AtomicEssay

AES22 - Bebek Bahagia

Ara Djatipenulis arsip2

Pada hari Jumat kemarin, aku dan ibuku berjalan-jalan ke Takaraga-ike Park. Taman ini terletak tidak jauh dari Shugakuin International House, rumah kami selama di Kyoto. Sedikit latar belakang: Ayahku sedang melakukan riset di Universitas Kyoto selama tiga bulan, jadi aku dan ibuku ikut. Karena pengalamanku sepertinya akan cukup menarik, aku mendokumentasikannya di AES.

Perjalanan ke Takaraga-ike Park cukup menyenangkan, karena ada banyak daerah dan rumah yang unik untuk dilihat. Jalur ke arah taman itu melewati bagian perumahan di samping hutan. Hutan-hutan di daerah ini banyaknya berbentuk semacam gundukan tanah bila dilihat dari kejauhan, tapi dari dekat terlihat misterius. Di kaki salah satu gundukan inilah ada jalur perumahan tersebut. Rumah-rumahnya berada tepat di pinggiran hutan, semeter di belakangnya sudah ada pepohonan lebat. Terlihatnya asyik untuk ditinggali, tapi kalau dipikir agak seram juga karena pepohonan itu begitu misterius. Atau mungkin itu hanya aku saja yang mudah takut.

Bagian Takaraga-ige Park yang pertama lihat adalah semacam taman bermain. Di sana ada banyak sekali anak-anak, mungkin umurnya setara PG atau TK, dengan seragam-seragam putih. Mereka sepertinya sedang outing bersama, dibagi jadi beberapa kelompok. Tiap kelompok memakai topi dengan warna berbeda. Melihatnya lucu juga, karena sistem warna topi itu sangat kreatif dan membantu.

Karena area taman bermain begitu panas, aku dan Ibu memutuskan untuk berjalan ke area yang lebih teduh. Kami mencari jalan ke arah danau yang ada di taman itu, tujuan utama kami pergi ke sana.

Selama perjalanan ke arah danau, kami bertemu rusa. Dia diam saja ketika didekati, tapi tampaknya tidak suka dipegang. Ada juga beberapa pengunjung lain. Lucunya, kami sempat berpapasan dengan beberapa orang yang mengenakan baju kantor formal, meskipun hanya berkunjung ke taman.

Kami tiba di danau, sebuah tempat indah yang dilingkari gunung dan tanaman. Begitu danau terlihat di depan kami, terlihat pula seekor bebek putih. Dia dengan santai mengapung di atas air. Anehnya, tampaknya dia satu-satunya bebek di situ.

Selama kami duduk, memotret pemandangan dan makan siang di samping danau, bebek itu terus ada. Orang-orang yang lewat banyak yang terhibur olehnya dan memotretnya, begitu pula kami. Bebek itu lama-kelamaan bosan mengapung air, jadi dia berenang ke tepian dan mandi. Dengan paruhnya dia melempar air ke ekornya. Lalu dia mencelup-celupkan lehernya ke dalam air. Gerakannya lucu, seperti sedang menari. Untuk mengakhiri tariannya, dia membuka sayapnya lebar-lebar dan mengeringkan bulunya.

Bebek itu keluar dari danau dan ke rumput. Dia sempat berjalan-jalan, lalu akhirnya duduk memandang danau. Tampaknya dia mulai mengantuk. Dia memejamkan matanya, lehernya mengangguk-angguk, dan akhirnya tertidur.

Bebek itu lucu sekali, begitu menikmati hidup. Yang paling mengesankan darinya adalah bahwa dia tampaknya membuat begitu banyak orang bahagia. Mulai dari yang tertawa, menunjukkannya pada teman, memotretnya, memberi makan. Kebahagiaan bebek itu membuat pengunjung bahagia juga.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES130 - MPLS 3: Mulai

Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

Ara Djati10
AtomicEssay

AES129 - MPLS Day 2: Konstan

Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

Ara Djati00
AtomicEssay

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB

Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…

Ara Djati10