AtomicEssay

AES60 Obrolan Sahur (15/16)

wulan bubuypenulis arsip2

Makan sahur bagi anakku masih jadi tantangan yang lumayan berat, karena lagi enak tidur harus bangun dan makan. Setidaknya butuh beberapa menit dulu untuk benar-benar bangun dan makan berat. Pernah juga ia bertanya tentang kenapa harus sahur? Belum kuberikan alasan dari nilai kebaikannya sih, aku masih memberi alasan agar badan tetap nyaman beraktivitas seharian dalam keadaan berpuasa.

Memasuki hari ke limabelas, mulailah menu berputar macam monopoli setelah satu putaran kembali ke start, dari yang awalnya makan bisa secepat kilat, mulai melambat dan semakin melambat. Akhirnya aku berkompromi karena makanan kesukaannya sudah muncul dua kali, aku yakin pasti mulai bosan. Kami pun menyusun daftar menu baru untuk lima belas hari berikutnya. Rasanya seperti kembali ke masa anakku belajar makan, yang mana harus berbeda menu setiap makan. Sisi akrobatku ditantang kembali. Hihi..

Dalam rangka menghibur anakku yang masih menyuap dengan lambat aku bercerita soal makanan halal dan thoyyib. Aku memintanya menebak makanan apa yang halal tapi gak thoyyib? Anakku bilang gak ada, semua yang halal kan pasti thoyyib. Lalu kubilang ada, mie instant! Haha.. dan lalu dia berbelok pada proyek akhirnya yang mengangkat tema rumah tradisional beserta ketahanan pangan dan olahan limbahnya. Tumpahlah konsep permakultur dalam obrolan di meja makan saat sahur tadi.

Katanya, 'Aku ngerti sekarang kenapa permakultur itu baik, karena kita tahu sejak ditanam, dipelihara hingga masa panen, sampai cara mengolahnya menjadi makanan siap saji", ya betul kataku. Seperti konsep thoyyib itu sendiri yang berarti membawa manfaat yang baik, tak hanya bagaimana makanan tersebut diolah, tetapi sejak mula bahkan sampai bagaimana cara memakannya pun bisa mendatangkan banyak kebaikan.

Rasanya bahagia deh anakku gak cuma sekedar menghafal tetapi memahami konsep. Memang beda hasil capaian dari cara belajar holistik itu. Meski ada beberapa hal yang terasa lambat, tetapi akhirnya bisa membuat anak memahami secara menyeluruh. Seperti hari ini, awalnya ngomongin menu jadinya malah melebar kemana-mana bahasannya. Meski dilakukan dengan santai tetapi berisi dan penuh makna. Masyaa Allah, semoga anak-anak di rumah belajar dapat selalu mengambil hikmahnya. Tak hanya sekedar memenuhi haknya sebagai pembelajar, tetapi juga membawa kebermanfaatan bagi oranglain.

Foto pinjam dari sini  

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES99 Suaka Paling Nyaman

Empat bulan kurang lima hari sejak anakku boarding, akhirnya aku mulai menemukan pola rutinku sendiri setelah beberapa saat aku seperti orang yang lagi belajar juggling. Apa kata yang tepat ya? Riweuh? Iya, riweuh berujung rudet. Dan baru aku tersadar kalau ternyata selama ini rutinitas yang aku la…

wulan bubuy44
AtomicEssay

AES98 Melihat Sisi Positif

Tulisan ini berawal dari beberapa hari lalu aku dikirimin sebuah video yang bagiku terasa begitu menyayat hati, tentang seorang ayah yang menyuruh anaknya untuk membuang medali dan menyobek lembar sertifikat lomba yang diraihnya. Menurut sumber yang mengirimkan video, perlakuan itu karena sang anak…

wulan bubuy22
AtomicEssay

AES97 Gerbang Kisah

Dua pekan yang lalu, sebelum jadwal penjengukan, akhirnya aku dan anakku bisa berbincang lewat gelombang suara. Lucu juga rasanya, padahal kesempatan seperti ini relatif longgar, tapi tetap saja menjadi sebuah momen yang ditunggu-tunggu. Di akhir pembicaraan, anakku bilang, ‘Bu, inget kan tulisan d…

wulan bubuy42