AtomicEssay

AES169 Memahami Retorika

carloslospenulis arsip2

Halo teman-teman yang budiman, ampuni hamba yang kerap ingkar janji. Sudah lima hari lamanya saya tak menulis di sini padahal pernah berikrar di hadapan layar ini untuk lebih rajin, lebih tekun, lebih konsisten. Tapi seperti biasa, manusia memang mudah lupa. Kadang bukan lupa karena tak mau, tapi karena otak ini tersesat di lorong-lorong pikiran yang terlalu ramai.

Beberapa hari lalu, saya membaca sedikit tentang sesuatu yang disebut retorika. Kata itu terdengar megah, seperti istilah yang hanya diucapkan oleh para filsuf di aula marmer atau politisi di depan mimbar. Tapi semakin saya baca, semakin saya sadar bahwa retorika itu tidaklah jauh dari kehidupan sehari-hari kita.

Kasarnya, retorika adalah seni membujuk. Seni untuk membuat orang lain percaya pada apa yang kita katakan. Bisa digunakan untuk menjual barang, memengaruhi hati, atau sekadar menenangkan seseorang yang sedang marah.

Namun di balik kata “membujuk”, ada sesuatu yang lebih halus dan lebih manusiawi. Retorika bukan semata tentang memenangkan argumen, tapi tentang bagaimana kita memahami manusia lain. Tentang bagaimana memilih kata yang tidak hanya terdengar indah di telinga, tapi juga terasa lembut di hati pendengarnya.

Saya masih mencoba memahaminya, tentu saja. Kadang di kepala saya muncul pertanyaan yang tak terjawab: apakah retorika itu alat kejujuran, atau justru topeng yang digunakan untuk menutupi kebenaran? Apakah seseorang bisa membujuk tanpa menipu?

Mungkin jawabannya ada di niat. Kalau niatnya baik untuk meyakinkan tanpa merugikan, untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang bisa diterima maka retorika adalah seni yang luhur. Tapi kalau niatnya culas, maka kata-kata pun bisa menjadi pedang yang menusuk diam-diam.

Saya teringat pada guru saya dulu yang pernah berkata,

Orang yang pandai bicara belum tentu pandai berkata benar.”

Kalimat itu dulu saya anggap nasihat biasa. Sekarang, baru saya pahami betapa dalam maknanya. Retorika tanpa kejujuran hanyalah racun yang dibungkus pita emas.

Jadi hari ini saya menulis bukan untuk mengajar, tapi untuk belajar bersama.

Belajar bagaimana berbicara tanpa menggurui. Belajar bagaimana menyampaikan sesuatu tanpa memaksa. Dan yang paling sulit, belajar bagaimana berkata jujur tanpa menyakiti.

Begitulah, teman-teman kalau hari ini saya menulis tentang retorika, mungkin karena saya sedang belajar membujuk diri sendiri untuk tak lagi malas menulis, untuk kembali menemukan rasa cinta pada kata-kata yang sempat hilang di jalan.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES192 Melihat Lebih Dekat

Halo teman-teman yang budiman, jujur saja, awalnya saya tidak tahu judul apa yang layak untuk tulisan hari ini. Ada hari-hari ketika judul datang lebih dulu daripada isi tulisan. Tapi ada juga hari ketika isi kepala berjalan sendiri, sementara judul tertinggal jauh di belakang. Maka saya memilih ju…

carloslos00
AtomicEssay

AES191 Membedah KPB

Halo teman-teman yang budiman, hari ini saya ingin menceritakan sedikit perihal KPB, atau Kelompok Petualang Belajar. Pada mulanya, KPB sudah menjadi semacam tradisi setiap awal naik kelas. Ia hadir sebagai cara sekolah memperkenalkan kembali esensi KPB kepada murid-murid baru, juga mungkin kepada…

carloslos00
AtomicEssay

AES190 Sonichi

Halo teman-teman yang budiman, hari ini saya ingin menuliskan pengalaman saya kembali ke sekolah. Saya memilih judul “Sonichi” tentu bukan tanpa alasan. Dalam bahasa Jepang, sonichi berarti hari pertama. Saya mengenal istilah itu dari dunia JKT48, biasanya dipakai untuk menyebut momen ketika seoran…

carloslos10