AtomicEssay

AES185 Hari Tanpa Pengharapan

carloslospenulis arsip2

Halo teman-teman yang budiman, entah sudah hari keberapa saya menulis novel ini. Rasanya hari-hari mulai bercampur satu sama lain. Pagi menjadi sore, sore menjadi malam, dan halaman demi halaman terus bertambah tanpa saya benar-benar sadar sudah berjalan sejauh apa. Hari ini saya ingin bercerita mengenai sesuatu yang sederhana, sesuatu yang mungkin bagi orang lain hanya pemandangan kecil yang lewat begitu saja.

Di sebuah kafe, ada seseorang yang membawa anjingnya. Awalnya tidak ada yang terlalu menarik. Orang-orang tetap berbicara, kopi tetap datang ke meja, dan jalanan di luar tetap sibuk dengan urusannya masing-masing. Tapi kemudian sang pemilik pergi sebentar ke toilet. Dan yang tertinggal hanyalah si anjing. Ia mulai menggonggong pelan. Tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat saya memperhatikannya. Ada sesuatu pada suaranya—bukan marah, bukan pula takut seperti melihat ancaman. Rasanya lebih seperti kehilangan.

Ia menoleh ke kanan dan kiri, matanya terus mencari. Seolah-olah sesuatu yang menjadi dunianya baru saja menghilang beberapa langkah. Lalu saya tiba-tiba memikirkan sesuatu. Bagi seekor anjing, mungkin majikannya adalah semacam dunia kecil. Sosok yang memberinya makan, tempat pulang, rasa aman, dan alasan mengapa hari-harinya berjalan seperti biasa. Tidak heran jika ia menangis saat ditinggalkan, meski hanya sebentar.

Dan anehnya, saya merasa manusia tidak begitu berbeda. Jika seseorang sudah terlalu lama nyaman pada satu hal, ia akan sulit melepaskannya. Bisa seseorang, tempat, kebiasaan, atau bahkan masa lalu. Kita mulai percaya bahwa apa yang kita miliki sekarang akan selalu ada besok. Lalu saat sesuatu itu perlahan menjauh, kita mulai gelisah.

Mulai mencari. Mulai merasa ada bagian yang hilang. Memang kita manusia lebih rasional daripada hewan. Kita bisa berpikir lebih panjang, membuat keputusan, meyakinkan diri sendiri dengan kalimat-kalimat yang terdengar dewasa. Tapi di bawah semua itu, saya rasa ada bagian dalam diri manusia yang masih sangat sederhana. Bagian yang takut ditinggalkan.

Bagian yang diam-diam ingin tetap tinggal di tempat yang terasa nyaman. Mungkin perbedaannya hanya satu: anjing menggonggong ketika kehilangan, sedangkan manusia sering memilih diam. Dan hari ini saya sadar, mungkin pengharapan yang paling berat bukanlah berharap sesuatu datang. Melainkan berharap sesuatu yang sudah ada... jangan pergi.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES192 Melihat Lebih Dekat

Halo teman-teman yang budiman, jujur saja, awalnya saya tidak tahu judul apa yang layak untuk tulisan hari ini. Ada hari-hari ketika judul datang lebih dulu daripada isi tulisan. Tapi ada juga hari ketika isi kepala berjalan sendiri, sementara judul tertinggal jauh di belakang. Maka saya memilih ju…

carloslos00
AtomicEssay

AES191 Membedah KPB

Halo teman-teman yang budiman, hari ini saya ingin menceritakan sedikit perihal KPB, atau Kelompok Petualang Belajar. Pada mulanya, KPB sudah menjadi semacam tradisi setiap awal naik kelas. Ia hadir sebagai cara sekolah memperkenalkan kembali esensi KPB kepada murid-murid baru, juga mungkin kepada…

carloslos00
AtomicEssay

AES190 Sonichi

Halo teman-teman yang budiman, hari ini saya ingin menuliskan pengalaman saya kembali ke sekolah. Saya memilih judul “Sonichi” tentu bukan tanpa alasan. Dalam bahasa Jepang, sonichi berarti hari pertama. Saya mengenal istilah itu dari dunia JKT48, biasanya dipakai untuk menyebut momen ketika seoran…

carloslos10