AES173 Semarang (Bagian 1)

Halo teman-teman yang budiman, pada tanggal 26 Desember kemarin saya kembali menjejakkan kaki di kota bernama Semarang. Kota ini bukan tempat asing bagi saya, sebab dua tahun lalu saat masih kelas delapan saya pernah singgah di sini dalam sebuah perjalanan besar sekolah. Namun seperti pertemuan lama yang diulang, Semarang kali ini terasa berbeda. Barangkali karena saya datang bukan sebagai murid yang digiring jadwal, melainkan sebagai anak yang ikut pulang bersama keluarganya.
Kami berangkat dari Bandung pada tanggal 25, perjalanan yang panjang membuat badan letih dan malam yang rasanya tak kunjung pagi. Ketika akhirnya sampai di Semarang, hari sudah larut dan kota seakan menyambut kami dengan lampu-lampu yang malas menyala penuh. Sebuah sambutan yang wajar bagi kota yang sudah terlalu sering dilewati, tapi jarang benar-benar disapa.
Pagi hari dimulai dengan sarapan di Soto Bokoran, ramai sekali. Sepuluh menit mengantre, berdiri sambil mengantuk dan berharap mangkuk soto itu kelak sepadan dengan waktu yang hilang. Namun hidup sering kali jujur: sotonya… ya biasa saja, tidak buruk tapi juga tidak layak dikenang lama-lama. Barangkali rasa lapar yang berlebihan memang kerap menipu ekspektasi.
Dari sana, kami melanjutkan perjalanan ke Sam Poo Kong. Dua tahun lalu saat bersama rombongan sekolah, saya justru ke Lawang Sewu. Kali ini berbeda, saya datang bersama keluarga dan baru benar-benar menyadari betapa luas dan megah kawasan kelenteng itu. Bangunan-bangunannya berdiri dengan tenang, seolah tak tergesa oleh zaman. Ibu dan om saya beribadah di klentengnya, sementara saya lebih banyak diam mengamati, mendengar langkah orang, dan membiarkan pikiran berjalan sendiri.
Bagian paling melelahkan dari hari itu justru bukan perjalanan, melainkan urusan makan siang. Awalnya kami berniat ke Ayam Goreng Pak Supar, ramai sangat ramai. Jalanan diputar, waktu terulur, dan satu jam berlalu begitu saja. Pada akhirnya seperti banyak kisah keluarga Indonesia lainnya, kami menyerah dengan terhormat: makan di warung Padang. Keputusan yang tidak heroik, tapi menyelamatkan.
Malam hari kami sempat singgah ke Tentrem Mall, masih lengang dan terlalu tenang untuk sebuah malam liburan. Akhirnya kami berpindah ke Paragon Mall, dan di sanalah Semarang malam hari terasa hidup. Ramai, bergerak, dan penuh orang yang juga sedang mencari jeda dari rutinitasnya.
Begitulah hari pertama saya di Semarang, tidak spektakuler dan tidak pula buruk. Hanya rangkaian kejadian kecil: antre, berjalan, menunggu, dan makan. Tapi justru di situlah kota ini bekerja tidak dengan sensasi, melainkan dengan keseharian.
Besok, akan saya ceritakan hari berikutnya. Karena sebuah kota seperti manusia, tak pernah bisa dipahami hanya dari pertemuan pertama.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES192 Melihat Lebih Dekat
Halo teman-teman yang budiman, jujur saja, awalnya saya tidak tahu judul apa yang layak untuk tulisan hari ini. Ada hari-hari ketika judul datang lebih dulu daripada isi tulisan. Tapi ada juga hari ketika isi kepala berjalan sendiri, sementara judul tertinggal jauh di belakang. Maka saya memilih ju…

AES191 Membedah KPB
Halo teman-teman yang budiman, hari ini saya ingin menceritakan sedikit perihal KPB, atau Kelompok Petualang Belajar. Pada mulanya, KPB sudah menjadi semacam tradisi setiap awal naik kelas. Ia hadir sebagai cara sekolah memperkenalkan kembali esensi KPB kepada murid-murid baru, juga mungkin kepada…

AES190 Sonichi
Halo teman-teman yang budiman, hari ini saya ingin menuliskan pengalaman saya kembali ke sekolah. Saya memilih judul “Sonichi” tentu bukan tanpa alasan. Dalam bahasa Jepang, sonichi berarti hari pertama. Saya mengenal istilah itu dari dunia JKT48, biasanya dipakai untuk menyebut momen ketika seoran…
