AES158 Kembali Menulis
Waktu itu, sudah cukup lama sejak rutin menulis AES-ku terhenti. Dengan alasan, tergantikan oleh keasikan baru menggambar mandala. Aku sedang berdiskusi dengan rekan SPP tentang persiapan lingkar belajar untuk kakak jenjang kecil, dengan topik emosi. Khususnya dalam hal pengelolaan emosi di kelas, yang perlu dibarengi dengan pengenalan dan pengelolaan emosi pada diri.
Meski sudah tahu, sudah kerap membicarakan, dan merenungi, ada saja hal baru yang terasa mencolek diri ketika secara khusus membahas hal ini. Seolah diingatkan kembali bahwa emosi itu unconscious. Emosi itu selalu ada, selalu hadir di setiap kejadian, tapi kerap tidak disadari. Tak jarang, luput dari kesadaran bahwa emosi berubah seiring situasi, emosi mudah terpantik atau terbawa oleh hal yang bahkan sangat sederhana. Menyadari hal ini menjadi penting terutama bagi para kakak, di keseharian mereka berinteraksi dengan anak-anak dan menghadapi dinamika di kelas. Setiap anak datang dengan kesiapan berkegiatan dan suasana hati yang berbeda-beda. Belum lagi referensi ekspresi emosi yang mereka dapat dan cerap dari rumah dan sekitar, banyak berpengaruh pada kemampuan mereka dalam mengelola diri dan rasa yang muncul saat berkegiatan bersama. Bisa terjadi, anak tetiba tantrum atau berkonflik dengan teman lalu mogok berkegiatan. Sungguh dibutuhkan kejernihan dan ketenangan diri dari kakak-kakak, di setiap perjumpaan mereka dengan anak-anak. Ketika hal ini terbangun, niscaya menjadi referensi bagi anak-anak, seperti halnya anak meneladani sikap dan cara orangtua atau orang dewasa di sekitar mereka.
Kecerdasan emosi adalah ketika kita menyadari, dan mencari cara yang ok untuk mengenali dan mengekspresikan perasaan kita. Menemukan cara tersebut memang sepenuhnya menjadi ruang dan tanggung jawab masing-masing. Namun pada diskusi tersebut, sebagai referensi cara, akhirnya kami kembali ke pentingnya menulis untuk membantu mengurai emosi tersebut, hingga tidak sekadar ditekan atau mengendap diam tapi masih tertinggal dalam diri. Jadi intinya, apapun alasannya, menulis sebenarnya tetap perlu dan besar manfaatnya ya Ne.. :D
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES179 Sabar..
Ketika agenda dan olahan mulai memadat, ada kecenderungan dalam diriku untuk semakin ketat mengaturkan segala sesuatu. Seperti terkondisi untuk terus berstrategi agar seiring waktu berjalan semua agenda dan kegiatan tetap berjalan baik sesuai jadwal dan sasaran. Kerap terjadi, bahkan hampir selalu,…

119 you
Mengutip kalimat pak Jo kemarin; ‘perjalanan hidup setiap individu itu utuh dan unik, tidak pernah bisa dibandingkan dengan orang lain.’ Karenanya, bersyukur dan berbahagialah dengan perjalanan hidupmu sendiri, karena tidak ada yang sama. ‘There is no one alive who is YOUER than YOU,’ kalau kata Dr…

AES23 bawang
“Writing is like peeling yourself layer by layer. Because humans are like onion. The deeper layer you go through, the spicier it tastes. It burns your hand, and your eyes. Everybody’s normal until you get to know them better. Everything’s fine on the outside. And then you get to know them layer by…
