AES25 Memanusiakan Manusia

Ini adalah satu topik yang belakangan ini aku pikirkan, kalau kita perhatikan banyak sekali orang yang tidak memanusiakan manusia. Bahkan aku sendiri, kadang-kadang aku lupa untuk memanusiakan diriku sendiri. Aku rasa masih banyak orangtua yang tidak memanusiakan anaknya, anak yang tidak memanusiakan orangtaunya. Setiap manusia itu berbeda, unik. Itulah yang membuat menusia menjadi manusia.
Aku kurang paham juga sih, sejak kapan kita lupa memanusiakan manusia dan kenapa. Manusia itu punya kapasitas masing-masing, manusia itu bisa lelah, sedih, dan sakit. Aku ngga paham kenapa itu nggak bisa dianggap sesuatu yang normal. Dulu aku melihat istirahat itu sebagai sesuatu yang lemah, ya aku juga kena brainwash ya kawan-kawan. Sampai suatu saat aku sadar, kenapa aku harus malu sih untuk istirahat, orang aku emang cape.
Aku juga kemakan sih sama hustle culture, mikirnya overworking itu keren dan itu definisi kerja keras. Hal yang membuat aku tersadar adalah waktu itu saat aku kelas 9 aku tuh cape banget. Kayak bener-bener frustasi deh, dan aku tuh kalau cape atau stress itu jadinya panas dingin gitu kan. Pada akhirnya aku malah sakit beneran, demam, lemes, mual, jalan aja oleng.
Akhirnya aku mikir, aku tuh bisa kok ngerjain tugasnya dicicil, aku tuh harus menaruh diriku sendiri dan waktu istirahatku sebagai poin yang penting. Maksudnya sejak itu aku belajar, kalau cape ya istirahat, kalau laper ya makan. Jangan ditahan-tahan akhirnya sakit repot sendiri gitu.
Maksudku memanusikan manusia bukan berarti kita bisa males-malesan dong. Ya nggak lah, orang cape sama males tuh dua hal yang berbeda. Kita semua juga tau kali bedanya males sama cape. Kalau males tuh “Aduh tugas banyak banget sih, meningan main tiktok aja lah aku” kalau cape tuh “Buset kenapa kenapa cenat cenut gini sih, mana belum makan lagi. Duh tapi ini tugas masih banyak”. Nah, itu kan beda banget dong.
Kita semua adalah manusia yang selayaknya dianggap manusia. Sewajarnya manusia itu cape, sedih, pegel, lieur. Kita harus tau dimana kapasitas kita dan jangan memaksakan diri kita, hidup mah cuma sekali masa tiap hari lieur. Dan aku rasa kita juga harus selalu mengingatkan orang-orang di sekitar kita bahwa mereka itu lupa. Kalau ada temen yang overworking dibantu, atau diingatkan.
picture: https://id.pinterest.com/pin/850617448365686795/
Komentar (3)
Betul.. it's okey to not be okey
Bacaan asik buat memulai 2022. Terima kasih Saski, ditunggu tulisan2 berikutnya ya.
human heart emoji heart
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:
AES126 Tanda-Tanda Tanda Tanya
Semalam sebelum aku tertidur aku bertanya “Besok pagi mau sarapan pake telor dadar atau telor ceplok ya?” Lalu, saat bangun tidur aku bertanya “Kira-kira kalau aku dulu milih kampus yang berbeda, hidup aku sekarang kayak gimana ya?” Bahkan saat melangkah masuk metro line B pun muncul pertanyaan “Ap…

AES125 Semuanya Tiba Tiba
Rasanya kehidupan belakangan ini banyak elemen ‘tiba-tiba’ nya deh, dalam beberapa konteks. Walaupun secara garis besar ku masih ngerasa ling-lung menjalani rutinitas baru ku disini; perlahan tapi pasti mulai lebih terbiasa. Sekarang sudah jauh lebih kenal dengan teman-teman, hafal nama gedung dan…

AES124 Lika Liku dan Gebrakan Menjadi MABA
“Sas, gimana kabarnya disana?” Gimana ya kabar aku, aku sendiri yang menjalani bingung gimana cara jawab pertanyaan ini. Seperti orang pada umumnya, reflek pertama adalah “hi, kabar aku baik kok”. Tapi aku jadi bingung, apa bener kabar aku lagi baik-baik aja. Rasanya ada banyak pilihan kata lain ya…



