AES39 menghitung diskon..

Kemampuan numerasi sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari. Sejauh ini yang kerap membuat orang merasa enggan dan sulit, sepertinya adalah kemasannya. Pelajaran matematika dengan tingkat kesulitan yang terus bertambah, sementara dasar belum dipastikan fasih dan tidak aplikatif/jarang dikaitkan dengan kebutuhan sehari2.
Banyak cerita pengaruh guru pada suka atau tidaknya seseorang terhadap matematika. Jadi suka, tertarik, tertantang untuk ngulik karena sang guru dapat menjelaskan dengan baik; jelas tahapan, pas tingkat kesulitan dan asik. Ga sekadar menjelaskan secara monolog di papan tulis lalu memberi soal, seperti yang dulu aku alami =D. Jujurnya, baru kembali mempelajari, paham dan mulai menemukan keasikan saat perlu mengajar anak-anak.
Karena sifatnya yang eksak, hanya ada benar / tepat dan salah. Sebenarnya peta kemampuan jauh lebih mudah didapat. Sudah paham atau belum, bisa atau tidak. Ruang antaranya adalah upaya dan ketelitian. Meski rigid secara hasil, waspadanya jangan sampai jadi rigid secara proses berpikir. Kerap terjadi karena rumusan yang sudah baku, cara pikir pun jadi terlalu tertib, kurang fleksibel. Hal ini dimungkinkan lewat pendekatan yang menyenangkan dan kontekstual. Sejak usia dini tak masalah, membariskan mainan, mengurutkan besar kecil, menghitung jumlah kue, membagi pada adik, memasukkan ke dalam toples, menuang air dari botol ke beberapa gelas, memperhatikan dan menghitung jumlah kelopak daun, menganyam, membuat roncean berpola warna atau bentuk, dll. Semuanya memberi bekal untuk kemampuan mengolah / logika. Ketika sudah mulai masuk konsep, penting untuk memastikan pemahaman mantap di satu materi. Karena banyak materi saling berkait dan sinambung. Ketika ada kesulitan di satu materi, terlebih yang dasar, jadi berpengaruh. Agar paham benar, tetap perlu banyak bertemu dalam berbagai kegiatan sehari-hari. Tidak dibatasi di ruang kelas atau saat belajar. Ada dalam permainan, dalam berkarya, dalam tugas-tugas rumah, dll.
Bagaimana orangtua membangun kepekaan anak terhadap angka atau bilangan, data, logika di keseharian memainkan peran besar pula. Di taki-taki untuk membuka TP ini, orangtua berbagi pengalaman dan strategi yang dilakukan untuk membangun hal ini. Sebut saja bu Lei, (:D ijin ya bu @Lei ) bercerita tentang strategi 'tembak langsung' untuk mengasah ketrampilan hitung si Neng. Asik banget ini. Berdasarkan pengenalan terhadap tahap kemampuan anak dan materi yang dipelajari, ibu selalu mencolek anak untuk menghitung takaran resep, belanjaan, atau.. diskonan! jitu banget memang. Awalnya anak terlihat kesulitan karena baru di tatar tahu. Tapi setelah mantap dan sering ditembak, tentunya jadi semakin lancar.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES182 Kolaborasi Buku Anak
Pada Festival Literasi Tahun Pendidikan 21 yang mulai berlangsung ini, ada banyak program menarik. Salah satu yang baru adalah Kolaborasi Buku Anak. Undangan pertama untuk para penulis. Siapapun yang mau boleh menulis cerita bertema imajinatif untuk anak < 10 tahun. Ternyata cukup banyak yang me…

AES181 Terima Kasih!!
Festival Literasi TP 2024-2025 baru saja berakhir, penuh rasa dan syukur. Festival Literasi di Smipa bukan acara yang wah dalam arti mewah atau meriah saja. Yang ingin dicapai bukan sekadar wah. Banyak hal yang ingin kita sasar dan bangun lewat kegiatan ini. Jadi, apa yang membedakan Festival Liter…

AES180
Sudah cukup lama tidak mengunjungi akun Ivan Lanin. Biasanya pada periode merapot, saya suka melihat-lihat postingan beliau. Banyak dapat info perkembangan bahasa Indonesia yang jarang sekali dapat perhatian. Unggahan uda selalu menarik, dengan nuansa humor yang kocak, sekaligus mengajak pembaca be…
