AtomicEssay

AES173 Melukis Titik

innocentiainepenulis arsip2

Selain mungil, buku ini sudah agak lusuh. Wajar karena kutemukan di antara buku-buku tilas lainnya. Tetap aku terdorong untuk melihat-lihat isinya. Judulnya Cerita Batik, penulisnya Iwet Ramadhan, ‘Sebuah kisah tentang kain cantik warisan leluhur yang sarat makna.’

Saat membalik halaman demi halaman, aku terkejut ketika menemukan potongan contoh kain yang direkat pada lembar buku tersebut. Jitu banget ini.. Biasanya, sekadar membaca cerita dan informasi saja tidak menjamin kita langsung paham. Tetap saja tidak dapat membedakan antara jenis-jenis batik yang ada. Mana yang batik tulis, mana yang batik cap, mana yang batik print. Melihat, memegang dan memperhatikan contohnya secara langsung, membuat informasi yang tertulis segera dipahami. Salah satu keajaiban kerja indera manusia.

Dan ternyata buku mungil ini juga menyimpan banyak cerita dan informasi menarik tentang batik. Mulai dari asal mula kecintaannya kepada batik sejak ia masih bocah. Kedua orangtuanya disadari berperan kuat dalam membangun kecintaannyat terhadap batik dan budaya Indonesia, khususnya Jawa. Ia mengenal berbagai kain batik dan nama-namanya dari ibunya, dan ayahnya, seorang keturunan Jawa yang sangat memegang teguh adat istiadatnya, mengayakan ceritanya. Ayahnya mengajarkan filosofi hidup dan filosofi kain batik Jawa.

Iwet juga menjelaskan mengenai definisi batik, lengkap dengan alat bahan dan proses pembuatannya yang memang rumit. Yang paling banyak adalah penjelasan mengenai jenis motif dan maknanya, Ternyata ada sekitar 3000 motif batik yang tercipta di negeri ini. Dan masing-masingnya memiliki makna sebagai hasil pemikiran, akal budi, perasaan dan cinta. Karena terlalu banyak, ia menjelaskan berdasarkan pengelompokkan asal usul seperti batik Yogya dan Solo, batik dari pesisir, batik Belanda dan Peranakan, batik Pagi Sore dan batik Djawa Hokokai, batik Lasem dan batik Tiga Negeri, batik keraton dan batik pedalaman, dll. Setiap elemen pada batik seperti warna, susunan titik yang terangkai sebagai motif mengandung filosofi, doa dan harapan juga ia ceritakan sekaligus penggunaannya. Cerita panjangnya ditutup dengan informasi mengenai cara merawat kain warisan ini, serta para pengrajinnya, yang ia sebut sebagai ‘Seniman tanpa tepuk tangan’.

Buku yang cukup lengkap dan padat informasi ini ditulis berdasarkan kecintaan Iwet terhadap batik. Sebagai prolog, penulis menyampaikan bahwa ia punya mimpi untuk melihat generasi muda Indonesia modern, trendi, berwawasan luas, fasih berbahasa asing, juga fasih dalam menceritakan detail budaya bangsanya. Buku yang keren.. Jadi ingat kawan2 Joglo Lawakan yang akan jalan2.. recommended sekali ini buat bekal perjalanan  wink

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

171 Opal & Winn Dixie

Kelar FestLit hari pertama, kami membantu bu Mega membuka dan mendata buku² kiriman Bebadeda yang dititip untuk bursa esok harinya. Godaan yang sungguh besar itu.. Harus kuat karena hari itu aku sudah belanja buku Cukup banyak buku yang akan dijual daaan yang menarik hati.. Satu demi satu didata se…

innocentiaine32
AtomicEssay

AES100 ke-100

AES yang ke-100, antara ingin menulis sesuatu yang bagus, tapi ternyata ga ada ide Ada apa dengan 100? Kan semua bilangan unik, melambangkan proses dan hari yang juga pastinya berbeda-beda. Sebagai bagian dari jajaran bilangan yang jumlahnya tak terhingga, 100 sama uniknya, sama signifikannya denga…

innocentiaine34
AtomicEssay

AES85 ayo main di luar

Get out of the house, it’s good for your kids, and your family! demikian seruan Rebecca P. Cohen dalam bukunya 15 minutes Outside. Keluar dari rumah itu baik. Keluar ke mana? Ke ruang hijau terbuka, bersentuhan dengan sinar matahari, dengan tanah dan rumput, dengan udara segar yang dibawa hembusan…

innocentiaine00