AES150: Maksimal harus Repot
Untuk maksimal, kita perlu repot. Aku sendiri merasakannya akhir-akhir ini, dimana aku membuat proyek yang kurang maksimal. Mengapa kurang maksimal? Karena aku merasa sudah cukup baik, ribet dan lama lagi apabila masih disunting. Karena itu, aku mempertimbangkan bahwa waktu yang diperlukan untuk maksimal, tidak/kurang worth it. Karena itu, hasil pekerjaanku lebih mementingkan waktu, bukan hasil akhir.
Terkadang, aku sendiri merasa perlu ada pengorbanan dari diri, untuk mengerjakan yang maksimal bagi orang lain, bagi kebutuhan, dan bagi kebaikan bersama. Contoh paling nyata yang aku alami adalah pengorbanan main game. Apabila aku sedang ingin main game namun harinya sedang sibuk (les, pekerjaan yang belum selesai), terpaksa aku tinggalkan demi hal yang lebih penting.
Secara pribadi, aku kurang suka apabila waktu personal yang kumiliki terambil oleh hal lain. Terutama soal hal-hal yang kurang penting (menurutku sendiri kurang penting). Tetapi, kenyataan hidup, ialah semuanya saling nyambung, semuanya memiliki masalahnya sendiri. Tidak ada kesempurnaan yang bisa terjadi selamanya, terutama di kehidupan pribadiku.
Disinilah daya juang menjadi pivot/titik yang penting. Karena itulah hal satu-satunya yang memisahkan kita, apakah ingin repot atau tidak. Berjuang dalam ketidaknyamanan adalah suatu hal yang tidak mudah dikerjakan begitu saja. Ada berbagai tipe orang yang putus asa dan mudah menyerah, sementara ada yang berjuang mati-matian.
AKu sendiri merupakan tipe person yang pertama di dalam hati, namun kedua dalam bentuk fisik. Kadang, aku merasa sudah waktunya untuk berhenti, menyerah. Namun fisikku masih mendorongku untuk menyelesaikan sesuatu yang tidak nyaman bagi diriku sendiri. Sehingga, dalam kasus keputusan, aku cenderung menjadi orang yang berjuang meskipun tidak nyaman, malas, dan mengganggu.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:
AES239: The Scouting of Earth Hour
Pagi hari ini aku ikut serta dalam kegiatan promosi Earth Hour yang diadakan di pendopo, sebagai seorang pengamat. Sejujurnya, kegiatan ini bagiku cukup membosankan karena, target audiens utama komunitas mereka (yang mengadakan) adalah anak-anak. Di awal kegiatan, aku bisa melihat partisipasi adik-…
AES238: Move On
Mendekati masa ujian, kehidupan anak-anak SMA di Kelas 12 secara umum menjadi semakin berat, terfokuskan pada ujian, dan terbebani akan masa depan yang berada di depan mereka. Tidak hanya di sekolah luar, di Smipa pun, anak-anak di KPB K12 merasa begitu. Sudah saatnya kita serius dalam menuju tujua…
AES237: Diriku yang Berbeda
Ketika kita, sebagai seorang individu, bisa peka terhadap lingkungan sekitar, peka terhadap perilaku diri, dan peka terhadap karakter hati diri. Maka kita bisa bilang, ia cukup bisa 'mengenal' dan melihat diri sendiri, melalui proses refleksi. Walau begitu, seseorang tidak bisa mengenal dirinya sen…
