AES161 Ada Apa Bandung ?

Pagi ini Bandung seperti seorang perempuan yang bangun dengan mata sembab, entah menangis atau sekadar kurang tidur. Udara menggantung di antara hujan dan kabut, dinginnya seperti tangan yang menyentuh kulit tanpa permisi. Dari jendela, aku melihat gerimis turun malu-malu namun tak juga berhenti. Jalanan basah dan motor-motor lewat dengan suara knalpot yang memantul di antara dinding rumah seolah semua orang terburu-buru meninggalkan sesuatu yang tak ingin diingat.
Biasanya Bandung punya irama yang bisa ditebak. Pagi ia mengajak bercengkerama dengan hangat matahari, siang memeluk terik yang malas, sore menabuh rintik hujan sebagai penutup, lalu malam memberi selimut angin sejuk. Tapi pagi ini entah siapa yang merusak partitur itu, dingin merayap sejak subuh dan siang tak mampu mengusirnya. Bahkan matahari pun seperti enggan mengangkat wajah.
Orang-orang berjalan cepat di trotoar. Ada yang menggenggam payung lusuh, ada yang menunduk di balik jaket tipis dan wajah-wajah itu pucat tapi matanya sibuk mencari arah. Di warung ujung jalan, asap kopi hitam mengepul bercampur dengan aroma gorengan yang baru diangkat dari minyak panas. Aroma yang anehnya justru membuat pagi yang muram terasa hangat.
Aku tahu ini bukan sekadar soal cuaca, Bandung sedang berubah. Pohon-pohon di pinggir jalan mulai jarang, gunung-gunung yang dulu gagah kini tertutup oleh gedung-gedung tinggi, sungai-sungai yang dulu gemericik kini malas mengalir membawa lumpur dan sampah. Bahkan udara pun yang dulu segar seperti surat cinta, kini kadang getir kadang hambar.
Namun anehnya meski begitu, Bandung masih punya cara membuatku kembali. Di antara dingin yang menusuk, di antara hujan yang tak menentu ada bau tanah basah yang seperti membawa kenangan masa kecil. Bandung meski ringkih, masih punya sisa-sisa daya pikatnya dan barangkali itu sebabnya kita tetap bertahan di sini meski mengeluh setiap hari.
Pagi ini sambil menatap gerimis yang mengaburkan pandangan, aku bertanya dalam hati: Ada apa, Bandung? Tapi seperti biasa ia hanya tersenyum samar, lalu kembali membisu.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES197 Pemilu dan Gaya Komunikasi
Halo teman-teman yang budiman,lama rasanya saya tidak bercakap-cakap di sini. Maka pada kesempatan kali ini, izinkan saya menulis sesuatu yang agak berbeda dari biasanya. Bukan soal perjalanan, bukan soal musik, bukan pula soal novel, melainkan tentang pemilu dan gaya komunikasi.Awalnya sederhana s…

AES195 Membahas Sedikit soal Transum Bandung
Tulisan di Ririungan tanggal 3 September 2026Halo teman-teman yang budiman, kali ini saya ingin membagikan sedikit pengalaman menggunakan transportasi umum di Bandung. Dalam rentang tiga hari, saya sudah mencoba dua jenis transportasi umum yang sekarang mulai cukup sering terdengar namanya, yaitu b…

AES194 Jalan-Jalan 2 Minggu Ini
Tulisan di Ririungan tanggal 23 Agustus 2026Halo teman-teman yang budiman, sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis sepatah dua patah kata di sini. Entah kenapa, gairah menulis saya sempat mengalami kekeringan. Bukan karena tidak ada kehidupan yang berjalan, bukan juga karena kepala benar-benar…

