AES37 Yang Paling Menakutkan adalah...
Awalnya aku memikirkan hal lain untuk ditulis di essay yang ke-37 ini, tapi entah jari-jemari malah menuliskan apa yang aku pikirkan pada detik ini.
Jam segini baru bisa lepas dari anakku yang kedua, dia baru bisa tidur. Tapi, anakku yang pertama energinya masih banyak. Jam segini dia masih loncat di kasur, main mobil-mobilan, atau sekedar berjalan bolak-balik kamar, dapur, kamar. Sedangkan aku… tubuh ini sudah lelah, pikiran ini ingin diistirahatkan.
Oiya, malam Jumat. Di beberapa stasiun tv menayangkan acara horror, entah kenapa malam Jumat diidentikan dengan horror, menyeramkan, yang tak kasat mata dan kawan-kawannya. Ya, aku juga takut kalau sudah membahas cerita seram tetap aja merinding.
Tapi, menurutku ada yang lebih menakutkan dari yang tak kasat mata… Tahukah kalian apa itu? Perasaan dan pikiran kita!!
Ada yang mengatakan bahwa kita adalah apa yang kita pikirkan… Kalau kita selalu bisa berpikir positif, itu baik. Tetapi kalau kita berprasangka, perasaan, dan pikiran negatif tentang diri kita maupun orang lain, ini yang sangat menakutkan.
Misalnya saja, hingga kini, aku selalu memandang diri negatif dan tidak berharga. Tentu saja ini dipengaruhi pola asuh dan label yang diberikan orang terdekatku di masa kecil, label-label itu tampaknya mengakar dalam pikiranku.
Kenapa menakutkan? Karena ini bisa menghambat dan mematikan potensi yang ada dalam diri kita. Pikiran dan perasaan negatif inilah yang paling menakutkan.
Mungkin tanpa sadar, kita pernah melabel seseorang, "Tu anak bandel banget sih", "Masa gitu aja kamu ga bisa", "Dia emang gitu, sok pinter, pengen dipuji"... Bagi kita yang berkata, paling cuma selewat 'keceplosan' bicara… Tapi, jika kita sadar betul apa yang dirasakan oleh orang yang kita beri label tersebut, perkataan negatif itu akan terekam dalam memorinya, entah sampai kapan…
Hal ini berlaku ketika dalam kehidupan kita sebagai orangtua, ataupun sebagai guru. Hindari memberi label negatif pada anak, pikirkan dulu sebelum berkata, dan pandailah menjaga perasaan orang lain dan tentu, diri kita sendiri.
Seperti apapun kondisi kita, walaupun serba kekurangan, orang lain lebih dari kita, tetaplah berpikir dan berprasangka baik. Hal ini dapat menjadi energi baik untuk pikiran dan tubuh kita. Jangan matikan potensi kita, karena kita spesial. Setiap kita, unik. Setiap kita, hanya ada satu di muka bumi ini.
Setiap kita, berharga…
Salam,
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

Memasak Pelan-Pelan: Dapur Tradisional, Ritme Hidup, dan Pendidikan Rasa
Aku berdiri di depan hawu, memperhatikan api kayu yang perlahan menyala.Tidak ada suara klik tombol, tidak ada layar digital, tidak ada notifikasi yang mendesak.Hanya bunyi kayu terbakar, aroma daun pisang, dan gerak tangan yang sadar. Bersama Wa Asep dan Wa Eli dari Pamolahan Sangkuriang, aku bela…

AES93 Menulis Surat dari Hati
"This isn't contest from the head but gift from the heart." (Don't Sweat the Small Stuff: 58) Di era digital ini, di mana pesan instan dan email mendominasi komunikasi kita, ada sesuatu yang sangat pribadi dan berharga tentang menulis surat tangan. "Once a Week, Write a Heartfelt Letter" bukan hany…

AES74 6 Pelajaran Hidup dari Biji Kopi – Mengenal Jon Gordon dan Damon West
Apakah kamu pecinta kopi, penikmat kopi, atau ahli dalam dunia per-kopi-an? Jenis kopi apa yang kamu suka? Sebagai penikmat kopi, saya hanya tahu mana kopi yang kurang enak, enak, dan enak banget. Paling juga tanya-tanya sedikit dari orang lain yang lebih paham tentang jenis biji kopinya, dan senan…
