AES163 Ala Tahu Bulat

Pagi tadi muncul pesan di hape saya dari grup WA Kepala Sekolah SD. Isinya adalah pertemuan Zoom yang diselenggarakan sore tadi, hari minggu, jam 15.30. Agendanya membicarakan pelaksanaan Gladi Bersih ANBK yang akan dilaksanakan besok. Timestamp di pesan WA tadi menunjukkan jam 3:01 AM (subuh). Pesan segera saya kirimkan ke grup WA tim Admin Smipa yang mempersiapkan hal-hal teknis ANBK.
Ini adalah pengalaman yang ketiga atau ke empat - sejauh saya ingat, bahwa kami harus menghadiri rapat di hari Sabtu atau Minggu, lengkap dengan undangan yang datang dalam waktu yang sangat singkat melalui WA, dengan catatan wajib dihadiri dan tidak boleh diwakilkan. Pertemuan ala Tahu Bulat pikir saya... Dadakan... Kalo tahu bulat lumayan enak, tapi kalau rapat dadakan, bukan di hari kerja, saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Tapi ya apa boleh buat, kami tidak punya banyak pilihan. Pernah juga ada undangan Zoom Meeting di hari Minggu jam 19.30. Situasinya agak berbeda kalau di sekolah-sekolah negeri. Secara struktural mereka adalah atasan dan bawahan. Tentunya agak berbeda buat kami yang di sekolah swasta.
Hal-hal ini mulai banyak muncul di situasi pandemi. Sepertinya ada semacam eforia bahwa kalau segala hal bisa diselenggarakan secara daring, seakan-akan waktu kerja jadi lepas dari perhatian atau tidak lagi menjadi penting. Saat teknologi memudahkan banyak hal, ada hal-hal lain yang sepertinya lepas dari perhatian. Semua harus stand-by dan siap setiap saat. Yang memperparah, menurut saya adalah budaya orang sunda, wayahna... Kata-kata yang kerap disebutkan dalam situasi seperti ini. Kami di Semi Palar sangat berusaha bekerja terencana. Jadwal kerja terisi sejauh mungkin kami bisa. Yang jadi masalah adalah agenda-agenda dadakan seperti ini seringkali mengacaukan apa yang sudah direncanakan.
Mohon maaf kalau tulisan ini terbaca agak curhat, tapi demikianlah fakta-faktanya, dan ini jadi catatan saya hari ini.
Komentar (2)
Lagipula karena sistem pengelolaan di Indonesia ini, mayoritas dari rekan-rekan yang duduk di Kementrian dan di Dinas Pendidikan Daerah mentalitasnya adalah birokrat - bukan pendidik. Itu yang saya amati setelah sekian belas tahun mengelola Semi Palar dan berinteraksi dengan kawan-kawan di Dinas Pendidikan.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES951 Siap Bersekolah
Pagi ini di ruang tempat kami berdiskusi - berkoordinasi, terdegar suara tangisan seorang anak. Hari Selasa ini kami baru memasuki hari ke lima bersekolah, di TP ke 22 ini. Mengamati sebentar, sepertinya ini terjadi karena kenyamanan teman baru ini di rumah barunya. Murid di TK-A yang masih perlu w…

AES832 Foto Favorit Guru dan Murid
Sore kemarin kak @innocentiaine mengirim WA menanyakan kalau saya punya foto yang pas untuk dijadikan ilustrasi dari proses pembekalan kakak-kakak baru sore hari ini. Saya cari-cari dan entah kenapa ingatan saya selalu kembali ke foto di atas ini. Foto ini kemudian saya kirimkan ke kak Ine dengan c…

AES621 Arogansi Intelektual
Judul di atas ini terpantik atas obrolan dengan salah seorang calon orangtua murid Semi Palar - dalam kesempatan beliau mengantar putrinya mengikuti proses Trial di Rumah Belajar Semi Palar. Teman ini satu almamater dengan saya di jurusan Arsitektur, dan sekarang mengajar di Jurusan Integrated Arts…


