AtomicEssay

AES265 Hari Raya Berubah Kendala

Andy Sutiosopenulis arsip3

Esai pertama hari ini adalah tentang Hari Raya. Mungkin ada rekan-rekan yang mengamati bagaimana sejak dua tahun lalu muncul pola yang berulang dan cukup menarik. Bagaimana Hari Besar Keagamaan yang sifatnya perayaan bisa beralih dan berubah dari perayaan (hari yang membahagiakan) menjadi berbagai permasalahan. Bagaimana dan ini muncul dari konteks kegiatan yang sifatnya mestinya mendekatkan kita umatnya kepada Tuhan. 

Bulan Juni tahun lalu, kita berhadapan dengan ledakan COVID yang selama beberapa waktu selanjutnya membawa begitu banyak korban. Kalau teman-teman ingat saat itu, suasana mencekam. Ambulans tidak berhenti mondar-mandir kesana kemari. Berita kematian bergantian bersautan dari pengeras suara mesjid-mesjid dan pengurus RT-RW memberitakan kematian warga setempat. Berita duka mondar-mandir di berbagai grup WA di gawai kita. Sampai ada waktunya enggan saya membuka WA karena begitu banyak berita yang tidak kita harapkan tentang orang-orang yang kita kenal. Sangat menyedihkan. 

Momen-momen itu hadir saat setelah perayaan hari raya Idul Fitri di tahun lalu. Waktu itu Indonesia berhadapan dengan puncak kasus COVID gelombang 2 dengan kasus aktif mencapai 58.000-an kasus. Fasilitas Kesehatan kewalahan, tempat-tempat pemakaman sampai penuh sehingga mesti dibuka lahan-lahan baru. Akhir tahun 2021, hal ini berulang lagi. Setelah liburan Natal dan Tahun Baru yang sebetulnya cukup kondusif, kita berhadapan lagi dengan gelombang ke tiga setelah perayaan Imlek - tahun baru yang dirayakan masyarakat Tionghoa. Tapi ya karena sifatnya perayaan, banyak yang pergi merayakan, kemudian banyak yang jadi korban juga. 

Akhirnya ada pola yang muncul bahwa berbagai rencana yang kita buat di awal tahun jadi banyak terkendala atau berubah karena situasi yang sangat tidak menentu. Lihat saja grafik kasus aktif COVID yang ada. Saya pikir dalam situasi pandemi ini, kesadaran ini perlu ada - kalau kita perlu menjalankan hidup yang lebih terprediksi - walaupun mungkin kita perlu lebih menahan diri untuk berhura-hura saat berhadapan dengan hari raya. Bagaimanapun, perayaan hari besar keagamaan, akan jauh lebih bermakna kalau dijadikan momen reflektif - momen yang hening untuk mendapatkan makna dari perayaan hari-hari besar tersebut. Seperti saya sempat tuliskan di catatan saya kemarin, tujuan utama agama-agama adalah menuntun manusia penganutnya untuk beralih ke ranah spiritual - menjauh dari ranah material yang sifatnya keduniaan. Salam. 

Photo by Sharon McCutcheon from Pexels

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES16 Covid, Friends, and Privilege

After about 1 year after the pandemic started, I have a new perception about almost everyone. And now I can see someone’s personality from how they respond to covid. Well, it’s not a secret that I have serious trust issues, and now it got worst because of covid. I lost respect for people that don’t…

Saskia Electra10
AtomicEssay

AES887 Berkata Cukup

Sejak beberapa hari lalu, kita dihadapkan dengan kejadian yang mengiris perasaan. Ratusan korban jiwa akibat banjir, ribuan rumah, kerusakan tak terhitung akibat banjir besar di Sumatera. Detailnya tidak perlu dituliskan di sini, skalanya tidak terbayangkan. Mengingat bencana tsunami yang pernah me…

Andy Sutioso10
AtomicEssay

AES861 Menyempitnya Ruang Sakral Kehidupan

Hmm, tetiba terlintas untuk menulis tentang ini. Gegara Sabtu lalu saya menghadiri pernikahan anak teman SMA saya. Upacaranya bagus banget, khidmat, khotbahnya menarik dan banyak mengajak refleksi diri terhadap proses saya berkeluarga selama ini. Khidmat, sakral, itu yang terasa, didukung oleh lagu…

Andy Sutioso20