AtomicEssay

AES60 pustaka hidup

innocentiainepenulis arsip2

Bila asupan bagi badan adalah makanan, asupan bagi pikiran adalah ide atau gagasan. Seperti tubuh, pikiran juga ingin bertumbuh, tidak makan asal kenyang, tapi perlu makanan yang bernutrisi. Anak-anak bisa memperoleh suplai gagasan-gagasan inspiratif, ide-ide hebat, dalam ragam sekaya itu dari buku-buku. Tidak semua buku mengandung nutrisi yang sama. Pustaka hidup ini seperti makanan segar yang sarat dengan enzim.” ~ Charlotte Mason

Menggugah sekali pernyataan ini. Jarang sekali kita betul-betul memperhatikan buku yang akan kita, atau anak-anak kita baca. Buku dapat menghidupkan kemampuan mencerna, kemampuan berpikir bila mengandung ide-ide hidup, yang menggerakkan anak untuk mengingat, merenungkan, atau memvisualisasikannya. Bila isinya tidak sekadar menyajikan ampas atau ringkasan fakta yang tidak lagi menggugah rasa atau pikiran. Buku juga dapat menghidupkan rasa bahasa, memperkaya perbendaharaan kata, pengenalan kalimat dengan segala tata bahasanya, bila ditulis oleh orang yang kompeten di bidangnya, disampaikan dengan bahasa yang baik dan indah. Kriteria lain dari pustaka hidup khususnya untuk anak adalah bila penulisnya tidak meremehkan pembaca ciliknya dengan hanya memakai kata-kata atau kalimat-kalimat yang terlampau disederhanakan.

Istilah pustaka hidup ini, mengacu pada karya-karya klasik dari para penulis besar seperti HC Andersen, Rudyard Kipling, Orcar Wilde, Mark Twain, Charles Dickens, dll. Tentunya dibutuhkan terjemahan yang juga berkualitas agar tidak kehilangan daya hidupnya. Meski ada terjemahan yang baik, tentunya anak Indonesia tetap perlu kenal dengan karya sastra Indonesia, dengan keindahan bahasanya, dengan konten yang sesuai budaya Indonesia. Menurut saya, cukup banyak sastrawan Indonesia seperti Pramodya Ananta Toer, NH Dini, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Suyadi, Arswendo Atmowiloto, Andrea Hirata, Tere Liye, Clara Ng, dll., yang menghasilkan karya-karya yang punya daya hidup. Namun dengan banyaknya pengarang baru saat ini, tentunya perlu semakin dapat memilah dan memilih.

Yang kemudian jadi berpengaruh dalam memilih buku adalah pengalaman membaca kita sendiri. Karena tiap individu pastinya punya preferensi yang berbeda. Setiap anak juga berkembang dengan minat atau ketertarikan, nilai dan situasi keluarga yang berbeda. Namun dengan sering membaca, kita akan semakin tahu konten dan bahasa yang baik. Terlebih dalam memilihkan buku untuk anak. Mudah-mudahan hal-hal yang dapat membuat membaca lebih bermanfaat tadi, turut menjadi pertimbangan.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES170 Hari H ke-2

Hari kedua Festival Literasi diawali dengan membaca bersama semua jenjang, Jabawaskita. Dihiasi gerimis yang datang dan pergi sejak pagi, lapang rumput dan teater tidak dapat digunakan. Demikian pula longpus yang sedang digunakan untuk bursa. Jadilah seluruh penjuru pendopo dan selasar depan kelas…

innocentiaine40
AtomicEssay

AES169 Hari H

Saat bangun pagi ini, aku memandang langit yang putih merata, sambil terus berharap cuaca cerah, paling tidak untuk pagi ini saja.. Memang matahari tidak tampak bersinar cerah, bahkan hujan gerimis menemani saat aku bersiap dan di jalan menuju sekolah. Masih berdoa supaya cuaca baik-baik saja ketik…

innocentiaine91
AtomicEssay

AES166 Kitab Cerita

Setelah mengobrol tentang beberapa penulis dan pencerita yang dapat menjadi nara sumber untuk festival literasi mendatang, ka Wit meminjamkan buku Kitab Cerita, Esai² Anak dan Pustaka, karya Setyaningsih. Wah punya bacaan untuk mengisi akhir pekan nih. Sudah cukup lama tidak membaca tentang pustaka…

innocentiaine50