AES153 Kenapa Lari

Halo wargi ririungan, apa kabar? Aku sendiri baik-baik saja, walaupun dua minggu terakhir ini aku mendadak hiatus nulis. Bukan karena sibuk, bukan juga karena nggak ada ide. Jujur aja aku burnout rasanya kayak kepala ini penuh banget, tapi sekaligus kosong aneh ya? Nah di tengah-tengah fase malas nulis ini, ada satu fenomena menarik yang bikin aku jadi mikir: kenapa orang-orang di sekitarku tiba-tiba pada suka lari? Serius aku nggak lebay, hampir tiap pagi aku bangun tidur buka grup WhatsApp keluarga atau Instagram Story teman-teman yang muncul pertama bukan foto makanan atau uneg-uneg soal kerjaan, tapi screenshot Strava. Itu aplikasi yang bisa ngasih tahu ke semua orang kalau kamu barusan lari sejauh 5 km sambil diselingi 2 kali jalan karena ngos-ngosan.
Udah beberapa kali aku diajak, “Ayo lari bareng biar sehat, biar nggak kalah sama yang lain.” Katanya gitu, aku cuma senyum lalu pura-pura sibuk liatin handphone yang nggak ada isinya. Tapi lama-lama aku penasaran juga, kenapa pada lari sih?, Emang segitu serunya? Jadi aku tanya-tanya ke mereka. Ada yang jawab karena FOMO (fear of missing out). Katanya “Ya gimana ya, semua orang lari. Kalau aku nggak ikut, kayaknya aku nggak gaul.” Ada juga yang jawab, "awalnya iseng diajakin sepupu atau saudara, eh malah jadi suka". Sampe ada yang bilang “Lari tuh jadi me time bro. Nggak ada yang ganggu bisa sambil dengerin lagu, mikirin hidup, atau ya sekadar ngitung langkah.”
Aku dengerin sambil manggut-manggut, padahal dalam hati aku mikir: lari kok bisa sampe mikirin hidup? Aku jalan ke warung depan aja udah mikir, abis ini mau beli es teh manis atau nggak. Jangan salah paham, aku nggak nyalahin mereka pada rajin lari. Aku salut malah cuman, rasanya agak aneh aja keluarga dan teman deket semua serempak jadi pelari. Dulu kalau ngumpul topiknya macem-macem sekarang? Topiknya jadi: “Eh kamu sepatu lari merek apa?” atau “Kemarin pace aku segini loh, lumayan kan?” Aku jadi mikir, jangan-jangan aku yang salah. Jangan-jangan, ini semesta lagi ngasih kode: “Eh, kamu harus lari juga biar nggak kalah sama yang lain. Biar nggak makin gendut diem di rumah.”
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES197 Pemilu dan Gaya Komunikasi
Halo teman-teman yang budiman,lama rasanya saya tidak bercakap-cakap di sini. Maka pada kesempatan kali ini, izinkan saya menulis sesuatu yang agak berbeda dari biasanya. Bukan soal perjalanan, bukan soal musik, bukan pula soal novel, melainkan tentang pemilu dan gaya komunikasi.Awalnya sederhana s…

AES195 Membahas Sedikit soal Transum Bandung
Tulisan di Ririungan tanggal 3 September 2026Halo teman-teman yang budiman, kali ini saya ingin membagikan sedikit pengalaman menggunakan transportasi umum di Bandung. Dalam rentang tiga hari, saya sudah mencoba dua jenis transportasi umum yang sekarang mulai cukup sering terdengar namanya, yaitu b…

AES194 Jalan-Jalan 2 Minggu Ini
Tulisan di Ririungan tanggal 23 Agustus 2026Halo teman-teman yang budiman, sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis sepatah dua patah kata di sini. Entah kenapa, gairah menulis saya sempat mengalami kekeringan. Bukan karena tidak ada kehidupan yang berjalan, bukan juga karena kepala benar-benar…

