AES166 Isolasi Dirumah
Halo teman-teman yang budiman.
Tiga minggu lalu saya menuliskan kisah ketika adik saya terbaring lemah karena cacar air. Saya merawatnya dengan hati-hati, berharap penyakit itu berhenti sampai di tubuhnya. Tapi ternyata virus itu punya jalan pikirannya sendiri: ia mampir juga ke tubuh saya. Kini giliran saya yang harus berdiam diri.
Hari ini tanggal 21 September 2025, saya masuk hari ketiga isolasi mandiri. Rasanya aneh, kalau biasanya waktu luang adalah kemewahan yang sulit dicari sekarang saya seperti diceburkan ke dalamnya tanpa bisa menolak. Saya menghabiskan hari-hari dengan menonton anime dan membaca komik, hal yang biasanya harus dicuri-curi di sela kesibukan. Ada nikmat kecil di situ.
Tapi tentu tidak semua terasa indah. Menelan terasa perih, seakan ada duri di kerongkongan. Bercak di selangkangan membuat langkah jadi kikuk. Berjalan pun harus penuh perhitungan, seolah-olah setiap gesekan adalah musuh yang menunggu untuk melukai.
Dan di tengah rasa sakit itu, saya seperti mendengar bisikan:
"Tubuh ini yang kemarin begitu gagah melangkah, kini ditundukkan oleh bintik-bintik kecil. Jalan terasa asing, menelan pun seperti hukuman. Dan aku belajar, betapa manusia sering lupa: sebesar apa pun ambisinya, ia tetap hanya tahan sebatas daya tubuhnya sendiri."
Kadang saya tertawa sendiri, inilah tubuh yang setiap hari saya pakai untuk berlari, bergerak, bercanda. Kini tubuh yang sama bisa menjatuhkan saya hanya karena luka-luka kecil.
"Orang-orang mungkin melihat cacar hanya penyakit kecil. Tetapi ia mengajarkan: rapuhnya manusia bukan pada luka besar, melainkan pada hal-hal sepele yang mampu membuat langkah jadi pincang."
Maka tiga hari isolasi ini bukan hanya tentang bosan atau sakit, ia juga tentang jeda. Tentang waktu yang dipaksa berhenti, tentang kesempatan yang tiba-tiba diberikan untuk menonton, membaca, dan merenung.
"Tiga hari terkurung bukanlah hukuman penjara, melainkan pengingat. Bahwa di luar sana dunia boleh sibuk berputar, tapi aku di sini dipaksa berdiam. Barangkali inilah satu-satunya saat di mana aku benar-benar punya waktu untuk diriku sendiri."
Begitulah cerita singkat saya di hari ketiga, entah apa yang akan saya temui di hari keempat atau kelima. Tapi satu hal yang pasti: bahkan di balik rasa perih cacar air, hidup tetap menyelipkan kisah yang layak dituliskan.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES192 Melihat Lebih Dekat
Halo teman-teman yang budiman, jujur saja, awalnya saya tidak tahu judul apa yang layak untuk tulisan hari ini. Ada hari-hari ketika judul datang lebih dulu daripada isi tulisan. Tapi ada juga hari ketika isi kepala berjalan sendiri, sementara judul tertinggal jauh di belakang. Maka saya memilih ju…

AES191 Membedah KPB
Halo teman-teman yang budiman, hari ini saya ingin menceritakan sedikit perihal KPB, atau Kelompok Petualang Belajar. Pada mulanya, KPB sudah menjadi semacam tradisi setiap awal naik kelas. Ia hadir sebagai cara sekolah memperkenalkan kembali esensi KPB kepada murid-murid baru, juga mungkin kepada…

AES190 Sonichi
Halo teman-teman yang budiman, hari ini saya ingin menuliskan pengalaman saya kembali ke sekolah. Saya memilih judul “Sonichi” tentu bukan tanpa alasan. Dalam bahasa Jepang, sonichi berarti hari pertama. Saya mengenal istilah itu dari dunia JKT48, biasanya dipakai untuk menyebut momen ketika seoran…
