AES179: Catatan Gambung III
Pada hari ketiga di Gambung, cukup banyak hal yang terjadi, mengombang ambing diantara kita, entah itu kesenangan ataupun ketidaksenangan. Pada hari ini adalah hari terakhir kita berkegiatan di Gambung bersama warga, sebelum kami pulang esok hari.
Pada pagi harinya, aku terbangun jam 5.30 pagi, melihat Bintang sudah siap-siap untuk mandi pagi. Tidak seperti sebelumnya, aku sangat tidak merasa ingin/perlu mandi, karena sangat dingin dan menggigil, meskipun sebenarnya rasanya segar setelah mandi. Akhirnya dengan keputusan aku itu, aku langsung bersiap-siap kegiatan secara disiplin, langsung siap jam 6 pagi untuk waktu hening. Pemikiranku yang kemarin mengenai mandi pagi, ternyata tidak sama hari ini. Hari ini aku sangat merasa lelah di pagi hari, kalau aku mandi pagi, energiku terkuras di awal.
Setelah jam 8 tiba, kami langsung berangkat ke kebun teh bersama dengan Pak Dayat. Awalnya teman-teman terlihat ngantuk, malas, dan tidak ingin berkegiatan dengan warga (hanya Thania saja yang sudah siap, terlihat dari sikapnya). Akhirnya aku memutuskan untuk menemaninya mencari Pak Dayat dengan niat, dan itu adalah awal dan petunjuk bagi cerita yang akan datang. Sebenarnya aku juga lelah seperti teman-teman lain, tapi aku coba melakukan apa yang terbaik.
Begitu mulai kegiatan mencabut rumput liar di kebun teh, ternyata aku tidak mendapatkan celurit sebagai alat. Sebagai langkah nyata yang spontan, aku langsung mencabut rumput liar menggunakan tanganku sendiri, bahkan aku menemukan sebuah cara melakukannya dengan mudah. Meskipun tidak ada alat yang bisa membuatku efektif, aku tetap berjuang keras dan berusaha berkontribusi kepada kelompok, tidak hanya diam.
Akhirnya aku mendapatkan alat celuritnya dan mulai bekerja. Targetku adalah menuntaskan 1 baris penuh dengan rumput liar, dengan teliti dan mendetail. Targetku tercapai di tengah-tengah kegiatan sekitar pukul 09.30, namun aku merasa bisa melakukan lebih daripada itu. Ada beberapa teman yang ingin menyerah, beberapa juga ingin melanjutkan. Di saat aku ingin menyerah, aku menemukan motivasi dan energi baru untuk terus berlanjut. Pada akhirnya, kami semua memangkas total 8 barisan rumput liar. AKu sih bangga, berkontribusi terhadap 1.75 dari 8 tersebut. Dari kegiatan tadi, hal yang paling kupelajari adalah niat dan tujuan kita melakukan kegiatan, kita tidak di sini hanya untuk dipaksa dan ikut kegiatan warga, melainkan untuk belajar dan live-in. Hari ini, aku sangat mendapatkan pengalaman dan pembelajaran live in.
Hal yang paling berdampak bagi diriku hari ini adalah pada saat workshop dilakukan. Sehabis makan siang, idealnya kita semua mulai persiapan workshop. Tetapi kita tidak ada yang bener-bener peka, inisiatif, kepikiran ide, sehingga menunda-nunda seperti boker dahulu, tidur dulu, bahkan malu-malu ketika peserta sudah datang.
Aku sangat amat bingung ketika workshop dipersiapkan, utamanya karena tidak ada komunikasi, koordinasi kemarin terlalu singkat tanpa gladi, aku juga bingung karena bagianku yaitu demonstrasi, belum dilaksanakan, sehingga aku hanya diam di tempat.
Workshop berjalan dengan tidak terlalu lancar di bagian awal (dari sudut pandangku), karena suasana malas dibawa oleh salah satu temanku. Saat aku sedang tidak ada kerjaan, aku malah tiba-tiba kepikiran ‘apa yang aku lakukan dengan hidupku’ sehingga aku putuskan untuk melakukan sesuatu, sadar akan kebutuhan untuk gesit dan cekatan, dan memutuskan untuk cukup berubah. Tetapi, semuanya seperti sudah telat berlalu, karena arus komunikasi dan pembawaan sudah terlanjur cukup gagal.
Pada akhirnya, workshop yang kami adakan berhasil, karena tuntas. Namun ada banyak sekali catatan dari kegiatan ini, bahkan kesan-pesan saat workshop. Salah satu anggota bercerita tentang unek-uneknya, aku pun tiba-tiba menyadari ketoledoranku, keegoisanku, kesalahanku, dan ketidakpedulianku terhadap teman-teman. Akhirnya jadi begini, mana bisa aku bayangkan?
Intinya, hari ini aku malah menjadi pribadi yang hanya ingin senang dan terbawa suasana malas, mementingkan diriku sendiri, kurang memperhatikan keadaan/situasi temanku yang kotar katir, tidak fokus terhadap pekerjaan, dan tidak membawa suasana asyik saat kegiatan, padahal temanku sudah membawanya.
Sehabis evaluasi yang sangat menusuk hati, akhirnya aku sempat mendengarkan Pak Vinan soal ceritanya dari obrolan yang kami buat (terutama soal adaptasi masyarakat). Satu hal yang bisa kutingkatkan hari ini adalah fokus, respek, sikap perhatianku terhadap beliau dengan posisi duduk yang ideal.
Hal terakhir yang kulakukan selama kegiatan adalah beres beres sehabis workshop. Setelah evaluasi, aku coba memperhatikan aspek-aspek yang kurang dilakukan di workshop tadi, seperti peduli, komunikasi, koordinasi, dan inisiatif. Bukan soal aksinya yang telah kulakukan di akhir sesi ini, namun sikap hatiku yang ingin menjadi lebih baik.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:
AES239: The Scouting of Earth Hour
Pagi hari ini aku ikut serta dalam kegiatan promosi Earth Hour yang diadakan di pendopo, sebagai seorang pengamat. Sejujurnya, kegiatan ini bagiku cukup membosankan karena, target audiens utama komunitas mereka (yang mengadakan) adalah anak-anak. Di awal kegiatan, aku bisa melihat partisipasi adik-…
AES238: Move On
Mendekati masa ujian, kehidupan anak-anak SMA di Kelas 12 secara umum menjadi semakin berat, terfokuskan pada ujian, dan terbebani akan masa depan yang berada di depan mereka. Tidak hanya di sekolah luar, di Smipa pun, anak-anak di KPB K12 merasa begitu. Sudah saatnya kita serius dalam menuju tujua…
AES237: Diriku yang Berbeda
Ketika kita, sebagai seorang individu, bisa peka terhadap lingkungan sekitar, peka terhadap perilaku diri, dan peka terhadap karakter hati diri. Maka kita bisa bilang, ia cukup bisa 'mengenal' dan melihat diri sendiri, melalui proses refleksi. Walau begitu, seseorang tidak bisa mengenal dirinya sen…
