AES465 Sulitnya Membangun Kesadaran #2

Melanjutkan tulisan terdahulu (Sulitnya Membangun Kesadaran #1), saya jadi merefleksikan soal kenapa dorongan diri saya untuk memilah sampah dan melakukan banyak hal lainnya cukup besar. Setidaknya cukup besar untuk mendorong diri saya melakukan apa yang saya lakukan sampai hari ini, seperti memilah sampah, membawa tumbler, menggunakan tas belanja kain dan lain sebagainya - yang mungkin sudah belasan tahun saya lakukan.
Saya juga mencoba berbagai bentuk pengolahan sampah termasuk membuat EcoBricks yang bagi banyak orang tidak masuk akal. Juga mendorong berdirinya koperasi yang sudah berjalan nyaris satu tahun - yang salah satu tujuannya adalah mengurangi kemasan dan mengurangi sampah. Gagasan tentang LeuKaS dan lainnya juga muncul dari berbagai bentuk kesadaran tentang lingkungan hidup kita yang semakin hari semakin rusak.
Kembali ke pertanyaan di atas, dari mana dorongan itu muncul? Kalau dipikirkan kembali, ini nyambung lagi dengan apa yang disebutkan oleh Aki Muhidin, Nyaho Can Tangtu Ngarti. Semuanya bermulai dari nyaho. Lalu dari mana saya tahu banyak tentang isu-isu lingkungan? Sepertinya dimulai di sekitar tahun 2009. Entah dari mana, saya tidak ingat, saya menonton filem Inconvenient Truth - yang dibuat oleh Al Gore. Filem itu sangat berdampak dan membawa kesan mendalam bagi saya. Saya ingat setidaknya saya menonton ulang filem tersebut hingga 3-4 kali. Filem itu yang membangunkan kesadaran saya bahwa lingkungan hidup kita sedang terancam - oleh apa yang dilakukan oleh kita sendiri umat manusia.
Filem itu mendorong saya untuk melihat kembali beberapa filem lainnya seperti The Age of Stupid, kemudian juga filem The Eleventh Hour - dan terakhir Before The Flood yang sempat kita buat NoBar-nya di Semi Palar beberapa tahun yang lalu. Jadi pengetahuan (nyaho) memang memegang peranan penting dalam membangun kesadaran seseorang. Pertanyaan berikutnya adalah pengetahuan seperti apa yang bisa membangun kesadaran? Nah yang ini agak sulit menjawabnya. Tapi dari pengalaman saya sendiri, butuh volume / bobot pengetahuan tertentu untuk mendorong seseorang sampai munculnya sebentuk kesadaran tertentu. Kenapa begitu? Karena pengetahuan sampai level tertentu bisa menghasilkan pemahaman tertentu dalam diri seseorang. Pemahaman kemudian jadi kunci juga. Cocok kan dengan apa yang disampaikan Aki Muhidin? Setelah Nyaho, perlu meningkatkan diri sampai ke level Ngarti.
Sama halnya dengan pengalaman saya tentang waktu hening / meditasi. Saat pengetahuan saya masih pas-pasan, saya hanya tahu bahwa meditasi itu penting, dan hanya sesekali melakukannya. Tapi setelah pemahaman saya cukup mendalam, saya punya motivasi cukup besar untuk melakukan meditasi setiap hari. Dari rutinitas ini kita bisa beranjak dari sekedar Bisa menuju Tuman. Begitu kira-kira. Bisa disimpulkan bahwa kesadaran memang tidak mudah dibangun. Tapi kita harus melampaui tahapan ini untuk bisa Ngajadi. Mari terus berproses. Salam.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES964 Berhenti Sejenak Merenungkan Kesadaran
Mudah-mudahan tidak terlalu berlebihan kalau Semi Palar menempatkan kesadaran sebagai esensi dari berbagai proses pembelajaran di Rumah Belajar kita ini. Sesuatu yang jarang disentuh di berbagai ruang pendidikan yang ada. Kenapa ini jadi bagian dari konsep pembelajaran di Semi Palar, ini bukan sok…

AES963 Oh...
DIksi singkat ini, 'Oh', sedang saya upayakan menjadi diksi yang banyak saya gunakan. Kenapa? Karena diksi ini membantu saya menempatkan segala sesuatu yang terjadi sebagai netral, Kenapa perlu netral? Sejauh ini saya meyakini bahwa menempatkan segala sesuatu secara netral adalah cara ampuh untuk m…

AES961 Shaken To The Core...
Dalam perjalanan kehidupan, dari waktu ke waktu, manusia akan diajak melalui jalan yang gelap, terjal dan menantang. Mendapatkan pengalaman yang mengguncang keyakinan yang telah dibangun sekian lama. Sesuatu yang tidak diduga, tapi ya, hal ini terjadi, tidak dapat dihindari.Bahasa Inggrisnya mungki…

