris. Apalagi kita, orang indonesia negara kepulauan, negara kesukuan. Memang keragaman ini melekat menjadi identitas kita.Nah aku jadi dapat ide menulis ringan seputar bahasa yang kita sering paka…

AES161 Refleksi Pagi di Festlit
Jujur saja saat dihadapkan dengan banyak pilihan kita akan lebih banyak bingung namun dengan sedikit atau bahkan tanpa pilihan kita menjadi resah juga artinya apapun kondisinya kita semua cenderung mengeluh. Begitukah manusia?Setiap hari kita dihadapkan dengan berbagai pilihan. Dari mulai bangun ti…

AES160 Pertanyaan Akhir Pekan
Izinkan aku bertanya satu pertanyaan pada penghujung akhir pekan ini.Apa yang membuatmu bahagia hari ini?Jika aku yang mendapat pertanyaan tersebut maka aku akan berpikir sejenak lalu memutar ulang singkat apa yang aku lakukan semenjak pagi hari tadi hingga sekarang pada saat mengetik, lalu aku aka…
