AES148 Menjadi Anak Pengembara

Halo! Sudah lama rasanya aku nggak nulis di ririungan. Tapi hari ini aku ingin berbagi cerita yang ternyata seru banget. Cerita tentang aku yang akhirnya mencoba naik kereta ke Jakarta, dan jadi anak pengembara meskipun hanya untuk sehari. Hari itu aku pergi bareng Farzan dan Tante Gamma, kami naik kereta dari Bandung menuju Stasiun Gambir.
Buat aku yang terbiasa ke Jakarta naik mobil, perjalanan ini terasa baru. Bahkan saat kereta melaju di rel, rasanya seperti memasuki dunia yang berbeda lebih tenang, lebih reflektif, lebih... hidup.
Begitu turun di Gambir, pemandangan pertama yang menyambut adalah Monas yang berdiri kokoh. Di titik itu, aku merasa: “Oke, ini bukan sekadar perjalanan biasa.” Kami lanjut naik Transjakarta, di dalam bus yang bersih, nyaman, dan teratur, aku nyeletuk dalam hati:
“Kapan ya Bandung punya transportasi umum seenak ini?”
Rasa iri bukan karena kota lain lebih bagus, tapi lebih ke rasa ingin juga punya kemudahan yang sama. Biar semua orang bisa ke mana-mana tanpa harus macet-macetan, tanpa harus pakai kendaraan pribadi. Sesederhana itu.
Tujuan pertama kami adalah Museum Nasional Indonesia. Bukan sekadar gedung tua berisi patung dan artefak, tapi ruang yang menyimpan berbagai sejarah seperti tentang bagaimana Islam masuk ke Nusantara, tentang perjuangan perempuan Indonesia, dan tentang betapa rumit dan kayanya sejarah bangsa ini. Aku jadi tersadar, kita semua adalah potongan kecil dari cerita besar itu. Dan peran sekecil apa pun tetap berarti.
Setelah museum, kami menuju Galeri Nasional Indonesia. Di sana aku sempat nonton film dokumenter berjudul “Widya Segara.” Film ini bercerita tentang seniman bernama Arkiv Vilmansyah yang ingin keluar dari bayang-bayang karya terkenalnya, Mickiv dan membuat sesuatu yang baru yaitu tentang biota laut, tentang paus raksasa yang "terdampar".
Tapi tentu saja, seperti dalam hidup realitanya nggak selalu sesuai skenario. Pameran itu penuh tantangan, tapi justru dari situ aku belajar: seni bukan soal kesempurnaan, tapi soal keberanian untuk jujur. Waktu pulang, kami naik LRT dari Kuningan ke Halim. Langit sore Jakarta sedang cantik, biru lembut dengan semburat jingga. Di balik jendela LRT, aku merasa seperti tokoh utama dalam anime yang sedang duduk termenung, merenungi hidup dengan latar musik piano yang tenang.
Dan kamu tahu apa yang paling menyentuh?
Aku merasa aneh.
Padahal cuma naik transportasi umum. Tapi mungkin itulah kekuatan perjalanan, ia tak selalu menawarkan kejutan besar tapi diam-diam menyelipkan rasa syukur yang tak kamu sadari sebelumnya. Perjalanan diakhiri dengan naik Whoosh dari Halim ke Padalarang. Dalam keadaan lelah dan lapar, aku duduk diam, menatap jendela, dan tersenyum. Kadang kita nggak butuh alasan besar untuk pergi, cukup satu niat kecil dan biarkan sisanya diatur oleh semesta. Karena sering kali, keajaiban datang di tengah perjalanan yang tak direncanakan.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES197 Pemilu dan Gaya Komunikasi
Halo teman-teman yang budiman,lama rasanya saya tidak bercakap-cakap di sini. Maka pada kesempatan kali ini, izinkan saya menulis sesuatu yang agak berbeda dari biasanya. Bukan soal perjalanan, bukan soal musik, bukan pula soal novel, melainkan tentang pemilu dan gaya komunikasi.Awalnya sederhana s…

AES195 Membahas Sedikit soal Transum Bandung
Tulisan di Ririungan tanggal 3 September 2026Halo teman-teman yang budiman, kali ini saya ingin membagikan sedikit pengalaman menggunakan transportasi umum di Bandung. Dalam rentang tiga hari, saya sudah mencoba dua jenis transportasi umum yang sekarang mulai cukup sering terdengar namanya, yaitu b…

AES194 Jalan-Jalan 2 Minggu Ini
Tulisan di Ririungan tanggal 23 Agustus 2026Halo teman-teman yang budiman, sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis sepatah dua patah kata di sini. Entah kenapa, gairah menulis saya sempat mengalami kekeringan. Bukan karena tidak ada kehidupan yang berjalan, bukan juga karena kepala benar-benar…

