AES154 Memulai Lagi

Teman-teman yang budiman, telah satu bulan berlalu tanpa sebaris pun kata kutuangkan di sini. Mohon maafkan aku yang diam, bukan karena tak ada yang bisa diceritakan melainkan karena aku sendiri telah kehilangan daya untuk menyusun huruf menjadi suara.
Menulis kadang bukan perkara ingin atau tidak ingin, tapi perkara bisa atau tidak bisa. Dan selama satu bulan itu, aku merasa tak sanggup. Seperti seseorang yang kehilangan pegangan di tengah arus deras: tahu harus berenang, tapi tak kuasa menggerakkan tangan.
Namun waktu seperti biasa, terus melangkah tanpa menoleh. Libur telah usai, libur yang membawaku pada tawa-tawa yang hangat sekaligus letih. Libur yang akan kuceritakan lain hari. Kini sekolah menyambut lagi, dan aku datang bukan sebagai aku yang sama.
Kali ini ada yang berbeda, banyak wajah baru di KPB. Muda, segar, penuh tanya dan semangat. Dulu pada masa MPLS, aku memberi mereka tebak-tebakan. Sebuah cara sederhana untuk menyambut dengan hangat. Tapi tahun ini aku ingin lebih, aku ingin membuat mata mereka membelalak bukan sekadar tersenyum. Maka aku belajar sulap, ya, sulap. Latihan seharian, berkeringat, dan berkali-kali gagal tapi saat hari itu datang aku berdiri di hadapan mereka dan semua lelah itu lunas. Sulapku berhasil, mereka bersorak. Aku menang, setidaknya atas diriku sendiri.
Dari sekian wajah baru yang kulihat hari itu, ada satu yang memaku pandangku lebih lama dari yang lain. Bukan karena keindahan parasnya, tapi karena sesuatu yang belum kutemukan namanya. Mungkin hanya mungkin, itulah yang disebut bibit. Bibit cinta, seperti yang sering ditertawakan oleh teman-teman.
Namun kisah ini belum sampai di situ. Esoknya, kami pergi ke Taman Sejarah. Tempat yang biasa saja bagi banyak orang, tapi menjadi berbeda bagi kami yang mencarinya dengan mata baru. Di sana, aku bersama beberapa teman-teman berjalan bukan sekadar melangkah, tapi menjelajah. Kami menyapa orang-orang, bertanya dengan tulus, mendengarkan kisah-kisah kecil dari penjaga taman, orang yang sedang menunggu harapan, dan seorang anak kecil yang tertawa di balik pepohonan.
Hari itu aku sadar, memulai lagi tak harus menunggu ilham besar. Kadang cukup dengan keberanian kecil: menampilkan sulap, menyapa orang asing, atau sekadar datang dan hadir di tengah kehidupan yang terus berjalan.
Kehidupan tak pernah menunggu siapa pun, tapi ia selalu memberi kesempatan bagi mereka yang mau mulai kembali. Dan hari itu, aku dengan segala keraguan dan ketidaksiapantelah memulainya lagi.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES192 Melihat Lebih Dekat
Halo teman-teman yang budiman, jujur saja, awalnya saya tidak tahu judul apa yang layak untuk tulisan hari ini. Ada hari-hari ketika judul datang lebih dulu daripada isi tulisan. Tapi ada juga hari ketika isi kepala berjalan sendiri, sementara judul tertinggal jauh di belakang. Maka saya memilih ju…

AES191 Membedah KPB
Halo teman-teman yang budiman, hari ini saya ingin menceritakan sedikit perihal KPB, atau Kelompok Petualang Belajar. Pada mulanya, KPB sudah menjadi semacam tradisi setiap awal naik kelas. Ia hadir sebagai cara sekolah memperkenalkan kembali esensi KPB kepada murid-murid baru, juga mungkin kepada…

AES190 Sonichi
Halo teman-teman yang budiman, hari ini saya ingin menuliskan pengalaman saya kembali ke sekolah. Saya memilih judul “Sonichi” tentu bukan tanpa alasan. Dalam bahasa Jepang, sonichi berarti hari pertama. Saya mengenal istilah itu dari dunia JKT48, biasanya dipakai untuk menyebut momen ketika seoran…
