AES189 Pulang Lalu Pergi

Halo teman-teman yang budiman, hari ini izinkan saya bercerita sedikit. Saat saya menulis kata-kata ini, saya sedang mengantarkan ibu saya kembali ke tanah perantauan, Papua. Sebuah tempat yang jauh, bukan hanya dalam hitungan jarak, tetapi juga dalam rasa.
Ada laut, langit, dan waktu yang membentang di antara kami. Dan seperti biasa, setiap kali momen ini datang, ada sesuatu yang terasa berat di dada. Namun anehnya, berat ini bukan sesuatu yang asing. Saya sudah terlalu sering mengalaminya. Mengantar ibu pergi, melihat koper ditarik perlahan, mendengar suara bandara yang ramai tapi tetap terasa sunyi di bagian tertentu.
Lalu setelah itu, saya akan pulang dengan perasaan yang tidak sepenuhnya utuh, sambil menyimpan satu harapan yang sama: semoga ibu kembali dengan badan yang sehat dan isi koper yang siap diisi makanan. Sebab dalam keluarga kami, kepulangan tidak hanya ditandai dengan pelukan.
Kadang ia juga ditandai dengan oleh-oleh, makanan, cerita, dan tawa kecil tentang perjalanan jauh yang akhirnya selesai untuk sementara. Ibu saya pernah bercerita tentang bandara. Katanya, bandara adalah tempat yang menyenangkan sekaligus menyedihkan. Menyenangkan karena di sanalah orang pulang. Menyedihkan karena di sanalah orang pergi.
Saya rasa kalimat itu benar. Bandara memang tempat yang aneh. Ia tidak sepenuhnya milik perpisahan, tapi juga tidak sepenuhnya milik pertemuan. Di sana, orang-orang datang dengan wajah berbeda.
Ada yang terburu-buru, ada yang memeluk terlalu lama, ada yang menahan air mata, ada pula yang pura-pura biasa saja karena tidak ingin perpisahan terlihat terlalu menyakitkan. Hal ini mengingatkan saya pada tulisan saya sebelumnya, AES ke-182, tentang momen transisi.
Tentang ruang-ruang yang berada di antara dua keadaan. Belum sepenuhnya selesai, tapi juga belum benar-benar dimulai. Dan bandara adalah salah satu ruang seperti itu. Saya tahu bandara tidak pernah benar-benar berdetak.
Ia tidak punya jantung untuk ikut sedih, tidak punya mata untuk ikut menangisi kepergian banyak penumpangnya. Baginya, orang datang dan pergi hanyalah bagian dari jadwal. Pesawat mendarat, pesawat lepas landas, koper berjalan di ban berjalan, pengumuman terdengar dari pengeras suara.
Semua berjalan seperti biasa. Tapi bagi manusia yang berdiri di dalamnya, bandara tidak pernah biasa. Bandara menjadi saksi bagi orang yang pergi dan orang yang menunggu. Bagi tangan yang melepas dan tangan yang kelak kembali terbuka.
Mungkin bandara hanya bisa mendengar dengungan pesawat, bukan getaran emosi manusia. Tapi justru karena ia diam, semua perasaan manusia menjadi terasa lebih keras.
Di sanalah seseorang belajar bahwa pergi bukan selalu berarti meninggalkan selamanya. Kadang pergi hanyalah cara hidup bekerja. Seseorang harus berangkat agar suatu hari bisa pulang.
Seseorang harus meninggalkan rumah untuk menjaga rumah itu tetap hidup. Dan seseorang yang ditinggalkan harus belajar menunggu tanpa tahu persis kapan rindunya akan selesai.
Pada akhirnya, momen seperti ini akan terus terjadi. Ibu akan pergi dan pulang. Saya akan mengantar dan menunggu. Sampai suatu hari, mungkin giliran saya yang memiliki akreditas untuk bekerja, lalu pergi ke tempat yang jauh, membawa koper sendiri, dan meninggalkan seseorang di belakang dengan perasaan yang sama.
Barangkali saat hari itu tiba, saya akan lebih mengerti. Bahwa hidup manusia memang bergerak di antara pergi dan pulang. Dan di antara keduanya, ada cinta yang tidak selalu banyak bicara, tapi tetap menunggu dengan sabar.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES197 Pemilu dan Gaya Komunikasi
Halo teman-teman yang budiman,lama rasanya saya tidak bercakap-cakap di sini. Maka pada kesempatan kali ini, izinkan saya menulis sesuatu yang agak berbeda dari biasanya. Bukan soal perjalanan, bukan soal musik, bukan pula soal novel, melainkan tentang pemilu dan gaya komunikasi.Awalnya sederhana s…

AES195 Membahas Sedikit soal Transum Bandung
Tulisan di Ririungan tanggal 3 September 2026Halo teman-teman yang budiman, kali ini saya ingin membagikan sedikit pengalaman menggunakan transportasi umum di Bandung. Dalam rentang tiga hari, saya sudah mencoba dua jenis transportasi umum yang sekarang mulai cukup sering terdengar namanya, yaitu b…

AES194 Jalan-Jalan 2 Minggu Ini
Tulisan di Ririungan tanggal 23 Agustus 2026Halo teman-teman yang budiman, sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis sepatah dua patah kata di sini. Entah kenapa, gairah menulis saya sempat mengalami kekeringan. Bukan karena tidak ada kehidupan yang berjalan, bukan juga karena kepala benar-benar…

