AES#136 Memaknai

Perjalanan sering mempertemukan kita dengan seseorang. Seseorang yang awalnya tidak tahu siapa, ternyata bisa menjadi seseorang yang menemani, bahkan menjadi teman hidup. Entah apa yang dunia inginkan, dua orang saling bertemu dan membuat kisah baru bersama. Namun perjalanan tidak selalu mulus, ada saatnya harus berpisah dan melanjutkan hidupnya masing-masing terlebih dahulu, kemudian kembali dengan kesiapannya. Tapi apakah kesendirian ini akan membawa mereka kembali, untuk bersatu dan menjalani hidup bersama?
Kukira kita akan kembali, melanjutkan kisah ini bahkan membuatnya menjadi buku yang siap kita bagikan kepada orang lain, sebagai bentuk kenangan akan perjalanan kita. Aku kira, kita bisa melalui semua permasalahan dan kendala yang dialami, membangun hubungan yang lebih kuat..
Namun, kenapa akhir ceritanya seperti ini? Berakhir tak seperti yang kita inginkan. Katanya sih waktu bisa menyembuhkan, tapi kenangan tidak bisa dilupakan bukan? Akan ada lagi kah yang sepertimu? Entah, mungkin dunia memberitahuku, bahwa cinta tak selamanya berakhir indah, tak selamanya sama dan tak selamanya bersama.
Komentar (1)
Itulah hidup... Belajarlah semakin dewasa, tidak selalu bisa mewujudkan apa yang kita pikirkan & inginkan...
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES514 Memaknai Kebuntuan
Kalau sebelumnya saya menulis tentang Merangkai Makna Kehidupan, kebuntuan juga merupakan bagian dari proses kehidupan kita. Semi Palar juga sebetulnya lahir dari sebentuk kebuntuan yang kami alami saat Inka (anak saya yang sulung) mengalami kendala - mogok sekolah) sewaktu duduk di Kelompok Bermai…

AES506 Merangkai Makna Kehidupan
Kalau ada yang memperhatikan, kata-kata yang saya tuliskan di profil WA saya berbunyi "Everything Happens for a Reason". Sebuah credo yang saya yakini sudah lama, sejak saya mulai membaca buku buku yang genrenya Spiritualitas seperti karya²nya James Redfield, Paulo Coelho, Dan Millman (Peacefull Wa…

AES503 Makna Keluarga
Masih nyambung dengan esai saya sebelumnya yang judulnya Peristiwa Keluarga. Waktu menunjukkan waktu sekitar jam delapan malam. Hujan mulai turun rintik-rintik dan menggugah kami yang duduk-duduk di luar naungan atap untuk beranjak. Kakak-kakak yang kumpul di meja batu di samping rumah kayu Suka Am…


