AES254 Masih Bergunakah Sekolah Kita?

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan tautan artikel melalui WA dari kak Robert di salah satu grup WA saya. Judulnya provokatif, "Masih Bergunakah Sekolah Kita?" - dituliskan oleh Romo Sidharta Susila, seorang pengamat sekaligus praktisi pendidikan yang tinggal di Semarang. Tautan itu segera saya sebar ke beberapa rekan dan grup WA yang saya kenal. Buat saya tulisan itu sangat menarik - bukan hanya menarik tapi juga penting untuk terutama jadi bahan refleksi kita semua para penyelenggara lembaga pendidikan.
Tulisan ini penting karena juga sangat relevan buat kita. Kalau disrupsi kehidupan begitu besar, begitu cepat, apakah sekolah masih punya tempat dan perannya di tengah masyarakat. Sejak beberapa tahun yang lalu, mbah Google sudah ada di genggaman tangan kita dan anak-anak kita untuk menjawab kebutuhan atau pencarian tentang informasi. Pengetahuan sangat mudah didapat. Sedangkan sebelumnya kita pergi ke sekolah untuk mendapatkan pengetahuan. Kalau pengetahuan sudah ada di gengggaman tangan kita, lalu apa gunanya guru dan para dosen? Ujung-ujungnya mereka hanya menjadi penyedia ijazah dan diploma yang mungkin dibutuhkan oleh para pemberi kerja.
Tapi inipun sudah tidak lagi demikian. sejak 5-6 tahun yang lalu, Google sudah mengumumkan secara terbuka ke seluruh dunia bahwa perusahaan raksasa ini menerima karyawan tanpa harus memiliki ijazah sarjana. Nah kalau Google saja sudah melakukan langkah demikian, saya yakin banyak perusahaan yang saat ini sudah mengikuti langkah Google.Saya yakin juga banyak perusahaan yang melihat bahwa jangan2 hal-hal seperti ini yang memberikan perusahaan global ini banyak keunggulan kompetitif (competitive advantage) di antara berbagai korporasi lainnya.
Lalu apa dan di mana fungsi sekolah sekarang. Metaverse sedang banyak digunjingkan. Sebuah dunia virtual yang disebut2 bakal mengubah peradaban. Pertanyaan ini sangat layak direnungkan oleh kita bersama. Bagi saya dan Semi Palar sepertinya kita masih punya jawaban tentang ini. Tulisan ini pasti akan dielaborasi lebih jauh di esai-esai berikutnya. Tapi mari jadikan artikel Kompas di atas bahan refleksi kita bersama. Salam.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES951 Siap Bersekolah
Pagi ini di ruang tempat kami berdiskusi - berkoordinasi, terdegar suara tangisan seorang anak. Hari Selasa ini kami baru memasuki hari ke lima bersekolah, di TP ke 22 ini. Mengamati sebentar, sepertinya ini terjadi karena kenyamanan teman baru ini di rumah barunya. Murid di TK-A yang masih perlu w…

AES919 Menuju Tata Dunia Baru
Hmm, tulisan ini adalah bagian dari upaya saya memahami apa sedang terjadi di skala global. Semacam literasi semesta dalam skala global. Berusaha memahami dinamika yang sesungguhnya terjadi di dunia yang sedang karut marut ini. Detailnya tidak usah diceritakan ya. Ruwet mbelibet mbanget. Dan konyol…

AES233 Jeda, Perubahan dan Harapan
Esai malam ini masih nyambung sama tulisan saya yang terdahulu - yang judulnya OFF dan ON. Lebih jauh saya mau mengoneksikan juga sama tulisan Joe (AES224 Last Day) dan tulisan Ahkam yang menulis tentang AES148 Web 3.0 : Sebuah Optimisme. Sayangnya di peralihan tahun ini belum terlalu banyak warga…
