AES155 Komik

Jakarta selama liburan itu bukan tempat yang riuh, ia justru sepi di sudut-sudut rumah yang kutempati. Aku tidak pergi ke mana-mana. Tidak ada pantai yang kutapaki, tidak ada gunung yang kupanjat. Hanya aku, kamar, dan waktu yang berputar pelan.
Di tengah diam itu, aku mencoba banyak hal. Menyalakan ulang minat yang dulu pernah ada. Dan tanpa sengaja, aku kembali menemukan sesuatu yang telah lama tinggal dalam ingatan: komik.
Dahulu waktu kecil, aku punya pahlawan pribadi yang memberiku dunia lain lewat lembaran-lembaran penuh gambar: omku, seorang pengoleksi manga Doraemon. Ia memberikanku seluruh koleksinya dan buat anak kecil sepertiku waktu itu, rasanya seperti diberi akses langsung ke dunia ajaib penuh pintu ke mana saja dan alat-alat aneh yang bisa mewujudkan imajinasi.
Aku sangat gemar membaca manga saat itu. Duduk diam selama berjam-jam, membuka halaman demi halaman seperti menyusuri lorong rahasia yang tak semua orang bisa pahami. Tapi entah bagaimana seiring berlalunya waktu, aku berhenti. Manga-manga itu tertinggal di belakang, di antara tumpukan masa kecil yang perlahan hilang bentuknya.
Lalu datang tahun 2022. Di Gramedia, tanpa rencana aku melihat satu rak penuh dengan seri yang belum pernah kusentuh: Jujutsu Kaisen. Judul yang terasa asing tapi menggoda, aku beli dari volume 0 sampai 5. Ada getaran kecil saat membawa pulang buku-buku itu, seperti ketukan lama yang akhirnya terjawab.
Tapi kenyataan kadang tak sejalan dengan niat, aku hanya membaca sampai volume pertama. Sisanya berdebu di rak, menunggu saat yang tak pasti. Dan lagi-lagi, komik pun tenggelam dalam diam.
Sampai akhirnya tahun ini saat libur datang dan waktu memberiku ruang untuk bernapas perlahan, aku mengambil kembali Jujutsu Kaisen dari rak. Aku baca, aku tenggelam, aku lupa waktu.
Dari sana semuanya bermula, rasanya seperti membuka laci lama dan menemukan surat dari diri sendiri yang dulu. Aku mulai membeli volume lanjutannya. Dan tak berhenti di situ, aku mulai mencari judul lain: Kanojo, Okarishimasu yang membuatku tersenyum kikuk, dan Oshi No Ko yang membuatku terdiam lama setelah menutup halamannya.
Begitulah hobi itu bekerja, ia bukan hal besar yang datang dengan gebrakan. Ia hanya sesuatu yang perlahan tumbuh dalam keheningan, kadang datang kembali setelah bertahun-tahun menghilang, lalu pelan-pelan mengambil tempatnya kembali dalam hidupmu.
Dan dalam kesibukan dunia yang terus berlari ini, aku merasa bersyukur bisa kembali duduk dan membaca. Karena di dalam komik, aku menemukan dunia lain dan lebih dari itu, aku menemukan kembali diriku yang dulu pernah hilang.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES197 Pemilu dan Gaya Komunikasi
Halo teman-teman yang budiman,lama rasanya saya tidak bercakap-cakap di sini. Maka pada kesempatan kali ini, izinkan saya menulis sesuatu yang agak berbeda dari biasanya. Bukan soal perjalanan, bukan soal musik, bukan pula soal novel, melainkan tentang pemilu dan gaya komunikasi.Awalnya sederhana s…

AES195 Membahas Sedikit soal Transum Bandung
Tulisan di Ririungan tanggal 3 September 2026Halo teman-teman yang budiman, kali ini saya ingin membagikan sedikit pengalaman menggunakan transportasi umum di Bandung. Dalam rentang tiga hari, saya sudah mencoba dua jenis transportasi umum yang sekarang mulai cukup sering terdengar namanya, yaitu b…

AES194 Jalan-Jalan 2 Minggu Ini
Tulisan di Ririungan tanggal 23 Agustus 2026Halo teman-teman yang budiman, sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis sepatah dua patah kata di sini. Entah kenapa, gairah menulis saya sempat mengalami kekeringan. Bukan karena tidak ada kehidupan yang berjalan, bukan juga karena kepala benar-benar…

