AES58 Fasilitas Duduk (?)

Kemarin ibuku memanggil tukang untuk memperbaiki sofa ruang tamu. Aku jadi ingat sewaktu kuliah pernah diberi tugas membuat fasilitas duduk (mock up 1:5) dan easy chair (1:1) di mata kuliah desain Meubel. Aku suka sekali mata kuliah ini, karena jadi paham secara terperinci faktor apa saja yang berpengaruh terhadap sebuah desain seperti ergonomi, sejarah meubel, sampai perhitungan ongkos kerja.
Sewaktu membuat fasilitas duduk, aku membuat mock up dari bahan pipa aluminium dan kain. Sempat bertanya-tanya juga kenapa disebutnya fasilitas duduk? Kenapa tidak secara spesifik saja disebut kursi atau sofa. Ternyata alasannya agar sisi kreatifitas kita bisa keluar lebih maksimal. Sebab, dengan menyebut fasilitas duduk diharapkan apapun bentuknya, bagaimana pun desainnya, selama memiliki fungsi untuk digunakan sebagai fasilitas duduk berarti sudah mencakup materi pembelajaran.
Eksplorasi material adalah tujuan berikutnya. Jika fasilitas duduk lebih mengekplorasi bentuk, maka saat mendesain easy chair dibebaskan untuk mencari material sesuai dengan keterkaitan desain. Hal berikutnya yang tak kalah penting adalah menganalisis ergonomi yang pas untuk easy chair.
Easy chair atau kursi malas harus memiliki sudut kemiringan sandaran yang cukup nyaman untuk menyangga punggung (persisnya aku lupa) sekitar 105° kalau tidak salah. Uniknya, easy chair ini bisa saja dibuat tanpa armrest, yang penting sewaktu kita duduk posisi lutut dan punggung terasa rileks. Ini juga yang menjadi faktor utama penilaian, ngeceknya ya diduduki. Kalau nyaman nilainya baik.
Berbeda dengan sofa atau lounge chair yang rasanya memang tidak diperuntukkan bagi kita berlama-lama duduk disana. Jadi kalau mau nyari posisi enak untuk bersandar dengan posisi ngaleugeuday (apa ya bahasa Indonesianya? ) agak sulit tentunya.
Nah, yang terakhir tentunya membuat gambar kerja. Konon, sebagai orang yang mendesain harus juga tahu cara pembuatannya. Meski pada saat bekerja aku cukup jarang juga mendesain kursi/sofa, lebih seringnya beli. Kecuali untuk desain khusus (built-in furniture) seperti banquette sitting. Gak serumit sofa karena gak perlu memakai webbing.
Jadi, aku nih teorinya tahu tapi kalau disuruh memperbaiki aku pilih panggil tukang saja. Haha. Alasannya spesifik, takut setelah dibongkar banyak "surprise"nya. Masalahnya, memperbaiki atau memodifikasi meubel itu menurutku lebih banyak risikonya dibanding bikin baru karena kita gak pernah tahu saat materialnya dibongkar kondisinya masih bisa dipakai atau sudah harus ganti? Ini sih yang jadi penyebab rasa malas ngerjain sendiri .
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES99 Suaka Paling Nyaman
Empat bulan kurang lima hari sejak anakku boarding, akhirnya aku mulai menemukan pola rutinku sendiri setelah beberapa saat aku seperti orang yang lagi belajar juggling. Apa kata yang tepat ya? Riweuh? Iya, riweuh berujung rudet. Dan baru aku tersadar kalau ternyata selama ini rutinitas yang aku la…

AES98 Melihat Sisi Positif
Tulisan ini berawal dari beberapa hari lalu aku dikirimin sebuah video yang bagiku terasa begitu menyayat hati, tentang seorang ayah yang menyuruh anaknya untuk membuang medali dan menyobek lembar sertifikat lomba yang diraihnya. Menurut sumber yang mengirimkan video, perlakuan itu karena sang anak…

AES97 Gerbang Kisah
Dua pekan yang lalu, sebelum jadwal penjengukan, akhirnya aku dan anakku bisa berbincang lewat gelombang suara. Lucu juga rasanya, padahal kesempatan seperti ini relatif longgar, tapi tetap saja menjadi sebuah momen yang ditunggu-tunggu. Di akhir pembicaraan, anakku bilang, ‘Bu, inget kan tulisan d…