AtomicEssay

AES37 Membereskan yang Belum Selesai

wulan bubuypenulis arsip2

Beberapa hari lalu aku memutuskan untuk beres-beres di rumah. Beres-beres yang kumaksud adalah memilah mana barang yang masih bisa kuberikan kepada orang lain dan mana yang sudah saatnya diucapkan selamat tinggal. Momen beres-beres atau declutter (hm, sejujurnya aku mulai akrab menggunakan kata ini sejak baca Marie Kondo) ini jadi semacam perjalanan singkat ke masa lalu (ciee), aku bisa tiba-tiba mengingat bau harum atau rasa bahagia atau sedih karena teringat sesuatu melalui benda tertentu. Ah, si melankolis suka begitu (lol). 

Nah, kemarin barang yang harus kurelakan untuk berpisah adalah beberapa karya samasa kuliah dulu termasuk maket-maket yang kukerjakan saat di studio interior. Ada perasaan bangga karena maket itu bisa bertahan sekian belas tahun lamanya. Selain debu yang bikin bersin gak berhenti, aku terkagum sendiri mengamati beberapa benda mungil yang sekarang pengerjaannya lebih mudah karena sudah ada mesin canggih bernama 3D printer. Gak bisa dibandingkan dengan maket mahasiswaku sekarang, semuanya betul-betul dikerjakan secara manual. 

Kembali ke soal beres-beres, sejak bapakku meninggalkan kami Desember 2020 lalu kami melakukan beres-beres ini sudah kesekian kalinya dan masih juga belum beres. Bapakku ini senang sekali menyimpan barang, tapi ya begitu, namanya juga rumah masa kecil yang muncul ya benda dari masa kecil kami. Mengingat semua rasanya rindu dan karena ibuku juga termasuk bagian yang menyumbangkan berbagai kenangan jadi selalu hadir pertanyaan "Ini masih mau Ibu simpan?". Terlihat sekali sih kelekatannya tapi Ibuku akhirnya pun ikut menyadari jika pun disimpan dan akhirnya beliau gak ada, lalu mau diapakan semua barang-barang itu? 

Sejujurnya, ada sisi melegakan ketika beberapa kenangan bisa aku lepaskan. Baik manis dari sebuah cerita memang paling enak untuk diingat-ingat dan membangkitkan semangat. Pemantik yang sifatnya baik inilah yang aku pilih untuk tetap disimpan, hanya mungkin tak lagi berupa barang tapi foto (haha) dan kemudian yang penuh bukan rumah tinggal tapi rumah virtual. Gapapa ya? Iya gapapa aku jawab sendiri saat mengabadikan fisik dari kenangan itu. Sudah saatnya, kenangan tetap masih bisa dikenang. Apa yang kita lakukan saat ini pun juga nantinya akan jadi kenangan, karena kita mau menyimpannya. Selanjutnya, membereskan apa yang belum selesai di dalam diri. Mari semangat beres-beres, semoga cepat selesai. 

Foto dari sini 

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES53 Kuy!

Uyah tara tees ka luhur sebuah ungkapan yang artinya setara dengan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Mungkin sebetulnya kondisi itu karena anak-anak melihat dan meniru. Apa yang dilihat setiap hari otomatis menjadi kebiasaan dan membudaya. Pantas saja ajakan berupa contoh memiliki efek luar bias…

wulan bubuy10
AtomicEssay

AES39 Menyapa Rindu

Cerah pagi ini menemani aku yang berkendara menuju Mesri. Jalanan belum terlalu padat, sehingga cukup enak untuk dilalui dengan tidak terburu-buru. Ibuku duduk disamping dan menanyakan satu hal menarik tentang selera musikku. Mungkin baginya terdengar baru padahal kubilang ini sudah berlangsung cuk…

wulan bubuy20
AtomicEssay

AES 1540 Sebuah Perayaan

Kenapa topik kematian menjadi sebuah hal yang paling jarang diperbincangkan dan menjadi semacam hal yang tabu? Saya tidak terlalu mengerti jika itu dikaitkan dengan semacam rambu-rambu dalam hubungan sosial, tapi jika saya menyelami pengalaman pribadi, terutama akhir-akhir ini saya sangat lekat dal…

joefelus40