AES24 Menjadi siapa lagi? #1

"Kita sering diajarkan untuk berteman sebanyak-banyaknya, hingga lupa untuk menjadi diri sendiri sejadi-jadinya."
Seorang teman mengatakan hal yang seketika membuat beberapa dari kami termenung sejenak. Dalam diam kami menyepakati kalimat itu meski pikiran masih mencari berkas-berkas alasannya di laci-laci ingatan. Tanpa disadari kalimat itu terbawa jauh dan dalam di benak kami masing-masing. Setidaknya setiap kami langsung menghitung berapa banyak teman yang kami punya per hari ini juga. Baru setelahnya, kami melanjutkan pada sejauh mana kami mengenal diri masing-masing. Tentu saja pencarian ini hanya tersirat dari tatapan mata dan ekspresi wajahnya.
Mencari teman sebanyak-banyaknya. Hal ini sangat relate dengan jaman ini. Dimana segala sesuatunya lebih diukur dari kuantitas, daripada kualitasnya. Jumlah followers di akun media sosial bahkan bisa menjadi komoditas yang menjanjikan. Meski entah berapa persen saja yang benar-benar dikenali. Namun banyak orang mulai tidak peduli dengan pengenalan. Jumlah di atas segala-galanya. Sayangnya, hal ini juga menggiring kita menjauh dari menjadi diri sediri sejadi-jadinya. Kita sibuk memoles luaran untuk mendapat perhatian dan followers baru sebanyak-banyaknya.
Jadi, bagaimana kita bisa menjadi diri sendiri sejadi-jadinya di jaman yang serba jadi-jadian ini? Berapa sering dan banyak kita setiap hari TIDAK menjadi diri sendiri? Atau kita sederhanakan pertanyaannya:
"Sudahkah kita menjadi diri sendiri hari ini?"
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

#AES40 MaLAYa (Mamat, Lyn, Andy, Yanti)
Pada 23 Januari 2023 Bandung dan Cimahi masih diselimuti awan teduh. Sepertinya langit sengaja mengerahkan para awan untuk memayungi petualang Malaya bertualang dalam kayuhan. Hawa dingin tidak mengerutkan hangatnya perjumpaan dan tekad untuk bersama menyusuri segala medan di depan. Beriring doa da…

AES39 Kembali Mengayuh
Cerita hari ini (Senin, 23 Januari 2023) memang akan saya tulis. Hari yang sederhana, namun amat berkesan (seperti juga ungkapan kak Lyn tentang perjalanan ini; "berkesan"). Sesederhana kayuhan sepeda. Ketika tetap mengayuh, kita berjalan. Dalam kayuhan, kita seimbang, meski seolah tak ada yang men…

AES38 Kamar Mbah Oyeng #waktukukecil4
Aroma rambut mbah Oyeng paling terasa di kamar. Menempel di bantal, di jarik, di guling, dan dipelukan mbah Oyeng setiap malam. Tius suka sekali dengan aroma kamar mbah Oyeng. Kalau Tius sedang merasa sedih atau marah, Tius sering membenamkan wajahnya ke bantal di kamar mbah Oyeng. Semua bantal pas…