AES144 terganggu

Raut wajahnya mendadak berubah, sorot matanya terlihat gelisah, terganggu, tak suka, sedih. Tampak sulit menerima dan memahami, kenapa orang perlu berkomentar atau menanyakan hal tersebut pada dirinya. Meski mengakui bahwa hal tersebut merupakan titik rentan dirinya, responnya menjadi defensif. Dengan nada sebal ia mengatakan bahwa sikap orang itu tidak pada tempatnya, tidak etis. Ketika titik lemah yang tergelitik, komentar satu orang saja terasa bagai sikap dari semua orang.
Ingin aku bertanya, apa sebenarnya yang membuat hal itu ia sebut sebagai titik lemah. Sejauh ini aku melihatnya baik-baik saja, seolah menerima hal tersebut apa adanya. Ternyata tidak demikian. Sulit untuk mengajak orang yang sedang terganggu untuk melihat dari sisi lain. Saat itu aku hanya bisa memberi ruang dan membahas hal lain yang netral. Selain tidak tahu apa yang harus dikatakan, tampaknya ia juga perlu meredakan pikir dan rasa yang sedang berkecamuk, agar tidak semakin meruncing dan menohok titik lemahnya.
Bisa jadi setiap orang punya titik rentan. Hal yang disadari sebagai kekurangan, kelemahan, kesulitan, dan dihindari karena belum dapat dihadapi. Bukan mengabaikan atau tidak mengakui bahwa hal tersebut perlu diatasi, jelasnya. Namun saat ini energi dan fokusnya tidak untuk itu.
Mencoba membayangkan kembali kejadiannya yang terasa seperti obrolan ringan yang ingin diisi dengan candaan. Tipis tak terasa ternyata batas antara bercanda dan mengolok. Atau karena merasa akrab, kenal dekat, jadi lupa menggunakan empatikah?
Di sisi lain sepertinya situasi semacam itu sangat wajar, dan dengan mudah terjadi di keseharian. Bahwa belum tentu ada niat dari orang tersebut untuk mengolok atau mencemooh. Kalaupun ada, tidak perlu marah, karena toh apa yang orang lain pikirkan dan katakan, bukan hal yang bisa kita kendalikan. Namun dapat dijadikan alarm untuk melihat ke dalam diri, kenapa merasa terganggu dan sebal? Mungkin dapat membuat diri bergerak, mengatasi atau menerima, hingga hal itu tidak lagi menjadi isu sensitif bagi diri.
Photo by Pixabay: https://www.pexels.com/photo/kid-hiding-on-pillows-262103/
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES182 Kolaborasi Buku Anak
Pada Festival Literasi Tahun Pendidikan 21 yang mulai berlangsung ini, ada banyak program menarik. Salah satu yang baru adalah Kolaborasi Buku Anak. Undangan pertama untuk para penulis. Siapapun yang mau boleh menulis cerita bertema imajinatif untuk anak < 10 tahun. Ternyata cukup banyak yang me…

AES181 Terima Kasih!!
Festival Literasi TP 2024-2025 baru saja berakhir, penuh rasa dan syukur. Festival Literasi di Smipa bukan acara yang wah dalam arti mewah atau meriah saja. Yang ingin dicapai bukan sekadar wah. Banyak hal yang ingin kita sasar dan bangun lewat kegiatan ini. Jadi, apa yang membedakan Festival Liter…

AES180
Sudah cukup lama tidak mengunjungi akun Ivan Lanin. Biasanya pada periode merapot, saya suka melihat-lihat postingan beliau. Banyak dapat info perkembangan bahasa Indonesia yang jarang sekali dapat perhatian. Unggahan uda selalu menarik, dengan nuansa humor yang kocak, sekaligus mengajak pembaca be…
