AES156 Braga Lagi, Braga Lagi !

Halo teman-teman yang budiman, hari ini aku kembali ke tempat yang mungkin sudah bosan mendengar langkahku, braga ah Braga! Jalan tua dengan aroma sejarah yang masih tersisa di sela-sela retakan trotoar dan cat yang mengelupas di dinding toko-toko lawas. Seakan setiap sudutnya ingin bercerita, tapi lebih suka diam dan membiarkan kita menebak-nebak kisah di balik jendelanya yang buram.
Tujuan awal kami sederhana, bahkan agak remeh bagi sebagian orang: mencari kaset pita. Tapi bukan sembarang kaset pita, aku mencari Oasis band yang barangkali di masa lalu bisa mengisi luka-luka remaja dengan nada sumbang Liam dan petikan gitar Noel yang seolah bicara langsung ke dada.
Kami menapaki pasar antik Cikapundung, sebuah lorong waktu yang menjual ingatan. Di sana, barang-barang berserakan tapi bermakna: radio tua yang entah sudah berapa lagu diputar olehnya, kamera film dengan cerita yang tak pernah dicetak, dan tentu saja tumpukan kaset pita yang menunggu diputar ulang setelah bertahun-tahun sunyi.
Toko pertama sungguh lengkap, begitu katanya. Tapi Oasis sedang kosong “Lagi habis,” ucap si penjaga sambil tersenyum. Lalu ujuk-ujuknya, entah kenapa tanganku justru mengambil kaset Celine Dion. Mungkin karena cinta memang datang tanpa bisa dijelaskan, seperti Celine yang muncul tiba-tiba di antara celah yang kutinggalkan untuk Oasis.
Di toko lain Oasis ada, tapi aku sudah punya. Dan apa gunanya dua kaset yang sama? Meski cinta pada band itu mungkin tidak ada duanya, tapi dompet tetap satu. Maka kami pun melangkah pergi.
Tujuan selanjutnya: Museum Mandala Wangsit. Tempat yang baru pertama kali kumasuki, tapi entah kenapa tidak terasa ramah. Dikelola oleh TNI, katanya. Mungkin itu sebabnya langit-langitnya tinggi, pencahayaannya temaram, dan benda-benda di dalamnya senjata-senjata rampasan dari berbagai medan perang yang diam namun menakutkan. Ada yang laras panjang, ada yang pendek, ada juga yang semi-otomatis, bahkan otomatis. Semua tersimpan dalam kaca, seperti luka yang dibekukan.
Kami terdiam lama di sana, mungkin karena rasa takjub atau karena rasa tidak nyaman. Sejarah seperti senjata, bisa membuat kita menunduk. Tapi yang membuat kami tertawa adalah saat hendak keluar, seorang pemandu (bisa dibilang begitu) tiba-tiba meminta sejumlah nominal. “Bayar lima ribu,” katanya. Padahal saat masuk, katanya suka rela. Entah suka rela siapa.
Kami keluar dengan perasaan ganjil, tapi hidup memang seperti itu tak selalu jujur sejak awal.
Langit mulai cerah, dan kami pun mengarah ke Gray Art Gallery di Jalan Braga. Galeri yang kecil tapi padat dengan karya. Ada lukisan yang bicara lewat warna, ada instalasi yang seolah berbisik di sudut ruangan. Semua unik, semua menarik tapi tak semua bisa kuceritakan. Karena seni seperti perasaan, kadang lebih enak disimpan dalam hati daripada dijelaskan dengan kata.
Jadi begitulah hari ini, tapi entah kenapa Braga tak pernah membosankan. Karena seperti lagu lama yang diputar ulang, selalu saja ada bagian yang baru terdengar.
Komentar (1)
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES197 Pemilu dan Gaya Komunikasi
Halo teman-teman yang budiman,lama rasanya saya tidak bercakap-cakap di sini. Maka pada kesempatan kali ini, izinkan saya menulis sesuatu yang agak berbeda dari biasanya. Bukan soal perjalanan, bukan soal musik, bukan pula soal novel, melainkan tentang pemilu dan gaya komunikasi.Awalnya sederhana s…

AES195 Membahas Sedikit soal Transum Bandung
Tulisan di Ririungan tanggal 3 September 2026Halo teman-teman yang budiman, kali ini saya ingin membagikan sedikit pengalaman menggunakan transportasi umum di Bandung. Dalam rentang tiga hari, saya sudah mencoba dua jenis transportasi umum yang sekarang mulai cukup sering terdengar namanya, yaitu b…

AES194 Jalan-Jalan 2 Minggu Ini
Tulisan di Ririungan tanggal 23 Agustus 2026Halo teman-teman yang budiman, sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis sepatah dua patah kata di sini. Entah kenapa, gairah menulis saya sempat mengalami kekeringan. Bukan karena tidak ada kehidupan yang berjalan, bukan juga karena kepala benar-benar…


