AES177 Musik Jaz

Halo teman-teman yang budiman, sebenarnya ini bukan pertama kalinya saya menulis tentang musik. Tapi anehnya dari sekian banyak yang pernah saya dengar, ada satu hal yang baru benar-benar terasa tahun ini: jazz.
Saya sendiri tidak tahu pasti sejak kapan ketertarikan itu mulai tumbuh. Tidak ada momen besar, tidak ada alasan yang bisa dijelaskan dengan rapi. Tiba-tiba saja, saya mendengarkan Spain dari Chick Corea dan di situ ada sesuatu yang berbeda. Ada ritme yang terasa seperti berjalan sendiri, seperti kaki yang tahu ke mana harus melangkah tanpa harus diberi tahu. Montuno-nya berulang, tapi tidak membosankan. Justru di situlah letak daya tariknya: ia seperti ombak yang sama, tapi selalu datang dengan rasa yang sedikit berbeda.
Dari situ, saya mulai berjalan lebih jauh. Seperti orang yang tersesat, tapi tidak ingin pulang.
Saya sampai pada McCoy Tyner. Pianis yang entah bagaimana, seperti tidak pernah bermain setengah hati. Nada-nadanya keras, penuh tenaga, seperti seseorang yang berbicara dengan keyakinan tanpa ragu. Album Flying With the Wind terasa… terang. Sulit dijelaskan, tapi ada kesan seperti terangkat, seperti tidak lagi menapak tanah. Sementara Song of the New World atau yang sering saya rasakan sebagai “lagu untuk dunia yang lain”, memberi kesan berbeda. Lebih tenang, tapi bukan berarti lemah. Seperti seseorang yang terbang tinggi, melihat kota dari atas, dan memilih diam.
Perjalanan itu belum berhenti. Saya bertemu John Coltrane lewat Blue Train. Musiknya tidak mencoba menyenangkan, tapi juga tidak menolak didengar. Ia seperti percakapan yang dalam, tidak semua orang akan mengerti tapi yang bertahan akan menemukan sesuatu.
Lalu ada Herbie Hancock, yang terasa lebih “modern,” lebih dekat dengan zaman yang katanya milik saya. Tapi tetap saja, ada jarak yang aneh. Bukan jarak yang menjauhkan, melainkan jarak yang membuat saya ingin mendekat.
Dan di titik ini, saya mulai sadar sesuatu yang agak lucu. Sebagai anak SMA, katanya saya seharusnya mendengarkan lagu-lagu yang sederhana. Yang mudah dicerna, yang langsung terasa. Tapi justru saya malah menemukan kenyamanan di musik yang tidak selalu ramah pada pendengar pertama. Musik yang butuh waktu. Musik yang tidak menjelaskan dirinya sendiri.
Mungkin ini bukan soal selera yang “ketuaan", Mungkin ini cuma soal waktu yang akhirnya mempertemukan saya dengan sesuatu yang sebelumnya belum siap saya dengar.
Karena pada akhirnya, musik seperti juga perjalanan, tidak pernah benar-benar kita pilih. Kadang, dia yang memilih kita.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES197 Pemilu dan Gaya Komunikasi
Halo teman-teman yang budiman,lama rasanya saya tidak bercakap-cakap di sini. Maka pada kesempatan kali ini, izinkan saya menulis sesuatu yang agak berbeda dari biasanya. Bukan soal perjalanan, bukan soal musik, bukan pula soal novel, melainkan tentang pemilu dan gaya komunikasi.Awalnya sederhana s…

AES195 Membahas Sedikit soal Transum Bandung
Tulisan di Ririungan tanggal 3 September 2026Halo teman-teman yang budiman, kali ini saya ingin membagikan sedikit pengalaman menggunakan transportasi umum di Bandung. Dalam rentang tiga hari, saya sudah mencoba dua jenis transportasi umum yang sekarang mulai cukup sering terdengar namanya, yaitu b…

AES194 Jalan-Jalan 2 Minggu Ini
Tulisan di Ririungan tanggal 23 Agustus 2026Halo teman-teman yang budiman, sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis sepatah dua patah kata di sini. Entah kenapa, gairah menulis saya sempat mengalami kekeringan. Bukan karena tidak ada kehidupan yang berjalan, bukan juga karena kepala benar-benar…

