AtomicEssay

AES192: Menghadapi orang egois

haegenquinstonpenulis arsip2

Salah satu orang yang paling bisa membuatku kesal ataupun sulit diajak ngobrol bagiku adalah orang yang egois. Dari pandanganku, orang yang egois selalu punya maksud tertentu dalam mengerjakan segala hal, sulit untuk ditentang, dan sifat aslinya sangat baru kelihatan saat kita sudah dekat dengan pribadi orang tersebut. Kenapa orang bersifat egois itu sulit dihadapi, karena pikirannya selalu menuju ke manfaat diri sendiri, kebanggaan sendiri, bukan kebaikan bersama (cenderungnya).

Salah satu orang yang dekat denganku, ternyata setelah kuanalisis, dasar dari seluruh perbuatannya itu karena egois. Akhir-akhir ini, aku kurang suka dengan perbuatannya. Tapi aku tidak tahu alasannya, mungkin karena perbuatannya merugikan diriku, bisa juga karena perbuatannya merugikan sesama. Karena aku terlalu peduli dengan sesama dan orang dekatku, maka aku pun tidak suka perilaku orang egois tersebut. 

Bagaimana cara menghadapi orang egois seperti itu? Kalau aku bilangin dia, sudah pasti tiap kali reaksinya selalu cuek, membelot, dan tidak menuruti apa saran/perintah yang kukatakan. Aku pun biasa-biasa aja terhadap hal itu, karena sudah wajar terjadi. Lagipula, aku juga tidak perlu berekspektasi kepada dia untuk menurut, bukan urusanku juga.

Yang namanya kepedulian terhadap 'teman' pastinya selalu ada, tidak berhenti, tetapi terbatas. Di satu sisi aku cukup merasa kasihan terhadapnya dan sifatnya yang seperti itu, tetapi di satu sisi aku juga kesal karena sifatnya merugikan orang-orang, termasuk diriku sendiri. Bagaimana solusi dari kegelapan terowongan tanpa ujung seperti ini?

Hidup itu, sangat membutuhkan orang lain. Tanpa kita rasakan, ada banyak orang lain yang membantu dan berdampak bagi diri kita sendiri, bahkan kita andalkan untuk kebutuhan sehari-hari kita sendiri. Jika semua orang lain tersebut hilang, kita sudah tidak menjadi manusia (makhluk sosial) dan pasti kesulitan bertahan hidup sendiri. 

Maka dari itu, alangkah baiknya kita bisa bermanfaat bagi orang lain, terutama yang dekat dengan diri kita, dengan berbagi dan berbuat baik terhadap mereka. Kita perlu memperlakukan orang lain sama seperti kita diperlakukan seperti apa. Jangan sampai kita hanya berpikir, hidup ini bisa saya kerjakan sendiri, tanpa bantuan orang lain, peduli amat apa yang orang lain lakukan, semuanya buat saya saja (supaya mendapat keenakan).

Semua orang tentu punya sifat egois di hati mereka, aku pun begitu. Yang perlu kita belajar adalah meminimalisir rasa tersebut, mengatur/menjaga hati kita agar tidak terbawa perasaan tersebut terlalu jauh. Kalau aku bisa jujur, rasa egoisku sudah jauh lebih minim daripada teman-temanku yang lain, keinginanku bisa diatur dan ditahan, karena aku lebih peduli pada kesenangan orang lain. 

Intinya supaya tidak egois itu 2, yaitu SADAR dan PEDULI.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES239: The Scouting of Earth Hour

Pagi hari ini aku ikut serta dalam kegiatan promosi Earth Hour yang diadakan di pendopo, sebagai seorang pengamat. Sejujurnya, kegiatan ini bagiku cukup membosankan karena, target audiens utama komunitas mereka (yang mengadakan) adalah anak-anak. Di awal kegiatan, aku bisa melihat partisipasi adik-…

haegenquinston10
AtomicEssay

AES238: Move On

Mendekati masa ujian, kehidupan anak-anak SMA di Kelas 12 secara umum menjadi semakin berat, terfokuskan pada ujian, dan terbebani akan masa depan yang berada di depan mereka. Tidak hanya di sekolah luar, di Smipa pun, anak-anak di KPB K12 merasa begitu. Sudah saatnya kita serius dalam menuju tujua…

haegenquinston10
AtomicEssay

AES237: Diriku yang Berbeda

Ketika kita, sebagai seorang individu, bisa peka terhadap lingkungan sekitar, peka terhadap perilaku diri, dan peka terhadap karakter hati diri. Maka kita bisa bilang, ia cukup bisa 'mengenal' dan melihat diri sendiri, melalui proses refleksi. Walau begitu, seseorang tidak bisa mengenal dirinya sen…

haegenquinston20