AES188 Novel Pertama

Halo teman-teman yang budiman, tak terasa fase akhir itu akhirnya terlewati juga. Hari Senin kemarin, saya sudah menyelesaikan presentasi proyek novel saya. Rasanya aneh sekaligus lega. Sesuatu yang selama satu bulan terakhir terus saya pikirkan, tulis, bongkar, rapikan, dan pertanyakan, akhirnya sampai juga pada satu titik akhir. Menarik sekali kalau dipikir-pikir, sebab selama proses ini saya tidak hanya menulis novel. Saya juga menulis banyak hal tentang proses pembelajaran saya sendiri melalui AES-AES yang selama ini teman-teman baca. Di sana ada amatan saya, keresahan saya, misuh-misuh kecil saya, dan segala hal yang berhubungan dengan cerita utama yang sedang saya bangun.
Barangkali AES itu menjadi semacam catatan kaki dari perjalanan novel ini. Bukan bagian utama dari cerita, tetapi justru di sanalah saya banyak memahami diri sendiri. Saya belajar bahwa menulis bukan hanya soal menyelesaikan halaman, melainkan juga soal berhadapan dengan pikiran sendiri. Kadang menyenangkan, kadang menyebalkan, kadang membuat kepala penuh, tapi pada akhirnya tetap memberi sesuatu untuk dibawa pulang. Novel pertama tentu tidak akan pernah sempurna. Akan selalu ada kalimat yang kelak terasa kurang matang, adegan yang bisa dibuat lebih baik, atau bagian yang mungkin membuat saya di masa depan tersenyum malu ketika membacanya lagi. Tapi saya rasa tidak apa-apa. Sebab novel pertama bukan tentang kesempurnaan. Ia tentang keberanian untuk memulai dan menyelesaikan.
Saya juga sudah membuat sebuah laman situs yang bisa teman-teman pembaca akses melalui pranala berikut:
Di sana, teman-teman bisa melihat bagian dari perjalanan ini dengan lebih utuh. Sebuah perjalanan kecil yang lahir dari satu bulan penuh refleksi, kebingungan, usaha, dan tentu saja tulisan-tulisan yang tidak selalu rapi, tapi saya harap tetap jujur. Sekali lagi, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada teman-teman yang sudah meluangkan waktu membaca AES saya. Terima kasih sudah ikut menyaksikan proses ini, dari awal yang masih samar sampai akhirnya menjadi sesuatu yang bisa saya sebut sebagai novel pertama.
Dan mungkin, seperti semua akhir yang baik, ini bukan benar-benar selesai. Ini hanya halaman pertama dari perjalanan menulis yang lebih panjang.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES192 Melihat Lebih Dekat
Halo teman-teman yang budiman, jujur saja, awalnya saya tidak tahu judul apa yang layak untuk tulisan hari ini. Ada hari-hari ketika judul datang lebih dulu daripada isi tulisan. Tapi ada juga hari ketika isi kepala berjalan sendiri, sementara judul tertinggal jauh di belakang. Maka saya memilih ju…

AES191 Membedah KPB
Halo teman-teman yang budiman, hari ini saya ingin menceritakan sedikit perihal KPB, atau Kelompok Petualang Belajar. Pada mulanya, KPB sudah menjadi semacam tradisi setiap awal naik kelas. Ia hadir sebagai cara sekolah memperkenalkan kembali esensi KPB kepada murid-murid baru, juga mungkin kepada…

AES190 Sonichi
Halo teman-teman yang budiman, hari ini saya ingin menuliskan pengalaman saya kembali ke sekolah. Saya memilih judul “Sonichi” tentu bukan tanpa alasan. Dalam bahasa Jepang, sonichi berarti hari pertama. Saya mengenal istilah itu dari dunia JKT48, biasanya dipakai untuk menyebut momen ketika seoran…
