AtomicEssay

AES55 Menenangkan Pikiran dan kesabaran

wulan bubuypenulis arsip2

Salah satu hal yang paling sering kulakukan adalah menarik jeda sejenak untuk berkontemplasi dari setiap laku dan peristiwa yang terjadi. Sebab, aku masih terlalu mudah meletakkan kekhawatiran melalui perubahan mimik yang gak menyenangkan bagi oranglain. Jika nada suara masih bisa secara cepat kusadari perubahannya, mimik ini yang tersulit dan membutuhkan waktu lebih banyak untuk kembali melepaskan ketegangan otot-otot di muka. 

Sependek pengetahuanku mengenai skema berpikir, otak kita ini mengumpulkan informasi-informasi seperti bank data. Maka, ketika kita dihadapkan pada sebuah masalah, lalu dituntut untuk segera memutuskan tindakan apa sebaiknya yang diambil, otak kita akan memberikan informasi berdasarkan pengalaman terdahulu. Hal ini seperti jalan pintas tanpa melewati proses menganalisa. 

Bisa jadi, aku yang terbiasa segalanya serba terstruktur dan terencana, begitu bertemu hal diluar kebiasaan, ada kecenderungan melawan. Itulah sebabnya kenapa aku perlu lompat ke aktivitas lain (minimal berdiam diri) sebagai usaha memberi jeda. Distraksi yang mendistorsi pikiran dimaksud untuk memperlambat atau menghentikan. Kalau gak begitu, jalan pikiran yang teramat sibuk akan semakin sulit ditenangkan ditambah mimik muka yang gak bisa berbohong, pasti menjadi sebuah paket komplit di ujung hari. 

Dan aku baru tersadar bahwa menenangkan pikiran anak yang baru punya dua digit dalam usianya ternyata harus lebih hati-hati. Saat kupikir dengan diamku akan lebih menenangkan ternyata tidak. Banyaknya prasangka ini kurasa karena mereka sedang memiliki banyak konflik di dalam diri yang juga sulit untuk dipahami di usianya. 

Setelah banyak berbincang dengan dua kawan lama, aku teringat pada cara yang diajarkan padaku dulu yaitu dengan duduk diam selama dibutuhkan sampai merasa tenang. Kata tenang disini bisa dirasakan melalui debar jantung yang melambat. Saat ini dilakukan biasanya aku akan lebih mudah melihat emosi apa yang muncul dan sejauh apa aku perlu bertindak. Kadang kala malah merasa tidak perlu melakukan apa-apa. 

Lalu aku mendapat pertanyaan dari anakku tepat di hari ini adalah bagaimana caranya agar bisa bersabar? Sejujurnya ini sesuatu yang berkaitan dengan ketenangan pikiran yang kujelaskan diatas, tetapi teramat sulit untuk kujelaskan padanya. Tak berselang lama aku menemukan sebuah cuplikan video (lama) yang diposting oleh dr. Zaidul Akbar, disitu diperlihatkan dua orang yang sedang berusaha. Ada yang usahanya sedikit sehingga terlihat mudah, tetapi ada yang usahanya perlu waktu yang panjang dan dirasa teramat sulit. Usai ia melihat video tersebut kutanya apa pendapatnya? Ia menjawab, "Iya ya, padahal ia punya sesuatu yang lebih besar dari pada itu, tapi karena melihat yang lain lebih cepat dia menginginkan juga hal yang sama". 

Analisa yang tepat membuatku yakin kesadaran akan dirinya sudah muncul, tantangan berikutnya bagiku adalah memaksimalkan kemampuannya untuk bertahan di setiap keadaan.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES99 Suaka Paling Nyaman

Empat bulan kurang lima hari sejak anakku boarding, akhirnya aku mulai menemukan pola rutinku sendiri setelah beberapa saat aku seperti orang yang lagi belajar juggling. Apa kata yang tepat ya? Riweuh? Iya, riweuh berujung rudet. Dan baru aku tersadar kalau ternyata selama ini rutinitas yang aku la…

wulan bubuy44
AtomicEssay

AES98 Melihat Sisi Positif

Tulisan ini berawal dari beberapa hari lalu aku dikirimin sebuah video yang bagiku terasa begitu menyayat hati, tentang seorang ayah yang menyuruh anaknya untuk membuang medali dan menyobek lembar sertifikat lomba yang diraihnya. Menurut sumber yang mengirimkan video, perlakuan itu karena sang anak…

wulan bubuy22
AtomicEssay

AES97 Gerbang Kisah

Dua pekan yang lalu, sebelum jadwal penjengukan, akhirnya aku dan anakku bisa berbincang lewat gelombang suara. Lucu juga rasanya, padahal kesempatan seperti ini relatif longgar, tapi tetap saja menjadi sebuah momen yang ditunggu-tunggu. Di akhir pembicaraan, anakku bilang, ‘Bu, inget kan tulisan d…

wulan bubuy42