AES182 Persimpangan Akhir

Halo teman-teman yang budiman, hari ini saya ingin kembali bercerita tentang sesuatu yang pernah saya tulis dahulu: liminal space. Sebuah istilah yang terdengar asing, padahal diam-diam sangat dekat dengan hidup kita. Pada intinya, liminal space adalah ruang transisi—momen ketika sesuatu belum sepenuhnya berakhir, tapi juga belum benar-benar dimulai.
Dan anehnya, semakin saya menulis novel saya, semakin saya merasa hidup manusia sebenarnya dipenuhi ruang-ruang seperti itu. Hari ini saya menyadari satu hal sederhana: semua hal bisa datang, dan suatu saat bisa menghilang.
Kesadaran itu datang dari sesuatu yang sangat kecil. Sebuah kursi kafe. Kursi yang ada di foto banner tulisan saya ini awalnya tampak biasa saja. Orang duduk di sana, menyantap kopi, memandang jalan Braga yang pagi ini terlihat begitu ranum—jalanan tua yang seolah tidak pernah benar-benar kehilangan romantismenya. Orang itu duduk cukup lama. Menikmati waktu, atau mungkin melarikan diri dari sesuatu, saya tidak tahu.
Lalu beberapa saat kemudian, ia pergi. Dan yang tertinggal hanya kursi kosong. Tak bertuan, diam, menunggu. Tidak lama kemudian, ada orang lain datang dan duduk di tempat yang sama. Memesan kopi lain. Membawa cerita lain. Lalu siklus itu berulang lagi.
Datang , tinggal sebentar, lalu pergi.
Saya baru sadar, hidup manusia mungkin memang tidak jauh berbeda dari kursi-kursi di kafe itu. Kita mengisi ruang yang sebelumnya ditempati orang lain. Kita hadir sebentar di hidup seseorang, lalu suatu hari pergi dan digantikan oleh hal lain. Tidak selalu tragis, tidak selalu menyakitkan. Kadang itu hanya bagian dari cara dunia bergerak.
Dan mungkin itulah yang disebut transisi. Banyak orang mengira hidup hanya soal tujuan akhir: lulus, bekerja, berhasil, tua. Padahal sebagian besar hidup justru terjadi di tengah-tengah perpindahan itu. Saat kita belum tahu akan jadi apa. Saat seseorang masih bersama kita, tapi diam-diam mulai menjauh. Saat sebuah tempat perlahan berubah asing meski bentuknya masih sama.
Liminal space selalu terasa sedikit sepi karena ia berada di antara dua keadaan.
Seperti stasiun setelah kereta terakhir pergi.
Seperti lorong sekolah sore hari.
Seperti kursi kosong di sudut kafe Braga.
Dan mungkin karena itulah manusia sering takut pada transisi. Karena di dalamnya ada ketidakpastian. Kita tidak tahu siapa yang akan datang, siapa yang akan tinggal, dan siapa yang akhirnya pergi tanpa sempat berpamitan.
Namun hari ini saya mulai berpikir, mungkin hidup memang tidak diciptakan untuk menetap terlalu lama di satu tempat. Karena bahkan kopi yang hangat pun akhirnya dingin. Bahkan kursi yang kosong pun suatu hari akan terisi lagi.
Dan manusia, suka atau tidak, akan terus berjalan dari satu persimpangan menuju persimpangan berikutnya.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES197 Pemilu dan Gaya Komunikasi
Halo teman-teman yang budiman,lama rasanya saya tidak bercakap-cakap di sini. Maka pada kesempatan kali ini, izinkan saya menulis sesuatu yang agak berbeda dari biasanya. Bukan soal perjalanan, bukan soal musik, bukan pula soal novel, melainkan tentang pemilu dan gaya komunikasi.Awalnya sederhana s…

AES195 Membahas Sedikit soal Transum Bandung
Tulisan di Ririungan tanggal 3 September 2026Halo teman-teman yang budiman, kali ini saya ingin membagikan sedikit pengalaman menggunakan transportasi umum di Bandung. Dalam rentang tiga hari, saya sudah mencoba dua jenis transportasi umum yang sekarang mulai cukup sering terdengar namanya, yaitu b…

AES194 Jalan-Jalan 2 Minggu Ini
Tulisan di Ririungan tanggal 23 Agustus 2026Halo teman-teman yang budiman, sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis sepatah dua patah kata di sini. Entah kenapa, gairah menulis saya sempat mengalami kekeringan. Bukan karena tidak ada kehidupan yang berjalan, bukan juga karena kepala benar-benar…

