AES160 Paradoks Produk Lokal

Halo teman-teman yang budiman, pagi ini ketika lampu kamar redup dan ponsel masih menyala di tangan, jempol saya berhenti pada sebuah reels Instagram. Kontennya membahas film Merah Putih: One For All yang katanya terasa turun dibanding Jumbo. Tapi yang membuat saya betah menonton bukan soal filmnya, melainkan satu kalimat yang menusuk: "Kita ini sudah terlalu menormalkan ‘Cintailah Produk Indonesia’ meskipun kualitasnya entah bagaimana."
Kalimat itu seperti mengetuk pintu rumah yang sudah lama tertutup di kepala saya. Ah betapa seringnya kita mendengar slogan itu, dari spanduk di pasar sampai iklan di televisi. Cintailah produk Indonesia. Kedengarannya mulia, seperti perintah untuk menjaga rumah sendiri. Tapi di baliknya, sering tersembunyi sebuah tameng: bahwa yang penting “lokal”, soal kualitas... nanti dulu.
Saya teringat waktu kecil, ketika ibu saya membeli tas di sebuah toko. “Beli yang lokal saja, Nak. Biar uangnya muter di negeri sendiri.” Dan benar, tas itu buatan pabrik dalam negeri. Tapi baru tiga bulan, talinya sudah putus, kulitnya cepat terkelupas seperti roti tawar yang dipanggang terlalu lama. Saat itu saya tidak banyak bertanya, tapi sekarang saya mulai bertanya-tanya: apakah mencintai berarti menerima apa saja tanpa menuntut lebih?
Konsumen mau lokal atau impor, tetaplah manusia yang punya mata, telinga, dan pengalaman. Mereka menilai bukan dari paspor produk itu, tapi dari rasa yang ia tinggalkan setelah digunakan. Kalau ponsel buatan luar negeri bisa bertahan lima tahun tanpa mengeluh, kenapa kita harus memuji ponsel lokal yang dua tahun sudah minta pensiun, hanya karena ia “anak bangsa”?
Masalahnya bukan pada semangat “cinta lokal”, tapi pada cara sebagian produsen menjadikannya benteng. Mereka bersembunyi di balik bendera, bukan membawanya maju ke medan kualitas. Lalu kita entah karena nasionalisme atau rasa sungkan, ikut-ikutan memaklumi. “Namanya juga buatan sendiri” kata kita, seolah itu alasan cukup untuk menutup mata.
Padahal cinta yang sehat bukan hanya memeluk, tapi juga mengkritik. Cinta pada produk Indonesia berarti berani menuntut produsen untuk membuat barang yang bisa dibanggakan, bukan hanya di pasar kita sendiri tapi di mata dunia. Kita perlu berkata, “Aku beli produkmu karena bagus bukan hanya karena kau lahir di tanah yang sama denganku.”
Mungkin paradoks produk Indonesia ini akan terus ada selama kita mengira nasionalisme bisa menggantikan kualitas. Dan selama itu pula, kata “lokal” akan lebih sering menjadi tameng daripada jaminan mutu.
Sampai hari itu tiba, kita akan terus mengulang dengan senyum pahit: cintailah produk Indonesia… apa pun rasanya.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES197 Pemilu dan Gaya Komunikasi
Halo teman-teman yang budiman,lama rasanya saya tidak bercakap-cakap di sini. Maka pada kesempatan kali ini, izinkan saya menulis sesuatu yang agak berbeda dari biasanya. Bukan soal perjalanan, bukan soal musik, bukan pula soal novel, melainkan tentang pemilu dan gaya komunikasi.Awalnya sederhana s…

AES195 Membahas Sedikit soal Transum Bandung
Tulisan di Ririungan tanggal 3 September 2026Halo teman-teman yang budiman, kali ini saya ingin membagikan sedikit pengalaman menggunakan transportasi umum di Bandung. Dalam rentang tiga hari, saya sudah mencoba dua jenis transportasi umum yang sekarang mulai cukup sering terdengar namanya, yaitu b…

AES194 Jalan-Jalan 2 Minggu Ini
Tulisan di Ririungan tanggal 23 Agustus 2026Halo teman-teman yang budiman, sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis sepatah dua patah kata di sini. Entah kenapa, gairah menulis saya sempat mengalami kekeringan. Bukan karena tidak ada kehidupan yang berjalan, bukan juga karena kepala benar-benar…

