AES965 Sadar Kembali ke Akar
Tidak ada peristiwa kebetulan, termasuk saat berbagai hal mengarahkan kita semua masuk ke tema Kembali ke Akar... lebih tepatnya Sadar Kembali ke Akar... Beberapa peristiwa yang belakangan terjadi ternyata membawa kita untuk betul-betul Kembali ke Akar...

Pendidikan holistik yang kita coba kembangkan dan gulirkan sejak 20 tahun lalu membawa kita masuk dalam perjalanan panjang yang tak bosannya mengajak kita berhenti dan merenungkan apa yang sebetulnya perlu kita pahami dan hayati lebih jauh. Beberapa minggu terakhir ini - proses yang sama terjadi.
Pengalamannya sangat berbeda, sangat mengejutkan, bahkan menakutkan. Setelah peristiwanya sendiri mengendap, termasuk kekalutan pikiran dan emosi reda, bayangan dalam cermin dari peristiwa itu semakin jelas. Ya, peristiwa ini mengajak kita untuk kembali memahami secara mendalam, lebih utuh, tentang apa hakikat pendidikan holistik.
Pendidikan yang berikhtiar untuk menumbuh kembangkan anak-anak kita sebagai manusia seutuhnya - sebagaimana Sang Maha Pencipta memaksudkannya. Ini adalah kerangka berpikirnya, sudut pandang, paradigma mendasarnya... Kita perlu bisa menghargai setiap individu dengan segala keunikannya...
Ternyata - dalam perjalanan 20 tahun ini, kami jadi disadarkan bahwa hal ini bukan sesuatu yang mudah, sesuatu yang sederhana. Perlu kesadaran besar untuk bisa melakukan hal ini. Saat bicara kesadaran, kita perlu bisa melakukannya dengan melampaui kerja pikiran kita. Melihat dengan rasa, melihat dengan mata batin, menghubungkan jiwa kita yang di lapisan terdalam pada dasarnya memang terhubung... Ini adalah salah satu bentuk manifestasi spiritualitas manusia yang paling mendalam.
Dalam praktiknya yang paling sederhana, hal ini menantang kita untuk betul-betul menghargai setiap individu apa adanya... Menghargai, kemudian menjadi pagar bagi kita untuk tidak pernah melecehkan, merendahkan siapapun dengan alasan apapun... Didasarkan spiritualitas kita, kesadaran kita bahwa siapapun itu adalah makhluk ciptaan Tuhan - yang memiliki dimensi keTuhanan dalam dirinya, maka tidak ada hal apapun yang bisa membenarkan kita untuk memperlakukan orang lain dengan tidak hormat.
Lepas dari peristiwanya, pembelajaran mengenai hal ini menjadi lebih penting. Lagipula, semesta tidak punya kamus positif atau negatif. Peristiwa adalah peristiwa. Saat pengalaman yang terjadi mencatatkan sesuatu yang bermakna dalam ruang batin kita, semestinya saat itulah satu kepingan kesadaran lagi telah bisa kita dapatkan. Salam.
Photo by Stephen Leonardi: https://www.pexels.com/photo/entangled-tree-roots-in-forest-landscape-28615098/
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES964 Berhenti Sejenak Merenungkan Kesadaran
Mudah-mudahan tidak terlalu berlebihan kalau Semi Palar menempatkan kesadaran sebagai esensi dari berbagai proses pembelajaran di Rumah Belajar kita ini. Sesuatu yang jarang disentuh di berbagai ruang pendidikan yang ada. Kenapa ini jadi bagian dari konsep pembelajaran di Semi Palar, ini bukan sok…

AES963 Oh...
DIksi singkat ini, 'Oh', sedang saya upayakan menjadi diksi yang banyak saya gunakan. Kenapa? Karena diksi ini membantu saya menempatkan segala sesuatu yang terjadi sebagai netral, Kenapa perlu netral? Sejauh ini saya meyakini bahwa menempatkan segala sesuatu secara netral adalah cara ampuh untuk m…

AES567 Oblivious
Ini salah satu tulisan yang sudah lama sekali tertunda. Baru teringat bahwa tulisan ini terabaikan saat migrasi ke SIMPUL... Tulisan yang kemudian saya pindahkan ke draft - karena sebelumnya di Ririungan 2.0 fitur draft ini memang tidak tersedia. Jadi mudah sekali terlewat kalau ada tulisan yang be…

