Atomicessaysmipa

AES34 Arak-Arakan Mimpi

matheusaribowopenulis arsip2

Matahari belum juga mengeringkan embun di punggung daun. Wajah-wajah mengantuk sudah mulai dipoles warna-warna serupa kain yang membelit tubuh mungil yang sesekali menggigil. Ini masih pagi, terlalu pagi bahkan untuk pedagang bubur menghaluskan beras yang ditakar menggunakan kaleng bekas susu. Masih terlalu pagi untuk pegawai menyetarter honda winnya menuju kantor desa. Terlalu pagi untuk ayam-ayam yang rabun mulai melihat lagi. Tetapi apa yang diketahui siang tentang pagi yang ramai di dapur ibu-ibu dengan 3 anak yang berebut bersiap ke sekolah. Tanpa berusaha memecah heningnya pagi, sendal japit membersamai langkah sepasang kaki yang juga menanggung beban sebuah bakul besar di pinggang. Langkahnya jelas, menuju pasar di ibu kota kecamatan yang tak pernah cukup menampung pengunjung setiap hari Selasa dan Jumat.

Langkah kaki terhenti. Matanya menatap bagai jangkar kapal lelah berlayar di pelabuhan sepi. Menjaga kapal tetap berdiam dari arus yang tak kenal permisi. Pernak-pernik baju cantik membiaskan cahaya pagi yang selalu layak dirayakan. Aneka bunyi-bunyian menghias jalanan yang beriring suara bising roda sepeda yang diganjal bungkus aqua gelas di sela rangkanya. Kilau mata bening menatap sekeliling dengan malu-malu, tetapi sinarnya tetap terasa, bak lampu mercusuar di tengah badai yang menatap dengan sorak dan debur ombak. Arak-arakan. Perempuan yang menggendong sebuah bakul besar baru akan beranjak setelah arak-arakan TK Pertiwi dan SD Negeri itu telah berlalu ditelan perempatan yang ramai. 

Hari yang berbeda, suasana yang sama. Perempuan yang menggendong sebuah bakul besar itu lamat-lamat memerhatikan arak-arakan itu melintas. Entah angan apa yang tersembunyi dibalik wajah tirus itu. Seperti galap malam yang tak pernah menyibak rahasianya meski pagi selalu tabah menantinya.

Hari yang berbeda lagi, suasana masih sama. Perempuan yang menggendong sebuah bakul besar itu kembali berada di sana. Di bawah gapura pasar yang selalu sepi di hari minggu. Arak-arakan masih selalu dan akan tetap menjadi sesuatu yang dinantinya. Kali ini sorot mentari memberi bayang isi angannya. Tanpa diketahuinya, angan dan harap yang tersuar ketika sepasang mata sayunya menyaksikan arak-arakan telah dicuri. Sang mentari berhasil menyusup masuk dan mencuri baca sepotong kalimat di sana.

"Harusnya aku juga di sana, menemani anak-anak itu arak-arakan dengan kostum warna-warni dan drumben yang mengiringi."

Kini, mimpi seorang nenek pedagang lotek di pasar yang becek telah terwujud. Impian itu menjadi nyata setelah 10 tahun ia berpulang menuju Sang Maha Rahim. Seorang cucu yang tak pernah bosan menyantap loteknya sebagai sarapan dan makan siang, hari ini menjadi seorang guru. Seperti yang dicita-citakan kehidupan melalui hatinya.

Komentar (2)

Andy Sutioso

Buagus narasinya kak.

mmatheusaribowo

Nuhun Kak Andy.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

Atomicessaysmipa

#AES40 MaLAYa (Mamat, Lyn, Andy, Yanti)

Pada 23 Januari 2023 Bandung dan Cimahi masih diselimuti awan teduh. Sepertinya langit sengaja mengerahkan para awan untuk memayungi petualang Malaya bertualang dalam kayuhan. Hawa dingin tidak mengerutkan hangatnya perjumpaan dan tekad untuk bersama menyusuri segala medan di depan. Beriring doa da…

matheusaribowo31
Atomicessaysmipa

AES39 Kembali Mengayuh

Cerita hari ini (Senin, 23 Januari 2023) memang akan saya tulis. Hari yang sederhana, namun amat berkesan (seperti juga ungkapan kak Lyn tentang perjalanan ini; "berkesan"). Sesederhana kayuhan sepeda. Ketika tetap mengayuh, kita berjalan. Dalam kayuhan, kita seimbang, meski seolah tak ada yang men…

matheusaribowo42
Atomicessaysmipa

AES38 Kamar Mbah Oyeng #waktukukecil4

Aroma rambut mbah Oyeng paling terasa di kamar. Menempel di bantal, di jarik, di guling, dan dipelukan mbah Oyeng setiap malam. Tius suka sekali dengan aroma kamar mbah Oyeng. Kalau Tius sedang merasa sedih atau marah, Tius sering membenamkan wajahnya ke bantal di kamar mbah Oyeng. Semua bantal pas…

matheusaribowo00