AES45 Bubur dan Kebiasaan

Pagi tadi sewaktu sarapan kami membahas soal bubur diaduk atau gak diaduk. Sungguh pembahasan yang tak ada ujungnya ya? (Haha), kukatakan pada anakku kalau dulu aku gak suka diaduk karena membuat bubur menjadi cair (menurutku), tetapi lalu (lupa sejak kapan) aku mematahkan kebiasaan tersebut dengan mencoba mengaduknya. Kesan pertama yang kunikmati kala itu adalah ketidakjelasan bentuk, semua membaur hingga aku tak lagi bisa membeda mana ayam, cakwe, kerupuk, bawang goreng, kacang. Merasa aneh pun tidak, aku bisa memakan suap demi suap dan sejak itu aku bisa makan bubur diaduk dan tidak diaduk, tergantung sedang ingin yang mana. Ternyata sesederhana itu? Tanyaku yang masih terheran sendiri dengan apa yang kulakukan.
Soal kebiasaan, aku jadi bercerita panjang lebar tadi pagi pada anakku. Sebab musabab kenapa aku punya kebiasaan menyusun buku berdasarkan tema/genre/penulisnya, menyusun baju berdasarkan warna/jenisnya, sampai parkir kendaran yang harus sejajar dengan garis parkirnya. Anakku belum tahu saja kalau susunan feed instagramku juga kuatur landscape dan portrait dalam satu baris (hm, ini sejujurnya merepotkan sih, karena postingnya jadi harus bersamaan). Dan, pada akhirnya aku mulai menggeser 'kegilaan' tersebut, seperti soal aduk dan gak diaduk itu.
Kesimpulanku, masalahnya hanya pada mataku saja. Terbiasa menjemur berdasarkan kelompok celana, baju, dan sebagainya saja sudah cukup repot, apalagi ditambah warna-warna yang sama. Saat aku mengubah susunannya, persis kesan pertama bubur diaduk, mataku hanya butuh penyesuaian setelah itu semuanya gak lagi jadi masalah. Saya tertawa geli sendiri, karena upaya yang dulu kulakukan sebetulnya lebih untuk memanjakan visual, gak ada efek apapun sama sekali. Ya, kecuali soal selera, mungkin pembahasannya dicukupkan saja. Pendek kata, selesai.
Foto pinjam dari sini*
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES99 Suaka Paling Nyaman
Empat bulan kurang lima hari sejak anakku boarding, akhirnya aku mulai menemukan pola rutinku sendiri setelah beberapa saat aku seperti orang yang lagi belajar juggling. Apa kata yang tepat ya? Riweuh? Iya, riweuh berujung rudet. Dan baru aku tersadar kalau ternyata selama ini rutinitas yang aku la…

AES98 Melihat Sisi Positif
Tulisan ini berawal dari beberapa hari lalu aku dikirimin sebuah video yang bagiku terasa begitu menyayat hati, tentang seorang ayah yang menyuruh anaknya untuk membuang medali dan menyobek lembar sertifikat lomba yang diraihnya. Menurut sumber yang mengirimkan video, perlakuan itu karena sang anak…

AES97 Gerbang Kisah
Dua pekan yang lalu, sebelum jadwal penjengukan, akhirnya aku dan anakku bisa berbincang lewat gelombang suara. Lucu juga rasanya, padahal kesempatan seperti ini relatif longgar, tapi tetap saja menjadi sebuah momen yang ditunggu-tunggu. Di akhir pembicaraan, anakku bilang, ‘Bu, inget kan tulisan d…