AES140 Buka Bersama

Acara buka bersama keluarga kelas memang selalu mengundang cerita. Hampir semua anggota keluarga menyempatkan hadir, termasuk kakak. Biasanya kami hanya bertemu sebentar di sekolah malah ada yang jarang bertemu karena padatnya jadwal kegiatan. Kali ini kami bertemu berbagi cerita dan tawa, anak-anak tentu saja bermain dengan asyik seperti perpanjangan waktu dari sekolah. Berpuasa bukan halangan bagi mereka untuk bersenang-senang.
Ditengah momen indah ini selalu tersimpan cerita seru. Tepat saat adzan magrib berkumandang, tak sampai hitungan detik layaknya jentikan jari listrik padam. Gelap total pada tegukan pertama air masuk kedalam kerongkongan. Suasana mendadak ramai, pengunjung bersorak, para pramusaji bergegas mengambil lilin sebagai penerangan darurat. Masalahnya jumlah lilin tak sebanding dengan jumlah meja yang terisi. Kami harus makan dalam keadaan minim cahaya. Seru bukan?
Bukan manusia namanya kalau tidak tangkas menangkal situasi darurat. Apalagi dalam keadaan lapar. Napsu makan yang membuncah mengirim sinyal ke otak untuk merespon cepat. Apapun keadaanya perut harus terisi, bagaimanapun caranya.
Ada yang mengeluarkan lampu darurat, entah bagaimana dia beruntung membawa perbekalan yang cukup untuk menanggulangi situasi tersebut.
Ada yang menyalakan senter dari hp nya namun menyilaukan dan tak cukup terang. Bagaimanapun senter hp tidak memiliki lumen yang tinggi dan memiliki reflektor yang memadai. Lagipula tak semua hp memiliki daya yang cukup pada penghujung hari seperti ini.
Ada yang berinovasi meletakkan gelas air diatas senter hp. Ini langkah meng counter cara sebelumnya agar sebaran cahaya lebih baik. Difusi cahaya menjadi lebih nyaman untuk mata yang sedang beradaptasi dalam gelap.
Ada yang melanjutkan makan seperti tidak terjadi apa-apa. Beradaptasi dengan keadaan dan melanjutkan makan. Perubahan situasi yang mendadak tidak mengurungkan niat untuk melepas lapar.
Ada yang keluar untuk salat. Menunda makan, melanjutkan ibadah sembari berharap setelahnya listrik kembali mengalir dan dapat makan dalam keadaan normal.
Dalam situasi seperti itu, kami menjalani adaptasinya masing-masing dengan atau tanpa bantuan penerangan kami melanjutkan jalan untuk mengisi perut. Itulah hebatnya manusia, dalam keadaan lapar kami selalu punya cara untuk mengisi perut. Bagaimanapun caranya.
Agaknya hikmah puasa hari ini membawaku pada situasi diluar keadaan buka bersama yang kami alami tadi. Situasi tadi mirip dengan keadaan sekarang, dalam keadaan ‘gelap’ kami tetap mencari cara untuk makan. Memastikan senyum ceria anak-anak tetap hadir dalam hari-hari kami, memastikan canda tawa dari cerita-cerita kami tetap hidup untuk menghibur kami. Sekedar memastikan bahwa kami tetap bersatu, menjalani kegelapan ini bersama-sama, mencari penerangan dengan cara kami masing-masing. Berharap penerangan yang kami upayakan dapat menyinari yang lain. Bersama yakin suatu saat keadaan ‘normal’ akan kembali pada kami para pejuang pengisi perut yang sedang berpuasa, menunggu waktu berbuka.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES162 Homonim
Menurutku belajar bahasa indonesia cukup sulit. Tingkat kesulitannya lebih tinggi dibanding bahasa inggris. Apalagi kita, orang indonesia negara kepulauan, negara kesukuan. Memang keragaman ini melekat menjadi identitas kita.Nah aku jadi dapat ide menulis ringan seputar bahasa yang kita sering paka…

AES161 Refleksi Pagi di Festlit
Jujur saja saat dihadapkan dengan banyak pilihan kita akan lebih banyak bingung namun dengan sedikit atau bahkan tanpa pilihan kita menjadi resah juga artinya apapun kondisinya kita semua cenderung mengeluh. Begitukah manusia?Setiap hari kita dihadapkan dengan berbagai pilihan. Dari mulai bangun ti…

AES160 Pertanyaan Akhir Pekan
Izinkan aku bertanya satu pertanyaan pada penghujung akhir pekan ini.Apa yang membuatmu bahagia hari ini?Jika aku yang mendapat pertanyaan tersebut maka aku akan berpikir sejenak lalu memutar ulang singkat apa yang aku lakukan semenjak pagi hari tadi hingga sekarang pada saat mengetik, lalu aku aka…
