AES59 Secukupnya.

Bulan Ramadhan dan Hari Raya Iedul Fitri yang telah lalu, memberi saya inspirasi untuk tulisan ini. "Secukupnya."
Bulan Ramadhan baru dimulai, tapi rata-rata tempat makan sudah full booking untuk acara buka bersama... Berlebihan.
Dari awal bulan Ramadhan, Ibu mertua sudah menjadwalkan setiap hari selama satu bulan tersebut untuk menerima katering dan membuat kue lebaran, sampai H-1 lebaran, dapur rumah selalu 'ngebul' dari pagi sampai pagi lagi... Eh, pas hari lebaran, setelah shalat Ied, beliau langsung tertidur pulas... Berlebihan.
Dari awal bulan Ramadhan, Ibu-Ibu sudah mulai sibuk mencari dan belanja kain ke Pasar Baru untuk persiapan baju lebaran,,, pokoknya katanya baju lebarannya harus seragam satu keluarga... Berlebihan.
Dan masih banyak cerita lainnya...
Secukupnya.
Harapan dan semangat, secukupnya.
Ketika kamu memiliki harapan berlebihan dengan meluapkan semangat yang berlebihan pula, jika kenyataan tidak sesuai harapan tersebut, jatuhnya akan lebih sakit, bangun kembali akan lebih sulit.
Mendengar dan melihat, secukupnya.
Di era digital dan melimpahnya berbagai macam informasi, justru membuat kita bias akan informasi yang benar, original, atau yang sudah ditambah bumbu penyedap. Mendengar, membaca informasi dengan menelaah kebenarannya. Tidak perlu semua diserap.
Menerima dan memberi, secukupnya.
Dalam hal apapun, termasuk energi. Hukum termodinamika pertama menyebutkan, bahwa siklus merupakan keadaan dimana kondisi akhir sama dengan kondisi awal dengan nilai energi total nol.
Mengambil prinsip magnet, jika kutubnya beda jenis maka akan tarik menarik. Saya pikir, jika saya terlalu menghasilkan energi positif, maka saya akan menarik energi negatif yang sama besarnya. Duh, saya tidak siap! Jadi, saya mengganti penamaan dengan 'energi baik'... (^.^)v
Belajar, secukupnya.
Baca: Setiap dari kita akan membutuhkan waktu dan proses yang berbeda dalam belajar, mempelajari sesuatu, dan mencerap suatu ilmu baru. Namun, penting untuk kita bijaksana dalam menentukan sasaran dan tujuan dari proses belajar itu. Semua yang kita pelajari seperti kepingan puzzle, perlu memilah mana kepingan yang cocok untuk dipadukan dengan kepingan lain yang sudah kita punya, untuk mendapatkan gambaran utuh tentang hal yang kita pelajari.
Menulis, secukupnya.
Misalnya menulis rapor, informasi tentang perkembangan anak dituliskan secukupnya, cukup memberikan informasi. Yang dibutuhkan adalah kecakapan untuk mengaitkan data per aspek perkembangan, apa yang harus dibangun, dan bagaimana rekomendasi saran untuk orangtua, supaya hasilnya efektif dan tepat sasaran.
Contoh lain, menulis AES... Satu halaman, satu kalimat, bahkan satu baris. Boleh loh! Secukupnya. Cukup untuk membuat kamu konsisten menulis. (reminder untuk diri sendiri)
Melalui tulisan ini juga saya bermaksud mengajak teman-teman Ririungan untuk membukakan pintu maaf secukupnya untuk saya.
Jika berlebihan, itu artinya kalian membuka pintu lebar-lebar untuk saya berbuat kesalahan lebih besar... (^.^)v
Mohon maaf lahir batin...
Salam,
Oiya, saat mencari gambar, saya malah menemukan sebuah video lyrics berjudul "Secukupnya" dari Hindia. Liriknya menarik...
Komentar (2)
Waah senangnya melihat tulisan kak Fifin kembali lagi setelah sekian lama... Nuhun pisan. Nanti saya respon tulisannya dengan tema yang sama - saya juga sedang berpikir tentang 'cukup' ini ... Nuhuun.
Aku suka banget sama lagu Hindia "secukupnya" ini, sangat reflektif
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES63 Algoritma Kehidupan
Algoritma... Sering mendengar, bukan? Ketika kita membuka sosial media atau sebuah laman website, sistem komputer secara otomatis akan membaca pergerakan kita hanya berbekal dari hal yang kita lihat atau tautan yang sering kita buka. Pernahkah suatu ketika, kamu mencari sebuah produk di market plac…
AES57 Puisinya atau Tulisannya?
Sebuah gambar quote yang dikirim Kak Andi di suatu pagi, seketika menyadarkan saya akan suatu hal yang sedang bergumul dalam batin dan benak. Bagaimana tidak, memasuki sebuah lingkungan baru membuat saya otomatis menyesuaikan diri dengan budaya dan kebiasaan di tempat tersebut. Sama halnya dengan t…

Memasak Pelan-Pelan: Dapur Tradisional, Ritme Hidup, dan Pendidikan Rasa
Aku berdiri di depan hawu, memperhatikan api kayu yang perlahan menyala.Tidak ada suara klik tombol, tidak ada layar digital, tidak ada notifikasi yang mendesak.Hanya bunyi kayu terbakar, aroma daun pisang, dan gerak tangan yang sadar. Bersama Wa Asep dan Wa Eli dari Pamolahan Sangkuriang, aku bela…


