AES171 Meraki

Halo teman-teman yang budiman, maafkan saya yang baru seminggu setelah pameran ini selesai akhirnya duduk tenang dan menuliskan kesan serta pesan. Barangkali begitulah nasib orang yang pikirannya selalu melompat lebih cepat dari tubuhnya "acara sudah usai, tapi kepala masih penuh oleh suara, wajah, dan lampu ruang pamer".
Sejak pameran itu selesai, entah kenapa saya terus teringat satu frasa lama: “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke kemudian.” Entah dorongan dari mana, frasa itu saya plesetkan menjadi: “Meraki raki ke hulu, berenang-renang kemudian.” Kedengarannya seperti lelucon bapak-bapak iya, tapi justru di situlah rasanya cocok. Meraki memang terasa seperti itu, sedikit serius, sedikit main-main, tapi dikerjakan dengan sungguh-sungguh.
Jujur saja menjelang pameran, pikiran saya sudah keburu terbang ke liburan. Maklum teman-teman lain sudah lebih dulu bebas, sementara saya masih berkutat dengan persiapan. Namun seperti hidup yang sering kali tidak menuruti keinginan malas kita, semuanya tetap harus berjalan. Dan syukurlah semuanya berjalan sesuai rencana.
Kami mulai menata dekor di ruang putih, mengikuti layout yang telah dirancang. Ruang yang awalnya kosong itu perlahan terisi: oleh karya, oleh jejak langkah, oleh rasa cemas yang bercampur harap. Hari pertama pameran dibuka dengan talkshow dan entah mengapa euforianya begitu meriah. Ruangan terasa hidup penuh suara, tawa, dan tatapan-tatapan penasaran.
Hari kedua sedikit berbeda, kali ini saya menjadi pembicara bersama tiga teman lainnya. Penontonnya tak sebanyak hari pertama mungkin karena faktor kehadiran hari pertama yang memang luar biasa ramai. Tapi anehnya, di situlah saya belajar satu hal kecil: ramai atau sepi, berbicara tetaplah berbicara. Karya tetap harus disampaikan, entah didengar oleh seratus orang atau sepuluh.
Dan di antara semua itu, ada satu hal yang benar-benar tak saya sangka.
Film saya CUT!: Sebuah Film Gagal justru menuai banyak pujian. Bukan karena ia rapi, bukan karena ia manis, tapi karena keberaniannya mengekspresikan rasa frustrasi. Saya kira orang-orang akan menertawakannya, atau menganggapnya terlalu gelap ternyata tidak. Banyak yang melihat diri mereka sendiri di dalam kegagalan itu.
Mungkin memang begitulah seni bekerja, ia tak selalu lahir dari kemenangan tapi justru dari keberanian untuk mengakui luka dan kebingungan.
Meraki bagi saya bukan sekadar judul pameran, ia adalah proses: meraki(t) diri di hulu di titik paling melelahkan agar kelak bisa berenang dengan lebih jujur di kemudian hari.
Soal film itu, mungkin nanti akan saya tulis khusus jika niat dan waktu berpihak. Untuk sekarang, biarlah tulisan ini menjadi penutup kecil: catatan seorang yang lelah, lega, dan sedikit lebih berani dari sebelumnya.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES197 Pemilu dan Gaya Komunikasi
Halo teman-teman yang budiman,lama rasanya saya tidak bercakap-cakap di sini. Maka pada kesempatan kali ini, izinkan saya menulis sesuatu yang agak berbeda dari biasanya. Bukan soal perjalanan, bukan soal musik, bukan pula soal novel, melainkan tentang pemilu dan gaya komunikasi.Awalnya sederhana s…

AES195 Membahas Sedikit soal Transum Bandung
Tulisan di Ririungan tanggal 3 September 2026Halo teman-teman yang budiman, kali ini saya ingin membagikan sedikit pengalaman menggunakan transportasi umum di Bandung. Dalam rentang tiga hari, saya sudah mencoba dua jenis transportasi umum yang sekarang mulai cukup sering terdengar namanya, yaitu b…

AES194 Jalan-Jalan 2 Minggu Ini
Tulisan di Ririungan tanggal 23 Agustus 2026Halo teman-teman yang budiman, sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis sepatah dua patah kata di sini. Entah kenapa, gairah menulis saya sempat mengalami kekeringan. Bukan karena tidak ada kehidupan yang berjalan, bukan juga karena kepala benar-benar…

